Senin, 10 April 2017

Gadis Seruling 2


Bagian 2

Gumira sudah menemukan si gadis seruling saat ia baru berada di tengah desa, tepatnya di depan Kantor Desa Bahara. Ia melihat si gadis seruling mengenakan pakaian rapi. Di depannya seorang lelaki muda berwajah bersih berdiri dan kelihatan sedang mengobrol dengan salah seorang pegawai desa. Gumira lantas mengubah arah tujuannya. Ia masuk ke halaman kantor desa, melangkahkan kakinya menuju ke titik terdekat dengan si gadis seruling.

Awalnya Gumira berniat melambaikan tangan sambil memanggil si gadis seruling, tapi ia urungkan. Ia melihat si gadis seruling juga rupanya tengah di tengah percakapan dengan pegawai desa lainnya. Maka ia putuskan untuk menunggu si gadis seruling melihatnya saja, sambil ia duduk di bangku taman di halaman kantor desa. Bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya ia taruh di atas bangku. Dalam hatinya, Gumira sudah tidak sabar untuk bercengkrama dengan si gadis seruling. Ia merasa dadanya membuncah dan ingin segera melihat wajah si gadis seruling. Matanya tak pernah ia lepaskan dari sosok yang didambanya.

Tak lama kemudian, si gadis seruling tampak selesai berbincang dengan pegawai desa, begitu pula lelaki muda di depannya. Mereka kelihatan pamit pada pegawai desa itu, lalu berbalik dan undur diri. Mereka meninggalkan halaman kantor desa.

Gumira melambaikan tangannya pada si gadis seruling. Dalam hatinya ia sangat yakin jika gadis seruling itu akan menyadari keberadaannya, tapi yang terjadi justru si gadis seruling itu hanya berjalan lurus, tanpa menghiraukan lambaian dan sapaan yang diberikan Gumira. Gadis itu seperti tidak melihat Gumira sama sekali, padahal hanya ia yang ada di bangku itu, terlebih di halaman desa yang besarnya mungkin cuma 10 x 10 meter saja.

Setelah tak melihat lagi si gadis seruling, Gumira lantas bangkit dari bangku itu. Ia berdiri dan menampar wajahnya sendiri. Ia merasa dirinya harus berpikir positif : mungkin si gadis seruling memang tak melihatnya. Maka dari itu, ia segera mengambil bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya dan bergegas pergi meninggalkan halaman kantor desa, menuju sawah dimana ia selalu bertemu dengas si gadis seruling.

Sampai di sawah, ia mendapati gubuk yang biasa menjadi lokasi pertemuan mereka kosong. Hanya sarung dengan motif kotak - kotak dan bantal lusuh yang ada di sana. Gumira tak menghiraukan kondisi itu. Ia bergegas ke sana, duduk bersila kaki, dan menaruh bingkisan yang dibawanya di dekat tiang gubuk. Ia akan menanti kedatangan si gadis seruling. Ia yakin sekali gadis itu akan datang ke sawah hari ini, seperti sebelumnya.

Hingga mentari berjalan ke ujung peraduannya, Gumira tak jua mendapati sosok si gadis seruling. Gubuk dan sawah hanya itu hanya berisi keheningan dan angin. Tanpa sapa apalagi nyanyian seruling yang merdu yang sebelumnya ia dengar. Ia menghela napas sejenak, memandang langit, lalu duduk bersandar ke salah satu tiang gubuk. Ia masih berniat menanti si gadis seruling.

"Sedang apa di sini, kang Gumira?" Sapa seorang warga tatkala Gumira tengah mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Warga itu membawa bakul berisi peralatan makan yang kosong dan memakai tudung dari anyaman bambu.

"Sedang nunggu si gadis seruling, bu. Ibu tahu dia dimana? Saya sudah menunggunya dari tadi siang, tapi tidak datang juga, padahal biasanya dia ada di sini." jawab Gumira sambil melipat sapu tangannya.

"Gadis seruling?" Tanya warga desa sembari mengangkat cetoknya sedikit. Peluh dan debu yang mengering menghiasi wajahnya. Gurat wajahnya terlihat lelah.

"Iya." Gumira menunjuk sawah di sekelilingnya, "biasanya dia diam di sini, meniup seruling sambil menarik tali ini." imbuhnya sambil menarik tali yang terhubung dengan boneka sawah dan lonceng kaleng. Seketika, boneka sawah dan lonceng - lonceng itu bergetar, menghasilkan bunyi bising yang mengusir burung - burung.

"ibu tak tahu siapa gadis seruling itu, tapi kalau anak gadis yang suka duduk di sawah ini namanya Widia, putrinya Pak Safri, rumahnya ada di ujung desa." jawab si warga desa sambil tersenyum dan menunjuk ke arah ujung Desa Bahara.

Gumira tidak melihat perumahan di arah yang dituju oleh si warga desa. Ia hanya mendapati hamparan sawah, pohon kelapa dan pohon lainnya yang menggunung. "Dimana bu? Bukannya itu cuma bukit?"

"Di balik bukit itu ada RT 13, di sana batas Desa Bahara dengan Desa Hujungtiwu dan Desa Panjalu, rumah Widia ada di sana, Kang Gumira." Si ibu menjelaskan dengan sabar.

Mendengar informasi yang begitu jelas itu, Gumira lantas berterima kasih pada si warga desa. Ia segera menggunakan sandalnya, dan bergegas berlari meninggalkan gubuk itu. Ia tidak sabar ingin bertemu, berbincang dan mendengar kembali nyanyian seruling Widia yang merdu.

Dalam perjalanannya menuju RT 13, Gumira tidak menghiraukan sapaan beberapa orang warga desa berpakaian rapi yang mengenalnya. Ia hanya berlari dan terus berlari menuju salah satu rumah di RT 13, rumah Widia. Ia ingin segera bertemu dengan dara itu. Dadanya terasa menggebu, dan napasnya menderu.

Sampai di puncak bukit, Gumira melihat perkampungan kecil di bawahnya. Hatinya terasa lega. Ia segera berjalan menuruni bukit itu, melewati jalanan dan orang - orang berpakaian rapi. Wajahnya hanya tertuju pada rumah pertama yang ia dapati di muka kampung. Rumah itu ramai oleh orang - orang berpakaian rapi. Mereka berkumpul di sekitarnya, membawa bakul, menenteng bingkisan yang di bungkus dengan plastik hitam. Para lelaki yang hadir di sana asyik berbincang sambil menghisap rokok kretek dan meneguk kopi hitam panas. Gumira berniat menanyakan lokasi rumah pak Safri pada salah satu dari orang - orang itu.

Sebelum bertanya, Gumira terlebih dahulu menghentikan langkahnya. Ia merapikan pakaiannya, rambutnya, celananya dan bingkisannya. Ia juga mengatur napasnya yang memburu, dan degup jantungnya yang menggebu. Ia menenangkan dirinya sembari memerhatikan beberapa orang dari kerumunan itu. Ia tengah memilah pada siapa ia akan menanyakan perihal rumah pak Safri tadi.

Setelah napas dan jantungnya tenang, juga pakaiannya nyaris kembali rapi seperti sedia kala, ia mulai mendekati kerumunan itu. Ia sudah memutuskan untuk bertanya pada seorang hansip berpakaian lengkap yang duduk di dekat pohon jambu. Hansip itu sedang menikmati sepiring pisang goreng yang baru saja diantarkan padanya.

"Punten, pak, bisa saya bertanya?" Tanyanya.

Si hansip menoleh sambil mengunyah potongan goreng pisang di dalam mulutnya. Ia mengangguk.

"Kalau rumah pak Safri di mana ya? Katanya ada di RT 13..." Gumira melanjutkan ucapannya.

Si hansip terlihat sedang menghabiskan kunyahannya untuk bisa bicara, tapi jari telunjuknya sudah lebih dulu mengarah ke rumah yang sejak awal sudah dilihat Gumira. Rumah yang dikerubungi banyak orang berpakaian rapi.

"Ini rumahnya, kang." tutur si hansip setelah selesai menelan isi mulutnya.

Gumira mengucapkan terima kasih pada hansip itu, tapi ia merasa heran dengan kerumunan ini. Tanpa maksud untuk kembali mengganggu acara makan pisang si hansip, Gumira bertanya sekali lagi, "ini ramai - ramai ada acara apa ya, pak?"

"Oh ini acara empat bulanannya neng Widia. Mangga ke dalam saja, kang. Akang temennya neng Widia sama Kang Rudi kan?" Hansip itu mempersilakan Gumira masuk ke dalam rumah.

Mendengar berita itu, Gumira serasa dirinya disambar petir di siang bolong. Ia merasa berat untuk melangkah. Kakinya yang tadi ia gunakan berlari, kini terasa seperti pasak yang menancap ke tanah. Tangannya yang memegang sapu tangan meremasnya begitu keras. Peluh dingin mengalir membasahi punggungnya, merembes ke kemeja yang ia kenakan. Betisnya bergetar, begitu pula pahanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kabar seperti ini.

Gumira berusaha keras mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin berbuat yang tidak - tidak di acara keluarga orang lain, apalagi ini adalah momen bahagia bagi gadis seruling yang ia puja itu. Ia berusaha melangkahkan kakinya ke depan, tapi sulit. Akhirnya ia berjalan mundur setelah berusaha berkali - kali. Ia merasa tak sanggup melihat gadis seruling pujaannya itu telah menjadi milik orang lain.

"Mau kemana, kang Gumira? Bukannya tadi akang menanyakan rumah pak neng Widia?" ujar seseorang di belakang Gumira. Sosok itu menahan langkah mundur Gumira. Ia adalah warga desa yang tadi menemui Gumira di gubuk sawah si gadis seruling.

"Akang temennya neng Widia kan? Ayo kita masuk sama - sama saja..." ajak warga desa itu seraya menarik tangan Gumira. Ia terlihat membawa bakul yang ditutupi kain batik bermotif awan mega mendung.

Gumira ikut begitu saja ke dalam rumah si gadis seruling. Ia tak kuasa menolak. Tubuhnya terasa lemas, seperti tanpa tulang belulang yang menjadi penopang. Ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, meski keringat dingin terus mengalir di dahinya. Ia merasa gelisah dan takut. Terlebih, ia merasa enggan untuk melihat lelaki yang menjadi pujaan dari gadis pujaannya. Ia tak bisa menerima itu.

"Kang Gumira..."

Gumira mendengar suara milik si gadis seruling. Suara yang merdu nan menawan. Ia rindu mendengar suara itu akhir - akhir ini.

"Kang Gumira, terima kasih sudah datang..." ujar si gadis seruling. Ia tersenyum pada Gumira. Lesung pipinya nampak seketika. Wajahnya yang oval, berhiaskan mata coklat, hidung mancung dan pipi yang kemerahan membuat sosok si gadis seruling terlihat memesona dalam pandangan Gumira. Si gadis seruling menerima bingkisan yang disodorkan Gumira dengan senang hati, lalu mempersilakannya menyantap hidangan. Di sisi si gadis seruling, tampak sosok pemuda yang tadi dilihat Gumira di kantor desa.

Pemuda itu memiliki perawakan yang tinggi, sekitar 170 cm. Kulitnya warna kuning langsat. Tubuhnya cukup berisi dan urat - urat tangannya terlihat kencang. Wajahnya oval, dengan hidung yang mancung, mata biru dan pipi yang bersih. Wajahnya memiliki kemiripan dengan si gadis seruling. Lalu rambutnya lurus dan diikat ke belakang. Pemuda itu tidak berkumis dan berjanggut. Ia mengenakan kemeja coklat muda dan celana hitam. Tampilan yang sederhana dan tampak bersahaja. Ia juga kelihatan ramah pada setiap orang yang datang, tak henti menyulam seulas senyum, mengiringi senyuman yang dilontarkan si gadis seruling.

Gumira duduk bersila kaki di dalam rumah. Di sampingnya warga desa yang tadi membawanya masuk juga duduk. Ia mulai menyentuh kue basah yang disajikan di piring - piring, sementara Gumira masih memandang lekat - lekat pada pemuda yang berdiri di samping si gadis seruling. Hatinya berdegup kencang. Dadanya panas. Tangannya terkepal. Ia merasa cemburu pada lelaki itu. Jika ia bisa, ia ingin merebut posisi itu sekarang juga.

"Ini bajigurnya, kang diminum dulu, nanti keburu dingin mah kurang enak..." ujar warga desa itu. Ia menyodorkan segelas bajigur yang masih mengepulkan asapnya pada Gumira. Ia mengetahui Gumira terus memandangi sosok pemuda di samping neng Widia. Ia tersenyum simpul. Senyum yang sulit untuk diterjemahkan.

"itu adiknya neng Widia, kang." si warga desa itu berujar sambil mengupas pisang, lalu melahapnya. Ia melirik Gumira lewat sudut matanya. Ia tersenyum simpul. "Suaminya bekerja di pelayaran. Pulangnya setahun dua kali kalau dapat libur, kalau tidak, pulangnya bisa setahun sekali, itu pun cuma 5 - 6 hari." imbuhnya sambil tetap melirik Gumira yang duduk di sampingnya.

Mendengar perkataan si warga desa, Gumira merasa hawa panas di dalam dadanya mereda, sedikit. Ia menghela napasnya. Pandangannya pada pemuda itu pun mulai mengendur, tidak setajam beberapa saat yang lalu. Dalam hati ia sedikit bersyukur bahwa pemuda itu adalah adik si gadis seruling.

Si warga desa tersenyum simpul lagi. Ia tampak menikmati emosi Gumira. Ia menebak bahwa Gumira menaruh hati pada neng Widia, tapi belum tahu jika gadis yang dipujanya itu sudah menikah dan sedang hamil. Ia mungkin akan sedikit menggodanya setelah acara ini selesai.

Setelah merasa cukup mengarahkan pandangannya pada pemuda di samping si gadis seruling, Gumira mulai meneguk bajigurnya. Ia mengambil goreng pisang lalu melahapnya. Perutnya sudah minta diisi sejak siang tadi. Ia memang masih tidak terima jika si gadis pujaannya telah dipersunting orang lain, tapi ia berpikir bisa melupakannya sejenak. Lagipula, lelaki itu sedang tidak ada di sini sekarang.

Waktu berlalu dan acara syukuran empat bulanan kehamilan Widia selesai. Semua tamu yang diundang pulang ke rumah mereka selepas sholat isya berjamaah. Sedangkan Gumira masih ada di sekitar sana. Ia ingin melihat si gadis seruling untuk kali terakhir hari itu. Ia berdiri tak jauh dari rumah Widia, bersama si warga desa.

Tak lama kemudian, Widia keluar dari rumahnya ditemani adiknya. Ia membawa nampan kosong dan mulai menaruh piring - piring kotor ke atasnya. Ia belum menyadari keberadaan Gumira.

"Hei..." Gumira menyapa Widia. Ia berjalan mendekat.

Si gadis seruling pun menoleh. Ia mendapati Gumira berdiri tepat di hadapannya. Ia menaruh nampan itu, lalu berkata, "iya, kang?"

"Kenapa tidak cerita soal ini? Kamu berniat membodohiku?" Gumira tak tahan untuk tidak melontarkan pertanyaan itu. Niat awal Gumira memang hanya ingin melihat wajah si gadis seruling untuk kali terakhir, tapi setelah melihatnya, ia tak tahan untuk tidak bicara dengannya. Namun, bukannya perkataan halus yang keluar, malah pertanyaan kasar seperti itu yang berhasil ia lontarkan. Dalam hatinya, Gumira mengutuk dirinya sendiri.

Si gadis seruling tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya, lalu berucap halus, "aku tidak berniat membodohi kang Gumira, hanya saja kukira akang sudah tahu aku sudah menikah karena akang kelihatannya cukup akrab dengan beberapa pedagang di pasar. Aku tahu soal akang dari bapak. Katanya akang pedagang sayur terbaik yang pernah datang ke Desa Bahara."

"Mana aku tahu kamu sudah menikah kalau kamu sendiri tidak menceritakannya, neng!" Gumira tidak sadar jika nada ucapannya meninggi.

"Maafkan aku, kang. Aku benar - benar tidak berniat membodohi akang."

"Ah, masa bodoh, neng! Aku jatuh hati padamu dan pada nyanyian serulingmu... aku tidak bisa menerima fakta ini."

Widia hanya diam. Ia tampaknya memikirkan perkataan yang tepat untuk menimpali pernyataan Gumira barusan.

"kamu mencintai suamimu?"

Widia memandang Gumira lekat - lekat ketika mendengar pertanyaan itu. Ia dengan pasti dan penuh keyakinan menjawab begini, "aku mencintainya dengan segenap hatiku, kang. Meskipun kami jarang bertemu, tapi aku tetap meyakini bahwa ia adalah lelaki terbaik untukku, imam yang akan menuntunku dalam gelap dan terang, pelita yang bisa kujunjung tatkala aku tersesat."

Gumira merasa dirinya disambar petir untuk kali kedua hari itu. Bulu kuduknya berdiri, keringat dingin membasahi punggung kemejanya. Hatinya menggebu, napasnya memburu. Ia merasa tubuhnya terbakar setelah mendengar kalimat terakhir. Ia mengepalkan tangannya, mengencangkan urat di wajahnya. Ia menatap Widia dengan segenap keyakinannya dan berkata, "benarkah?"

Widia mengangguk. "Selama beberapa waktu belakangan, aku berterima kasih akang mau menemaniku di sawah. Itu adalah sawah yang dibeli suamiku sewaktu ia pulang beberapa bulan lalu. Sawah dan gubuk itu menghubungkanku dengannya. Berkat akang, suasana di gubuk itu tidak sunyi. Aku bisa tahu pikiran akang, dan akang bisa menikmati nyanyian serulingku. Sebelum ini, hanya suamiku yang menikmatinya. Terima kasih, kang."

gumira mengepalkan tangannya di dalam saku celananya. Ia merasa tubuhnya makin terbakar hawa cemburu dan amarah. Ia ingin melampiaskan hal ini, tapi tidak pada gadis pujaannya. Bagaimanapun, ini salahnya sendiri tidak memastikan identitas sebenarnya si gadis seruling. Ia juga salah karena sudah seenaknya jatuh hati pada si gadis seruling. Ia mengumpulkan tenaganya, memandang lurus pada mata si gadis seruling.

"Kalau begitu, aku harap kamu dan bayimu sehat, neng." tuturnya. Ia lantas berbalik dan meninggalkan rumah itu. Ia sudah mengucapkan apa yang ingin diucapkannya.

"akang suka pada neng Widia?" Tanya si warga desa yang sejak tadi mengikuti Gumira. Ia berjalan di samping Gumira sambil berusaha menyelaraskan langkahnya dengan langkah pedagang sayur itu.

Gumira hanya diam. Namun ini membuat si warga desa yang belum diketahui namanya itu tahu kalau Gumira benar - benar menyukai Widia. Ia tersenyum sambil melirik Gumira.

"Kenapa tidak direbut saja, kang?" tanyanya. Pertanyaan yang membuat langkah Gumira terhenti sejenak sambil memandang tajam padanya.


bersambung...

Bagikan

Jangan lewatkan

Gadis Seruling 2
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.