Tampilkan postingan dengan label Gadis Seruling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadis Seruling. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Gadis Seruling 2


Bagian 2

Gumira sudah menemukan si gadis seruling saat ia baru berada di tengah desa, tepatnya di depan Kantor Desa Bahara. Ia melihat si gadis seruling mengenakan pakaian rapi. Di depannya seorang lelaki muda berwajah bersih berdiri dan kelihatan sedang mengobrol dengan salah seorang pegawai desa. Gumira lantas mengubah arah tujuannya. Ia masuk ke halaman kantor desa, melangkahkan kakinya menuju ke titik terdekat dengan si gadis seruling.

Awalnya Gumira berniat melambaikan tangan sambil memanggil si gadis seruling, tapi ia urungkan. Ia melihat si gadis seruling juga rupanya tengah di tengah percakapan dengan pegawai desa lainnya. Maka ia putuskan untuk menunggu si gadis seruling melihatnya saja, sambil ia duduk di bangku taman di halaman kantor desa. Bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya ia taruh di atas bangku. Dalam hatinya, Gumira sudah tidak sabar untuk bercengkrama dengan si gadis seruling. Ia merasa dadanya membuncah dan ingin segera melihat wajah si gadis seruling. Matanya tak pernah ia lepaskan dari sosok yang didambanya.

Tak lama kemudian, si gadis seruling tampak selesai berbincang dengan pegawai desa, begitu pula lelaki muda di depannya. Mereka kelihatan pamit pada pegawai desa itu, lalu berbalik dan undur diri. Mereka meninggalkan halaman kantor desa.

Gumira melambaikan tangannya pada si gadis seruling. Dalam hatinya ia sangat yakin jika gadis seruling itu akan menyadari keberadaannya, tapi yang terjadi justru si gadis seruling itu hanya berjalan lurus, tanpa menghiraukan lambaian dan sapaan yang diberikan Gumira. Gadis itu seperti tidak melihat Gumira sama sekali, padahal hanya ia yang ada di bangku itu, terlebih di halaman desa yang besarnya mungkin cuma 10 x 10 meter saja.

Setelah tak melihat lagi si gadis seruling, Gumira lantas bangkit dari bangku itu. Ia berdiri dan menampar wajahnya sendiri. Ia merasa dirinya harus berpikir positif : mungkin si gadis seruling memang tak melihatnya. Maka dari itu, ia segera mengambil bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya dan bergegas pergi meninggalkan halaman kantor desa, menuju sawah dimana ia selalu bertemu dengas si gadis seruling.

Sampai di sawah, ia mendapati gubuk yang biasa menjadi lokasi pertemuan mereka kosong. Hanya sarung dengan motif kotak - kotak dan bantal lusuh yang ada di sana. Gumira tak menghiraukan kondisi itu. Ia bergegas ke sana, duduk bersila kaki, dan menaruh bingkisan yang dibawanya di dekat tiang gubuk. Ia akan menanti kedatangan si gadis seruling. Ia yakin sekali gadis itu akan datang ke sawah hari ini, seperti sebelumnya.

Hingga mentari berjalan ke ujung peraduannya, Gumira tak jua mendapati sosok si gadis seruling. Gubuk dan sawah hanya itu hanya berisi keheningan dan angin. Tanpa sapa apalagi nyanyian seruling yang merdu yang sebelumnya ia dengar. Ia menghela napas sejenak, memandang langit, lalu duduk bersandar ke salah satu tiang gubuk. Ia masih berniat menanti si gadis seruling.

"Sedang apa di sini, kang Gumira?" Sapa seorang warga tatkala Gumira tengah mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Warga itu membawa bakul berisi peralatan makan yang kosong dan memakai tudung dari anyaman bambu.

"Sedang nunggu si gadis seruling, bu. Ibu tahu dia dimana? Saya sudah menunggunya dari tadi siang, tapi tidak datang juga, padahal biasanya dia ada di sini." jawab Gumira sambil melipat sapu tangannya.

"Gadis seruling?" Tanya warga desa sembari mengangkat cetoknya sedikit. Peluh dan debu yang mengering menghiasi wajahnya. Gurat wajahnya terlihat lelah.

"Iya." Gumira menunjuk sawah di sekelilingnya, "biasanya dia diam di sini, meniup seruling sambil menarik tali ini." imbuhnya sambil menarik tali yang terhubung dengan boneka sawah dan lonceng kaleng. Seketika, boneka sawah dan lonceng - lonceng itu bergetar, menghasilkan bunyi bising yang mengusir burung - burung.

"ibu tak tahu siapa gadis seruling itu, tapi kalau anak gadis yang suka duduk di sawah ini namanya Widia, putrinya Pak Safri, rumahnya ada di ujung desa." jawab si warga desa sambil tersenyum dan menunjuk ke arah ujung Desa Bahara.

Gumira tidak melihat perumahan di arah yang dituju oleh si warga desa. Ia hanya mendapati hamparan sawah, pohon kelapa dan pohon lainnya yang menggunung. "Dimana bu? Bukannya itu cuma bukit?"

"Di balik bukit itu ada RT 13, di sana batas Desa Bahara dengan Desa Hujungtiwu dan Desa Panjalu, rumah Widia ada di sana, Kang Gumira." Si ibu menjelaskan dengan sabar.

Mendengar informasi yang begitu jelas itu, Gumira lantas berterima kasih pada si warga desa. Ia segera menggunakan sandalnya, dan bergegas berlari meninggalkan gubuk itu. Ia tidak sabar ingin bertemu, berbincang dan mendengar kembali nyanyian seruling Widia yang merdu.

Dalam perjalanannya menuju RT 13, Gumira tidak menghiraukan sapaan beberapa orang warga desa berpakaian rapi yang mengenalnya. Ia hanya berlari dan terus berlari menuju salah satu rumah di RT 13, rumah Widia. Ia ingin segera bertemu dengan dara itu. Dadanya terasa menggebu, dan napasnya menderu.

Sampai di puncak bukit, Gumira melihat perkampungan kecil di bawahnya. Hatinya terasa lega. Ia segera berjalan menuruni bukit itu, melewati jalanan dan orang - orang berpakaian rapi. Wajahnya hanya tertuju pada rumah pertama yang ia dapati di muka kampung. Rumah itu ramai oleh orang - orang berpakaian rapi. Mereka berkumpul di sekitarnya, membawa bakul, menenteng bingkisan yang di bungkus dengan plastik hitam. Para lelaki yang hadir di sana asyik berbincang sambil menghisap rokok kretek dan meneguk kopi hitam panas. Gumira berniat menanyakan lokasi rumah pak Safri pada salah satu dari orang - orang itu.

Sebelum bertanya, Gumira terlebih dahulu menghentikan langkahnya. Ia merapikan pakaiannya, rambutnya, celananya dan bingkisannya. Ia juga mengatur napasnya yang memburu, dan degup jantungnya yang menggebu. Ia menenangkan dirinya sembari memerhatikan beberapa orang dari kerumunan itu. Ia tengah memilah pada siapa ia akan menanyakan perihal rumah pak Safri tadi.

Setelah napas dan jantungnya tenang, juga pakaiannya nyaris kembali rapi seperti sedia kala, ia mulai mendekati kerumunan itu. Ia sudah memutuskan untuk bertanya pada seorang hansip berpakaian lengkap yang duduk di dekat pohon jambu. Hansip itu sedang menikmati sepiring pisang goreng yang baru saja diantarkan padanya.

"Punten, pak, bisa saya bertanya?" Tanyanya.

Si hansip menoleh sambil mengunyah potongan goreng pisang di dalam mulutnya. Ia mengangguk.

"Kalau rumah pak Safri di mana ya? Katanya ada di RT 13..." Gumira melanjutkan ucapannya.

Si hansip terlihat sedang menghabiskan kunyahannya untuk bisa bicara, tapi jari telunjuknya sudah lebih dulu mengarah ke rumah yang sejak awal sudah dilihat Gumira. Rumah yang dikerubungi banyak orang berpakaian rapi.

"Ini rumahnya, kang." tutur si hansip setelah selesai menelan isi mulutnya.

Gumira mengucapkan terima kasih pada hansip itu, tapi ia merasa heran dengan kerumunan ini. Tanpa maksud untuk kembali mengganggu acara makan pisang si hansip, Gumira bertanya sekali lagi, "ini ramai - ramai ada acara apa ya, pak?"

"Oh ini acara empat bulanannya neng Widia. Mangga ke dalam saja, kang. Akang temennya neng Widia sama Kang Rudi kan?" Hansip itu mempersilakan Gumira masuk ke dalam rumah.

Mendengar berita itu, Gumira serasa dirinya disambar petir di siang bolong. Ia merasa berat untuk melangkah. Kakinya yang tadi ia gunakan berlari, kini terasa seperti pasak yang menancap ke tanah. Tangannya yang memegang sapu tangan meremasnya begitu keras. Peluh dingin mengalir membasahi punggungnya, merembes ke kemeja yang ia kenakan. Betisnya bergetar, begitu pula pahanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kabar seperti ini.

Gumira berusaha keras mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin berbuat yang tidak - tidak di acara keluarga orang lain, apalagi ini adalah momen bahagia bagi gadis seruling yang ia puja itu. Ia berusaha melangkahkan kakinya ke depan, tapi sulit. Akhirnya ia berjalan mundur setelah berusaha berkali - kali. Ia merasa tak sanggup melihat gadis seruling pujaannya itu telah menjadi milik orang lain.

"Mau kemana, kang Gumira? Bukannya tadi akang menanyakan rumah pak neng Widia?" ujar seseorang di belakang Gumira. Sosok itu menahan langkah mundur Gumira. Ia adalah warga desa yang tadi menemui Gumira di gubuk sawah si gadis seruling.

"Akang temennya neng Widia kan? Ayo kita masuk sama - sama saja..." ajak warga desa itu seraya menarik tangan Gumira. Ia terlihat membawa bakul yang ditutupi kain batik bermotif awan mega mendung.

Gumira ikut begitu saja ke dalam rumah si gadis seruling. Ia tak kuasa menolak. Tubuhnya terasa lemas, seperti tanpa tulang belulang yang menjadi penopang. Ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, meski keringat dingin terus mengalir di dahinya. Ia merasa gelisah dan takut. Terlebih, ia merasa enggan untuk melihat lelaki yang menjadi pujaan dari gadis pujaannya. Ia tak bisa menerima itu.

"Kang Gumira..."

Gumira mendengar suara milik si gadis seruling. Suara yang merdu nan menawan. Ia rindu mendengar suara itu akhir - akhir ini.

"Kang Gumira, terima kasih sudah datang..." ujar si gadis seruling. Ia tersenyum pada Gumira. Lesung pipinya nampak seketika. Wajahnya yang oval, berhiaskan mata coklat, hidung mancung dan pipi yang kemerahan membuat sosok si gadis seruling terlihat memesona dalam pandangan Gumira. Si gadis seruling menerima bingkisan yang disodorkan Gumira dengan senang hati, lalu mempersilakannya menyantap hidangan. Di sisi si gadis seruling, tampak sosok pemuda yang tadi dilihat Gumira di kantor desa.

Pemuda itu memiliki perawakan yang tinggi, sekitar 170 cm. Kulitnya warna kuning langsat. Tubuhnya cukup berisi dan urat - urat tangannya terlihat kencang. Wajahnya oval, dengan hidung yang mancung, mata biru dan pipi yang bersih. Wajahnya memiliki kemiripan dengan si gadis seruling. Lalu rambutnya lurus dan diikat ke belakang. Pemuda itu tidak berkumis dan berjanggut. Ia mengenakan kemeja coklat muda dan celana hitam. Tampilan yang sederhana dan tampak bersahaja. Ia juga kelihatan ramah pada setiap orang yang datang, tak henti menyulam seulas senyum, mengiringi senyuman yang dilontarkan si gadis seruling.

Gumira duduk bersila kaki di dalam rumah. Di sampingnya warga desa yang tadi membawanya masuk juga duduk. Ia mulai menyentuh kue basah yang disajikan di piring - piring, sementara Gumira masih memandang lekat - lekat pada pemuda yang berdiri di samping si gadis seruling. Hatinya berdegup kencang. Dadanya panas. Tangannya terkepal. Ia merasa cemburu pada lelaki itu. Jika ia bisa, ia ingin merebut posisi itu sekarang juga.

"Ini bajigurnya, kang diminum dulu, nanti keburu dingin mah kurang enak..." ujar warga desa itu. Ia menyodorkan segelas bajigur yang masih mengepulkan asapnya pada Gumira. Ia mengetahui Gumira terus memandangi sosok pemuda di samping neng Widia. Ia tersenyum simpul. Senyum yang sulit untuk diterjemahkan.

"itu adiknya neng Widia, kang." si warga desa itu berujar sambil mengupas pisang, lalu melahapnya. Ia melirik Gumira lewat sudut matanya. Ia tersenyum simpul. "Suaminya bekerja di pelayaran. Pulangnya setahun dua kali kalau dapat libur, kalau tidak, pulangnya bisa setahun sekali, itu pun cuma 5 - 6 hari." imbuhnya sambil tetap melirik Gumira yang duduk di sampingnya.

Mendengar perkataan si warga desa, Gumira merasa hawa panas di dalam dadanya mereda, sedikit. Ia menghela napasnya. Pandangannya pada pemuda itu pun mulai mengendur, tidak setajam beberapa saat yang lalu. Dalam hati ia sedikit bersyukur bahwa pemuda itu adalah adik si gadis seruling.

Si warga desa tersenyum simpul lagi. Ia tampak menikmati emosi Gumira. Ia menebak bahwa Gumira menaruh hati pada neng Widia, tapi belum tahu jika gadis yang dipujanya itu sudah menikah dan sedang hamil. Ia mungkin akan sedikit menggodanya setelah acara ini selesai.

Setelah merasa cukup mengarahkan pandangannya pada pemuda di samping si gadis seruling, Gumira mulai meneguk bajigurnya. Ia mengambil goreng pisang lalu melahapnya. Perutnya sudah minta diisi sejak siang tadi. Ia memang masih tidak terima jika si gadis pujaannya telah dipersunting orang lain, tapi ia berpikir bisa melupakannya sejenak. Lagipula, lelaki itu sedang tidak ada di sini sekarang.

Waktu berlalu dan acara syukuran empat bulanan kehamilan Widia selesai. Semua tamu yang diundang pulang ke rumah mereka selepas sholat isya berjamaah. Sedangkan Gumira masih ada di sekitar sana. Ia ingin melihat si gadis seruling untuk kali terakhir hari itu. Ia berdiri tak jauh dari rumah Widia, bersama si warga desa.

Tak lama kemudian, Widia keluar dari rumahnya ditemani adiknya. Ia membawa nampan kosong dan mulai menaruh piring - piring kotor ke atasnya. Ia belum menyadari keberadaan Gumira.

"Hei..." Gumira menyapa Widia. Ia berjalan mendekat.

Si gadis seruling pun menoleh. Ia mendapati Gumira berdiri tepat di hadapannya. Ia menaruh nampan itu, lalu berkata, "iya, kang?"

"Kenapa tidak cerita soal ini? Kamu berniat membodohiku?" Gumira tak tahan untuk tidak melontarkan pertanyaan itu. Niat awal Gumira memang hanya ingin melihat wajah si gadis seruling untuk kali terakhir, tapi setelah melihatnya, ia tak tahan untuk tidak bicara dengannya. Namun, bukannya perkataan halus yang keluar, malah pertanyaan kasar seperti itu yang berhasil ia lontarkan. Dalam hatinya, Gumira mengutuk dirinya sendiri.

Si gadis seruling tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya, lalu berucap halus, "aku tidak berniat membodohi kang Gumira, hanya saja kukira akang sudah tahu aku sudah menikah karena akang kelihatannya cukup akrab dengan beberapa pedagang di pasar. Aku tahu soal akang dari bapak. Katanya akang pedagang sayur terbaik yang pernah datang ke Desa Bahara."

"Mana aku tahu kamu sudah menikah kalau kamu sendiri tidak menceritakannya, neng!" Gumira tidak sadar jika nada ucapannya meninggi.

"Maafkan aku, kang. Aku benar - benar tidak berniat membodohi akang."

"Ah, masa bodoh, neng! Aku jatuh hati padamu dan pada nyanyian serulingmu... aku tidak bisa menerima fakta ini."

Widia hanya diam. Ia tampaknya memikirkan perkataan yang tepat untuk menimpali pernyataan Gumira barusan.

"kamu mencintai suamimu?"

Widia memandang Gumira lekat - lekat ketika mendengar pertanyaan itu. Ia dengan pasti dan penuh keyakinan menjawab begini, "aku mencintainya dengan segenap hatiku, kang. Meskipun kami jarang bertemu, tapi aku tetap meyakini bahwa ia adalah lelaki terbaik untukku, imam yang akan menuntunku dalam gelap dan terang, pelita yang bisa kujunjung tatkala aku tersesat."

Gumira merasa dirinya disambar petir untuk kali kedua hari itu. Bulu kuduknya berdiri, keringat dingin membasahi punggung kemejanya. Hatinya menggebu, napasnya memburu. Ia merasa tubuhnya terbakar setelah mendengar kalimat terakhir. Ia mengepalkan tangannya, mengencangkan urat di wajahnya. Ia menatap Widia dengan segenap keyakinannya dan berkata, "benarkah?"

Widia mengangguk. "Selama beberapa waktu belakangan, aku berterima kasih akang mau menemaniku di sawah. Itu adalah sawah yang dibeli suamiku sewaktu ia pulang beberapa bulan lalu. Sawah dan gubuk itu menghubungkanku dengannya. Berkat akang, suasana di gubuk itu tidak sunyi. Aku bisa tahu pikiran akang, dan akang bisa menikmati nyanyian serulingku. Sebelum ini, hanya suamiku yang menikmatinya. Terima kasih, kang."

gumira mengepalkan tangannya di dalam saku celananya. Ia merasa tubuhnya makin terbakar hawa cemburu dan amarah. Ia ingin melampiaskan hal ini, tapi tidak pada gadis pujaannya. Bagaimanapun, ini salahnya sendiri tidak memastikan identitas sebenarnya si gadis seruling. Ia juga salah karena sudah seenaknya jatuh hati pada si gadis seruling. Ia mengumpulkan tenaganya, memandang lurus pada mata si gadis seruling.

"Kalau begitu, aku harap kamu dan bayimu sehat, neng." tuturnya. Ia lantas berbalik dan meninggalkan rumah itu. Ia sudah mengucapkan apa yang ingin diucapkannya.

"akang suka pada neng Widia?" Tanya si warga desa yang sejak tadi mengikuti Gumira. Ia berjalan di samping Gumira sambil berusaha menyelaraskan langkahnya dengan langkah pedagang sayur itu.

Gumira hanya diam. Namun ini membuat si warga desa yang belum diketahui namanya itu tahu kalau Gumira benar - benar menyukai Widia. Ia tersenyum sambil melirik Gumira.

"Kenapa tidak direbut saja, kang?" tanyanya. Pertanyaan yang membuat langkah Gumira terhenti sejenak sambil memandang tajam padanya.


bersambung...
Baca selengkapnya

Minggu, 09 April 2017

Gadis Seruling



Ini kisah tentang seorang lelaki yang mendedikasikan hidupnya untuk mencatat kehidupan seorang gadis ditemuinya. Ia bernama Gumira. Lelaki ini, entah ditinjau dari segi apapun, ia tak memiliki kelebihan. Tubuhnya kurus, matanya besar, rambutnya keriting-keras, hidungnya pesek, berkulit gelap dan tingginya tak lebih dari 150 sentimeter. Di sekolah, lelaki ini duduk di ranking ke-20 dari dua puluh siswa di kelasnya. Dalam olahraga, ia tak menyenangi hal ini, meski sedikit. Baiklah! Aku akan memulai kisahnya dari sebuah desa di Kabupaten Ciamis: Desa Bahara.

Gumira mengunjungi Desa Bahara untuk keperluan berdagang sayuran. Ia baru memulai usaha ini dua bulan lalu dan belum mendapatkan untung yang besar. Ia belum putus harapan. Hari ini ia mendatangi beberapa pedagang sayur di pasar kecil Desa Bahara, menawari mereka sayuran yang dibawanya, bernegosiasi dengan mereka, menerima penolakan mereka sebab sayur yang dibawanya berharga terlalu mahal atau sudah layu. Penolakan-penolakan yang diterimanya tak lain dari proses yang dianggapnya sebagai proses kedua dari kehidupan. Proses pertama adalah penerimaan, lalu penolakan.

Penerimaan dia dapatkan saat ia dilahirkan delapan belas tahun yang lalu. Ibunya, menerimanya sebagai anak tunggal yang sakit-sakitan semasa kecil. Beranjak sampai usia dua belas tahun, kala duduk di kelas dua sekolah menengah, ia menerima kepergian ibunya. Ibunya meninggal karena penyakit Leukimia yang dideritanya tak terobati. Lagi, ia telah menerima kehilangan ayahnya sejak sebelum ia dilahirkan. Ia belum pernah bertemu ayahnya, kecuali saat berziarah, itupun sebatas nisan dan gundukan tanah. Sedangkan penolakan, ia dapatkan di hari-hari selepas sekolah menengah pertamanya selesai. Ia mulai melakukan perdagangan kecil, lalu menerima penolakan di mana-mana. Ia enggan berputus asa. Ia pikir, andai ia putus asa, perutnya akan menjadi anak tiri yang dienggani kehadiranya: tak diberi makan. Ia yakin, kedua proses itu selalu ada. Habis diterima di A, ia akan ditolak di B. Ada garis perbedaan antara keduanya, yang tipis.

Ia melanjutkan perjalanannya ke dalam desa. Menyusuri rumah-rumah sederhana di desa yang di kelilingi bukit ini membuat penolakan yang baru saja diterimanya di pasar terlupakan. Ia menghirup bau sawah dan ladang yang menenangkan, menyaksikan dapur-dapur yang mengepulkan asap mereka, anak-anak kecil berlarian di sepulang sekolah, lapangan dengan rumputnya yang tinggi, dan kabut yang kembali turun ke daratan. Surya lenyap di balik kerumunan awan di cakrawala. Bersembunyi. Ia belum ingin mencari tempat berteduh meski kelihatannya sebentar lagi hujan turun.

Ia mendengar alunan seruling yang menenangkan di salah satu saung di tengah sawah. Ia berhenti melangkah, menaruh pegangan gerobaknya ke tanah, lalu berdiri di pematang sawah. Ia ingin mendengar seruling itu bernyanyi lebih jelas. Kakinya kembali meniti jalan, nyanyian seruling makin jelas terdengar, ia berhenti sejenak, memerhatikan titiannya. Setelah ia dapati titiannya kokoh, ia melanjutkannya. Namun seruling yang ia rasa merdu itu membisu. Ia melihat seorang gadis menoleh ke arahnya, menampakkan mimic terganggu. Tak lama, gadis itu membereskan kotak makanannya dan berjalan pergi. Lelaki itu menyaksikan kepergian nyanyian seruling dengan perasaan hampa. Ia berujar di dalam hatinya, “Barangkali aku akan mendengarnya lagi besok.”

Ia berteduh di pos ronda Dusun Karanganyar. Hujan deras memaksanya. Ia tak bisa apa-apa, selain duduk sambil memandangi sayur-sayurnya yang mulai layu. Ia mengambil lobak, mencium baunya, memakannya. Lidahnya seolah memberitahunya bahwa lobak itu takkan memberikan rasa apapun bagi dirinya, apalagi bagi orang lain. Ia menaruh Lobaknya ke dalam keranjang sambil mencecap, seolah ia membuang rasa yang didapatnya dari daun Lobak tadi. Ia memandang sayuran-sayuran itu tanpa rasa. Dirinya menolak menjual sayuran-sayuran itu lagi besok.

Hujan malam itu terus turun, meski kecil. Genangan air kecoklatan hadir di jalanan berlubang, aliran sungai makin deras, daun talas seolah enggan basah dengan menjatuhkan air yang bertengger di pucuk kepalanya, rumah-rumah menyimpan kehangatannya di balik pintu dan jendela yang tertutup rapat. Gumira memeluk dirinya sendiri di pos ronda. Bulu kuduknya berdiri berbaris, tubuhnya menggigil. Ia menyelimuti badannya dengan sebuah sarung yang dibawanya tadi pagi, tapi dingin tetap menyusup masuk ke dalam dagingnya. Gumira membayangkan rumahnya yang hangat dan menyenangkan baginya saat ini. Namun bayangannya tentang rumahnya lenyap kala ia ingin mendengar dendang nyanyian seruling yang ditiup oleh gadis yang dilihatnya di sawah tadi sore. Gumira merasa dirinya merindukan nyanyian itu.

Gumira telah membuang semua sayurannya ke salah satu sumur burung. Ia berharap sayurannya dapat menjadi pupuk, atau paling tidak tetap menjaga kesuburan tanah. Gumira berjalan tegak di depan gerobak sayurnya yang kosong. Ia lupa tentang keinginannya mendengar nyanyian seruling itu. Ia berjalan lurus, melewati beberapa rumah yang dapurnya mulai berasap. Anak-anak kecil riang gembira berlari melewatinya seolah ia tak berjalan di jalanan desa itu. Gumira memang orang asing di desa itu. Itulah sebab banyak orang bertanya tentang apa yang ia lakukan semalam di desa ini, dan siapa dirinya. Masyarakat desa Bahara tertutup kepada seorang asing yang datang tanpa alasan jelas seperti Gumira. Beberapa dari mereka menyapa Gumira, tapi tidak berhenti untuk mengobrol dengannya. Sapaan mereka sebatas mengakrabi seorang asing.

Tiba di area pesawahan, Gumira kembali mendengar nyanyian seruling yang ia rindukan. Ia mengedarkan pandangannya ke sawah, mendapati sebuah saung dan seorang gadis tengah meniup seruling di sana. Kakinya meniti jalan seperti kemarin. Melangkah tanpa henti. Gumira merasa terhipnotis oleh nyanyian seruling itu.

“Merdu sekali.” ujar Gumira membuka percakapn dengan si gadis peniup seruling. “Aku merasa terhipnotis oleh nyanyian serulingmu.”

“Seruling menghadirkan ketenangan. Aku menyanyikannya untuk Nyai Pohaci dan berharap sawah milik abah ini akan menghasilkan padi yang bagus.” Si gadis bertutur dengan halus sambil memegangi serulingnya.

“Nyanyikanlah. Aku ingin mendengarnya, lagi.” Gumira meminta gadis itu untuk kembali meniup serulingnya. Ia duduk di sisi gadis itu. Sawah yang menghampar hijau di hadapannya menambah ketenangan yang hadir di dalam dirinya. Ia merasa jatuh berada di dunia yang tak ia kenal. Dunia yang menyembunyikan segala penolakan, menampilkan segala penerimaan.

Hari itu, lama Gumira duduk bersama si gadis. Ia menceritakan maksud kedatangannya ke desa Bahara. Mereka, selanjutnya saling bertukar cerita. Gumira bicara tentang perdagangannya, prinsip penerimaan-penolakan yang dipercayainya, dan sayuran-sayurannya yang telah ia buang di sebuah sumur burung. Sedangkan si gadis, ia tak begitu banyak bicara selain cerita tentang sebatas sawah milik abahnya, seruling, Nyai Pohaci dan harapannya tentang panen yang menguntungkan. Mereka berpisah saat langit masih menyajikan cahaya jingganya.

Minggu-minggu berikutnya Gumira datang dan pulang dengan segenap kegembiraan di dalam hatinya. Ia menjual habis sayurannya di pasar dan warung-warung di desa Bahara. Ia bertemu si gadis dan ikut meniup seruling bersamanya di sawah yang perlahan mulai menguning. Setiap pulang, ia selalu sempat merasakan sesak yang menyakitkan di dadanya, tapi menghadirkan sensasi yang ingin ia ulangi lagi dan lagi. Ia berpikir, barangkali dirinya telah jatuh hati bukan hanya pada permainan seruling si gadis, tapi pada si gadis pula.

Gumira selesai berkeliling dan menjual ¾ sayurannya saat surya mencapai garis tengah bumi. Ia kini duduk di saung di sawah si gadis, menanti kedatangannya. Ia membawa sebungkus dodol yang dibelinya di Garut kemarin. Ia ingin memakan manisan itu bersama si gadis. Gumira telah merubah posisi duduknya beberapa kali. Ia memerhatikan gerak mentari yang condong ke barat, bayangannya yang memanjang, dan mendengar nyaring suara jangkrik. Hingga bayangannya menyatu dengan langit malam, si gadis tak kunjung hadir di sisinya, bahkan nyanyian serulingnya pun tidak. Gumira akhirnya pulang dengan harapan dapat kembali bertemu si gadis di hari-hari mendatang dari kehidupan mereka.

Minggu berikutnya, Gumira sengaja datang tanpa membawa gerobak sayurnya. Ia menenteng dua kantung plastik berisi dodol dan manisan yang kemarin dibelinya di kota. Di pasar dan jalanan desa Bahara yang kecil, orang yang mulai mengenalnya silih berganti menyapa dan bertanya; mengapa ia tak berjualan hari ini, atau siapa yang hendak ia kunjungi. Gumira hanya menjawab pertanyaan pertama. Sedangkan untuk yang kedua, ia tutup mulut. Raut berseri di wajah Gumira tak bisa ia sembunyikan. Ia merasa senang akan bertemu si gadis seruling.
bersambung...
Baca selengkapnya