Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 April 2017

Tirai Hijau


Samira memandangi tirai hijau yang membentang di cermin matanya. Panjang. Tirai itu, meliuk-liuk, terhembus angin. Samira menganggap tirai itu menertawakannya, ia balas tertawa. Ia menunggu tirai itu menyentuh jemarinya. Ia merasakannya lembut. Samira tersenyum.

Kemudian pemuda berpakaian putih-putih, dengan peci bertengger manja di kepalanya itu tersenyum. Ia menuntun jemarinya merangkai garis, membentuk pola.

Kepalanya menunduk, mengahadap kertas yang terselip di antara lembar kitabnya. Ia tersenyum lagi. Pola wajah seorang gadis hampir selesai di sana.

Ia mengacuhkan riuh rendah suara yang mendayu-dayu di sekelilingnya. Kepalanya kosong dari itu semua. Ia tak memikirkan apapun, apalagi melahap semua yang dikatakan gurunya di depan sana. Ia tak menginginkan itu semua.

“Sebaiknya kau mendengarkan Ustadz Imron, atau dia akan kemari dan merobek lukisanmu yang berharga itu.” Andara berbisik halus di sisi Samira. Ia turut serta menundukkan kepalanya.

“Aku tahu.”

“Nah, sekarang angkat kepalamu dan dengarkan.” Ujar Andara kemudian. Ia kembali memerhatikan Ustadz Imron. Sementara Samira tetap merunduk. Ia benar-benar enggan memerhatikan apa yang ada di sekelilingnya.

Bagi Samira, semua yang ada di sekelilingnya telah dipenuhi garis putih-hitam. Garis-garis itu, mengikat siapa saja, di tempat ini. Dan ketika ia berpindah, ia akan terikat bersama garis putih-hitam yang lain. Itu membuatnya muak. Ia enggan terikat dengan apapun. Baginya, dunia adalah apa yang ia pikirkan, dan ia simpan di dalam pikirannya. Bukan dunia penuh garis putih-hitam.

“Sekali lagi, Ustadz Imron memerhatikanmu.” Bisik Andara, lagi. Ia khawatir Samira akan kena semburan amarah milik ustad berhutan lebat di bawah dagunya itu.

“Aku tahu.” Jawab Samira enteng.

***

Usai pengajian, Samira dipanggil Ustadz Imron. Ia dimarahi dan diberi hukuman. Tak lupa, ustadz itu mengambil lukisan milik Samira, dan merobeknya di depan Samira. Di sana, Samira menunduk sepanjang waktu. Ia hanya tersenyum, malah di dalam hatinya, ia tertawa.

Keluar dari kantor ustad Imron, Samira tertawa terbahak-bahak. Ia tidak murung, apalagi bersedih. Gurat semacam itu, selalu seolah bersembunyi jauh di dalam permukaan wajahnya.

“Kenapa kau tertawa, Samira?” Tanya Andara saat temannya itu kembali ke asrama.

“Aku senang.” Jawab Samira, lagi-lagi enteng.

“Kenapa bisa begitu? Padahal, kebanyakan santri murung saat keluar dari kantor ustadz Imron.”

“Aku senang karena ia hanya menghancurkan wujud nyata imajiku. Itu bukan apa-apa. Sebenarnya, jauh sekali di tempat yang amat dalam, aku menyimpan imajiku, menguncinya. Aku membukanya saat pengajian ustadz Imron saja.”

“Kenapa?”

“Karena, kunci imaji itu selalu duduk di balik tirai yang menghalangi kita.”

“Maksudmu seorang santriwati?”

“Ya. Aku tak mengenalnya, tapi wajahnya yang belum pernah kulihat utuh, selalu membuka imaji di dalam pikiranku. Ustadz Imron takkan mendapatkannya.” Samira mengakhiri perkataannya dengan senyum, seraya beranjak ke dalam kamar.

“Aku akan menggambarnya lagi besok.” Imbuh Samira. Lantas ia membuka lemarinya dan mengambil secarik kertas.

***

Samira berulang kali melakukan apa yang Andara anggap sebagai kebodohan. Tapi Samira tidak menyesal. Justru ia terlihat sebaliknya. Tenang, bahagia.

“Kenapa kau selalu melakukannya? Kukira, ocehanmu saat itu bualan belaka.” Ujar Andara saat menemui Samira di tengah lapangan voli. Samira tengah dijemur.

“Kenapa? Aku menyukainya.” Jawab Samira enteng.

“Apa hanya itu? Kau aneh.” Andara berjongkok di samping Samira. Ia mengibaskan pecinya sesekali. Keringat mengucur deras di pelipisnya yang coklat legam.

“Ya.”

“Aku merasa bebas saat menyelami imajiku tentang gadis itu. Nampaknya, aku jatuh cinta.”

Andara tertegun mendengar ucapan Samira. Ia lantas berdiri di hadapan Samira, bermaksud memastikan ucapannya. “Yang benar?”

“Benar.”

“Kau akan celaka, Samira. Jika ustdz Imron tahu hal ini, ia akan menghukumu. Kau tahu, peraturan di sini sudah jelas. Santriwan tidak boleh menjalin hubungan dengan santriwati yang bukan mahramnya.” Andara berucap panjang lebar. Ia menatap Samira serius.

“Aku tahu, tapi aku takkan terkena hukuman atas hal itu.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena aku mencintai imaji yang timbul saat gadis itu duduk di balik tirai. Aku merasakan kebebasan tak berbatas. Meski aku tak mengenalnya, atau tak mungkin berhubungan dengannya sama sekali, imajiku akan memuaskanku. Imajiku, anggur yang memabukkan, Andara.” Samira tersenyum ramah. Ia memandang langit, dan menarik napasnya dalam.

“Sana! sebaiknya kau kembali ke asrama sebelum ustadz Imron mendapatimu menemaniku menjalani hukuman ini.” Imbuh Samira. Ia meminta temannya itu kembali ke asrama.

Dan Samira, sepanjang siang bersama raja cahaya, ia bersenandung tentang gadis yang dikenalnya. Lagi-lagi, ia mendapatkan senandung itu saat menyelami imajinya beberapa saat lalu.
Baca selengkapnya

Kamis, 20 April 2017

Cinta Yang Sempurna


Samira banyak membaca. Ia sering duduk seorang diri, di tengah permadani bermotif bunga, dengan alas yang bolong di sana sini. Ia nyaman dengan hal itu. Menikmatinya. Samira diam berjam-jam di balik tirai dunia, yang banyak dibilang orang luas, di dalam sebuah buku.

Samira, barangkali adalah jenis manusia pecinta buku. Ketika seseorang telah sampai pada tahap mencintai, ia akan melakukan perkara aneh, tak jarang bodoh, seringkali gila. Itulah Samira. Ia mencintai buku seperti ia mencintai istrinya saat pertama kali menikah.

Di sini, Samira –si pecinta buku- telah menikah beberapa kali. Pernikahannya, selalu gagal. Pernikahan, sering diibaratkan sebagai bahtera. Nah, Samira, saat baru saja membali kayu dan paku untuk membangun bahteranya, ia sudah ditinggalkan oleh istrinya. Kehidupan cinta Samira dengan sesame manusia memang menyakitkan, tapi baginya, itu adalah perkara indah nan memesona. Perkara yang takkan pernah didapatkan orang lain.

Samira beruntung, di sini, hari ini pernikahannya yang ke sembilan berjalan mulus. Ia sudah meniduri istrinya beberapa kali dalam tiga tahun belakangan. Ia, kadang-kadang pergi keluar bersama istrinya, sekadar cuci mata atau belanja barang keperluan rumah mereka.

***

Menginjak tahun ketujuh pernikahannya, sebuah masalah mulai merundung Samira. Istrinya ingin punya anak. Bisa dikatakan, ia iri pada teman-temannya yang telah menimang. Ia meminta Samira serius untuk memiliki anak, dan Samira, ia menyanggupinya.

“Mohon maaf, ibu, bapak, mungkin bukan rezeki anda,” Ujar dokter kandungan yang saat ini tengah berkutat di balik dokumen kandungan istri Samira. Di dokumen itu, istri Samira diketahui keguguran. Pupuslah harapan istri Samira untuk memiliki anak. Ia juga dirundung awan kelabu berbulan-bulan lamanya.

Kekuguran anak yang didamba, bisa jadi sebuah petaka terbesar bagi seorang wanita. Wanita yang tertimpa musibah macam ini, adalah wanita yang malang dunianya. Itu pula istri Samira. Kini ia menjadi wanita malang, yang kekuguguran.

Istri Samira nyaris gila. Ia enggan berkata-kata, dengan Samira barang sepatah pun. Ia malas makan berhari-hari. pekerjaannya, hanya duduk diam, menahan sembilu hati di pojok ranjang. Ia menatap langit, dan mengandaikan awan di cakrawala sebagai bayinya. Tak jarang, istri Samira cekikikan sendiri. ia bicara di depan kaca sambil memegangi guling mungil, yang awalnya ia persiapkan untuk calon anaknya.

Melihat hal itu, Samira menghentikan laju cintanya pada buku-buku. Ia memilih memerhatikan kondisi istrinya yang mengkhawatirkan. Setiap pagi, ia menamani istrinya duduk di taman belakang rumah, sekadar memandangi awan, dan menghitungnya. Samira tersenyum. Ia cukup senang istrinya mau diajak bicara, lagi.

“Sepertinya, kondisi Mala sudah membaik,” Pikir Samira suatu pagi, usai berbincang dengan istrinya, sekalian sarapan pagi. Samira tengah mencuci piring dan gelas yang bertumpuk di dapur.

Sejak keguguran itu, istri Samira tak pernah mencuci, memasak atau melakukan pekerjaan seorang istri lainnya, bahkan bersetubuh. Samira memaklumi hal itu, karena ia menikahi Mala bukan untuk membantunya mencuci atau memasak. Samira berpikir, selama ia bisa menyelesaikan semuanya, ia akan baik-baik saja.

***

“Dimana istrimu, Sam? Tidak ikut?” celetuk Irfan, seorang teman Samira saat mereka berjumpa.

Samira berjalan sendirian, sejak keluar dari mobil. Ia menenteng tas berisi naskah-naskah novel milik teman-temannya, salah satunya milik Irfan. Mereka bertemu di sini untuk mendiskusikan kekurangan novel Irfan.

“Dia ikut koq, fan.” Samira duduk di depan Irfan. Mereka terpisah oleh sebuah meja.

“Lalu, dimana dia?”

“Dia di mobil. Menungguku di sana.”

“Lah! Kau ini bagaimana? masa istrimu kau biarkan menunggu di mobil? Ajaklah ia kemari, kita mengobrol santai di sini.”

“Dia tidak bisa keluar,”

“Kenapa? Apa sih yang dilakukannya di sana? Apa tidak panas?”

“Dia kepanasan, Fan….”

“Kau suruhlah dia keluar, Samira,”

“Aku tak bisa.”

“Aku bantu kau membujuknya keluar kalau begitu, bagaimana? Ayo.” Tanpa menghiraukan tanggapan Samira, Irfan beranjak ke mobil Xenia putih milik Samira. Samira menyusulnya, dengan hati gelisah.

Samira takut Irfan mengetahui kondisi Mala. Ia sebenarnya tidak takut, ia hanya malu jika seseorang tahu istrinya gila. Baginya, orang lain harus tetap tahu kalau istrinya baik-baik saja. Namun di sini, Irfan tahu. Dengan matanya, ia menelan bulat-bulat kenyataan tentang Mala.

“Apa yang terjadi padanya, Sam?” Tanya Irfan saat mereka kembali duduk di meja café. Kali ini Mala duduk di sisi Samira. Ia asyik mengajak bicara guling mungil berwarna hijau, di dalam pelukannya.

“Dia keguguran, tiga tahun lalu. Sejak saat itu, ia tak pernah kembali menjadi Mala yang kukenali, Fan,” Samira berkata lirih. Perlahan ia mengenggam tangan Mala, erat sekali.

“Bagaimana bisa? Istriku pernah keguguran, tapi ia tak gila.” Irfan berkalakar tentang istrinya.

“Mungkin, itu karena kau suaminya. Mala jadi begini, karena aku yang menikahinya. Ia akan baik-baik saja, hidup bahagia dengan dua atau tiga anak jika tak kunikahi, Fan.”

“Mungkin saja.” Kata Irfan. Ia diam sejenak, menarik napas, sambil berpikir. Kemudian ia kembali berkata. “Tapi, Sam, ini adalah pilihan Mala. Ia memilihmu, karena ia yakin kau akan mencintainya, dalam kondisi apapun.”

“Bahkan saat ia gila? Seperti sekarang ini?” Samira tersenyum getir. Tangan kirinya meremas kain kemejanya.

“Tentu saja. Buktinya? Ini,” Irfan berdiri, ia menarik tangan Samira yang bertaut dengan istrinya. “Jika kau tak mencintainya, mustahil kau menemaninya, hingga detik yang lalu, atau hingga kemarin.”

“Aku tahu, cintamu pada buku-buku di perpustakaan pribadimu lebih besar daripada cintamu pada Mala. Kau menganggap cintamu telah sempurna pada buku-buku itu, tapi sekarang aku ragu.” Irfan kembali berkata.

“Apa maksudmu?”

“Kau hanya mencintai buku-buku itu, saat mereka tengah kau baca, setelahnya, kau mengabaikan mereka di rak-rak kayu mahoni. Artinya, cintamu pada mereka hanya dalam sebuah momen, Sam. Tapi, kau tengoklah hari-harimu sebelumnya. Hari dimana kau menemani Mala dalam keadaan seperti ini. Kau selalu ada untuknya, kan?”

“Ya. Aku sering menemaninya sarapan pagi, setelah itu aku mengajaknya berbincang.”

“Itulah cinta yang sempurna. Kau tetap bersandar pada satu hal, saat cintamu sempurna. Tak peduli itu sehat atau cacat, hitam atau putih, suka atau duka. Kau akan selalu berada di sisinya, meski sulit.” Irfan menutup ucapannya seraya menyeruput espresso-nya.

Sementara Samira, ia tersenyum sambil menatap Mala. Sekarang, wanita di sampingnya ini terasa jauh untuk digapai. Ia berada di dunia lain, dimensi yang lain, barangkali juga galaksi yang lain. Namun, Samira yakin, ia akan mencintai Mala, seperti hari ini, atau hari-hari yang telah lalu. Dan, berusaha mendekatkannya kembali.
Baca selengkapnya

Rabu, 19 April 2017

Pelacur?


Suatu sore, aku berjalan melewati gerbang komplek di sekitaran Cileunyi. Aku sedang main ke kosan temanku di  dekat Pesantren Bustanul Wildan. Saat melewati gerbang komplek itu, temanku tiba-tiba menepuk pundakku dan mengajakku masuk ke komplek itu. Katanya, ia ada perlu dengan seseorang di dalam komplek itu. Aku ikuti saja ajakannya itu, toh aku juga sedang santai sore itu.

Sampai di depan sebuah rumah, ia mengajakku berhenti dan mencari tempat duduk. Tidak ada tempat duduk di sekitaran sana. Cuma warung kelontong mungil yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Kami pun pergi ke warung itu. Aku membeli Magnum Filter dan Teh Gelas. Temanku tidak membeli apa-apa.

Aku heran, jika memang ia ada perlu dengan seseorang di komplek ini, seharusnya ia langsung saja ke rumahnya, bukan malah duduk melongo seperti orang bego di warung seperti ini. Aku hendak mengutarakan hal itu padanya, tapi ia kemudian beranjak ke sebuah rumah warna merah muda. Rumah itu bernomor 134, ada di Blok G. Kulihat seorang perempuan, kira-kira umur 29-30 tahunan sedang menjemur di halaman rumah itu.

Jika diperhatikan dengan teramat seksama, perempuan itu bisa membuat laki-laki tidak memejamkan matanya sekitar lima menitan, tapi bisa juga lebih. Uh! Liuk-liuk tubuhnya membentuk! Apalagi dia cuma pakai tanktop dan celana jeans pendek. Rambutnya dicat warna merah marun. Kulitnya putih bersih. Bulu ketiaknya nol. Wajahnya juga bersih. Bibirnya merah. Kupikir, perempuan itu bukan perempuan baik-baik.

Temanku sedang asyik mengobrol dengan perempuan itu di teras rumahnya. Mereka seperti saling melempar cubitan, kelitikan, juga cekikikan. Melihat temanku yang akrab dengan perempuan itu, aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Siapa pula yang tidak akan berpikiran yang tidak-tidak jika melihat perempuan seperti itu, di sore hari menjelang maghrib, akrab-akraban dengan laki-laki jauh di bawah umurnya, dan bukan muhrim pula! Aku semakin mencap perempuan itu sebagai perempuan tidak baik-baik -pelacur. Tak lama minuman mereka habis, temanku dan perempuan itu masuk ke dalam rumahnya.

Kira-kira pukul setengah tujuh, temanku baru keluar dari rumah itu. 30 menit ia di dalam sana. Wajahnya terlihat cerah dan segar, seperti motor baru selesai diservis, di authorized service pula.

"Siapa perempuan itu? Kamu sering datang kemari?" Tanyaku langsung pada inti permasalahan.

Temanku tak langsung menjawab. Ia malah asyik membalas pesan-pesan singkat yang numpuk di layar ponsel pintarnya. "Kamu bakalan tahu siapa dia besok. Besok kuajak kamu ke sini lagi." Jawabnya setelah selesai membalas semua pesan singkat itu.

"Kamu pelanggannya?" Tanyaku lebih dalam. Jawabannya yang tadi, kupikir cuma sekedar pengalihan.

"Iya." Jawabnya. "Dia bakalan bikin kamu puas!" Temanku menghisap rokoknya sambil kembali membalas pesan singkat di ponselnya.

Kulihat sekilas, pesan-pesan singkat itu dari Alvia, pacar temanku. "Kamu bodoh ya? Main sama pelacur, main juga sama Alvia. Kalo mau main pelacur, putusin Alvia dong!" Tegurku tegas. Aku tak suka Alvia, yang juga teman sekolahku dulu, dipermainkan oleh Dani. Nama temanku yang ini adalah Dani.

"Aku gak permainin dia koq, Jon. Aku bisa bagi waktu. Kamu juga, santai dikit kek." Ia menjawab dengan santai.

Pertanyaan demi pertanyaan terus kulontarkan pada Dani. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Dani dengan pelacur itu. Aku juga ingin tahu apakah Dani benar-benar menyayangi Alvia atau tidak. Aku benar-benar ingin mengetahui semuanya. Namun Dani terus menerus menjawab dengan seenaknya, seolah apa yang kulihat sore tadi tidak penting untuk dipertanyakan sama sekali. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke Cibiru. Acara menginap di kosan Dani, terpaksa kubatalkan. Tak lama setelah sampai di kosanku yang kosong melompong, aku tertidur.

***

Pagi ini, aku sudah siap untuk mengikuti acara Orientasi Pengenalan Akademik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati 2017, disingkat OPAK 2017. Aku memakai kemeja putih, celana hitam, dan sepatu hitam. Di lengan kiriku, terikat pita coklat. Pita itu, menurut panitia, adalah penanda kalau aku Mahasiswa Fakultas Dakwah Komunikasi. Ah iya, Jurusanku adalah Sinematografi Dakwah. Aku tidak punya teman di kosan ini, jadi setelah semua kurasa siap, aku berangkat ke kampus, ke Auditorium Multipurpose.

Begitu sampai di depan pintu Auditorium, aku kembali teringat pada Dani dan perempuan itu. Aku memutuskan untuk tidak langsung masuk ke Auditorium, melainkan ke Fakultas. Aku tahu Dani pasti nongkrong di sana, menunggu Alvia yang hendak berangkat OPAK dari Cipadung Permai. Sampai di halaman Fakultas Dakwah, kudapati Dani tengah mengobrol dengan Alvia. Mereka tertawa dan saling memukul pundak lawannya. Begitu melihatku, Dani langsung melambaikan tangannya, mengajakku bergabung.

Di depan Alvia, aku tak berani menyinggung Dani tentang Perempuan itu. Aku enggan menyulut api di tali orang lain sepagi ini. Aku akan menunggu sampai Alvia pergi.

Kira-kira pukul setengah delapan pagi, Alvia meninggalkan kami. Ia pergi ke Auditorium bersama beberapa teman sejurusannya. Barulah, aku menyinggung Dani tentang kejadian kemarin.

"Apa yang sebenarnya yang terjadi kemarin, Dan?"

"Kamu benar-benar ingin tahu siapa perempuan itu?"

"Tentu saja! Aku ingin semuanya jelas, sejelas-jelasnya!"

"Kamu bawa buku panduan akademik fakultas kita?"

"Tidak. Aku belum punya."

"Kalau begitu beli dulu di ruang Tata Usaha. Harganya 50 ribu. Baru nanti kukasih tahu." Dani lantas pergi begitu saja. Ia masuk ke dalam Fakultas, menaiki tangga, entah menuju lantai berapa.

Aku berdiri di lantai dasar, di depan ruang Tata Usaha. Aku mendekat ke pintu ruang itu, bertanya pada bapak-bapak berjanggut lebat berkepala plontos. Ia menunjukkan sebuah meja tempat membeli buku panduan akademik itu. Aku melangkah ke sana, bertanya lagi pada ibu-ibu yang duduk di balik meja dan membeli satu buku panduan akademik. Setelah membeli buku ini, aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian sore itu di Cileunyi. Aku tengah duduk di kelas. Mata kuliah ke-satu dan ke-dua dosennya tidak datang. Mata kuliah yang ke-tiga ini, aku juga berharap dosennya kembali absen. Namun harapanku tidak terkabul. Seorang perempuan berkacamata, yang kukenal betul masuk ke dalam kelas.

"Perempuan itu!" Aku berteriak di dalam hati.

Perempuan itu lantas memberi salam dan memperkenalkan dirinya. Ia bernama Luna. Nama Lengkapnya Luna Aprilia. Ia mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, Filsafat Islam, dan Ulumul Qur'an. Riwayat pendidikannya, amat menakjubkan! Di usia semuda itu, ia sudah mendapat gelar Professor untuk bidang Filsafat, dan tiga gelar Doctor Honorist Causa dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Mendengar semua perkenalannya itu, aku segera membuka buku panduan akademik yang kusimpan di dalam tasku. Kucari nama itu, dan kudapati hal-hal yang lebih menakjubkan lagi darinya. Ah, aku malah menilai kacang hanya dari cangkangnya.

sumber gambar : HQWalls
Baca selengkapnya

Selasa, 18 April 2017

Celana Dalam


Samira tak beranjak dari kasurnya, ia masih berselimut. Wajahnya seperti bunga yang layu. Rambutnya yang panjang acak-acakan. Ia menyibak helaian rambut dari wajahnya, kemudian berguling menghadap  pintu. Samira mendapati istrinya tengah berganti pakaian dalam.

Berulang kali, setiap bangun tidur, Samira mendapati pemandangan yang menyejukkan. Ia menyukai istrinya berganti pakaian di pagi hari, seperti sekarang. Baginya, bentuk tubuh istrinya itu adalah pemandangan yang mampu mengobati sakit di matanya, bahkan melebihi hijau-hijau daun yang sering dianjurkan teman-temannya.

Samira menyunggingkan seulas senyum. Ia menggeser toples berisi air di meja di sisi kasur. Itu membuat celana dalam istrinya terlihat membesar, juga pinggul dan bagian sensitifnya.

“Berhentilah memandangiku seperti itu, Samira!” Istrinya membentak kesal. Tapi ia tetap berlanjut berganti baju.

“Aku menyukainya.” Ujar Samira. Ia memutar-mutar toples itu, sambil tiduran. Ia menganggap toples dan airnya itu sebagai aquarium erotis, dimana ikan-ikan di dalamnya berenang telanjang, dan atau memakai celana dalam saja.

“Kenapa aku mau menikahi lelaki yang bahkan sudah mesum sejak bangun tidur?” Istri Samira mendengus, sedikit kesal. Tapi di balik kekesalannya itu, ia senang.

“Kenapa dengan lelaki mesum? Bukankah itu bagus, sayang?” goda Samira. Ia belum bergerak lebih jauh di kasurnya.

“Barangkali itu bagus bagimu, tapi bagiku, sama sekali tidak.”

“Hahaha…”

“Kenapa tertawa?”

“Yang kusuka, selain melihat ini di pagi hari, adalah dalemanmu yang berbeda dengan pakaian dalam yang katanya modis itu, Mala.”

“Memangnya pakaian dalam juga harus modis? Maksudmu, kau lebih suka dengan pakaian dalam yang hanya segaris dua garis saja? Biar kutampar kau jika menjawab iya.” Mala bersungut menyumpahi suaminya. Ia duduk di depan meja rias, lalu menyisir mahkotanya yang lebat.

Samira diam. Ia hanya tersenyum di balik aquarium erotisnya.

***

Samira duduk di teras rumah. Ia duduk bersila, punggungnya bersandar manja di dinding, sementara tangannya sekali-kali asyik mencomot goreng sukun yang asapnya lama hilang. Ia menyeruput genangan hitam di cangkirnya. Samira menyempatkan diri bersantai sebelum ia mengantar istrinya belanja ke pasar.

“Kau sudah siap?” Tanya Mala. Ia menenteng tas kecil kesayangannya. Pakaiannya rapi, wanginya semerbak. Ia mempercantik penampilannya dengan balutan jilbab biru muda.

“Tentu saja.”

Mereka pun pergi ke pasar. Sepanjang jalan, Samira tak henti-hentinya mengajak Mala mengobrol. Topik obrolan mereka, akhir-akhir ini berkutat pada pakaian, itu dan itu setiap waktu. Sekali waktu, Mala merasa bosan juga kesal. Ia pun berkali-kali tak habis pikir, kenapa ia mau dinikahi Samira yang isi pikirannya hanya pasir dan daun-daun yang mati.

“Sebaiknya tunggu di sini saja. Di dalam, itu area khusus wanita.” Mala menunjuk sebuah kursi di depan toko pakaian. Ia enggan mengajak suaminya itu masuk ke dalam.

“Baiklah!” Samira duduk di sana. Ia bertingkah bak anak kecil yang diantar ibunya ke playgroup.

Tapi Samira takkan selamanya duduk manis di depan toko. Ia tentu akan ikut masuk, setidaknya sampai ia mendapati istrinya asyik memilih. Ia tahu, wanita selalu memilih dan memilih saat belanja. Kaum itu, akan terus memilih sampai benar-benar menemukan yang cocok, dengan kantong dan hasrat.

Maka, lima belas menit setelah Mala masuk, Samira masuk ke dalam toko itu. Ia berjalan santai. Samira berhenti di rak tempat kutang-kutang tergantung, hanya sebentar. Kemudian ia berjalan santai lagi, dan berhenti di rak tempat dress-dress terbaring. Ia terlihat ikuat memilih bersama kerumunan kaum hawa. Barangkali, ia terlihat tidak normal.

Lama berselang, Mala akhirnya menemukan Samira berdiri di antara ibu-ibu, di depan rak daleman bawah, berbaring manja. Darahnya segera menggunung. Dengan langkah cepat, ia mendekati kerumunan itu, lalu menarik suaminya keluar dari sana.

“Kenapa kau di sini? Ini kan area wanita.” Mala mendengus kesal. Ia mencubit perut suaminya. 

Samira mengaduh, ia tertawa setelahnya.

“Lagi-lagi tertawa. Aku heran denganmu akhir-akhir ini.” Mala mendengus, lagi. “Kenapa tertawa?”

“Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Hasratku belanja sudah lenyap.” Mala gondok pada suaminya. Ia merasa ritual penting ke-perempuan-annya hancur kali ini. Mereka pun pergi dari sana.

***

“Apa aneh akhir-akhir ini bertanya tentang daleman perempuan?” Tanya Samira saat mereka sudah sampai di rumah. Sekarang, sejoli itu duduk berdampingan di ruang keluarga. Belum ada suara-suara mungil menggema di rumah ini.

“Tentu saja. Kau laki-laki, aneh rasanya mendengarmu bertanya hal itu.”

“Aku heran saja, kenapa kamu memakai daleman yang menutupi bagian indah itu sepenuhnya. Kenapa sesekali enggak pakai yang satu-dua garis?”

“Maksudmu seperti di majalah-majalah delapan belas plus itu?”

Samira mengangguk. “Barangkali, sesekali akan mempercantik pemandangan, sayang.”

“Mungkin saja, tapi aku tak nyaman memakainya. Pakaianku, dalemanku, semuanya biasa saja. Normal, tak modis atau fashionable. Aku hanya memakai yang nyaman untukku, meski itu ketinggalan jaman sekali pun.”

“Kenapa begitu? Bukankah semakin modis, semakin indah?”

“Barangkali pendapatmu begitu, tapi aku tidak. Kadang, yang modis malah menyakiti, juga mengekspos. Sebenarnya, esensi menutup aurat bagi perempuan, bukanlah modis atau sekedar membungkus, tapi menutup bagian yang diharuskan, juga nyaman. Aku ingat, dahulu saat masih kuliah, kau pernah menulis tentang pakaian perempuan, tulisan itu kau beri judul Leupeutisasi, kan?” Mala mengambil remote tivi. Ia mematikan televisi, lalu menghadap suaminya.

“Iya, tapi sekarang tulisan itu jadi aku pertanyakan.”

“Aku tahu, segala sesuatu selalu berubah dan perlu dipertanyakan ulang.”

“Sekarang, apa kamu mau memakai daleman satu-dua garis itu? Aku sudah membelikannya untukmu.” Samira berbisik di telinga istrinya, halus.

Mala beranjak ke kamar. Ia belum menjawab permintaan suaminya. Tak lama, kepalanya menyembul di sela pintu, ia berujar, “jawabanku ada di dalam kamar.”

Baca selengkapnya

Senin, 17 April 2017

Wajah ; Bagian 3


"Pesan es kopi aja satu, tapi nanti saya pesan lagi ya" ujarku pada pelayan yang menghampiri. Ia menulis pesananku, lalu memintaku menunggu sebentar.

Aku tiba di Mehandra Cafe sekitar 30 menit lebih awal dari waktu janjian kami. Aku merasa perlu membuat kesan yang bagus pada pertemuan ini. Bukan karena aku menganggap ini pertemuan bisnis. Aku hanya merasa senang sejak tadi pagi dan kesenangan itu masih kurasakan hingga saat ini.

Pagi tadi aku mendapat email balasan dari Narta. Isinya hasil pelacakan IP address yang kuberikan kemarin, asal-usul sebenarnya dari si pemilik IP address tersebut, apa yang ia kerjakan saat ini, dan apa ia benar-benar memiliki kaitan denganku di masa lalu. Narta menyelesaikan semuanya. Ia bekerja dengan sangat baik, dan itu membuatku senang. Sebenarnya pekerjaan Narta selalu baik, bahkan sempurna. Yang membuatku senang bukan kepalang adalah identitas asli dari si pemilik IP address tersebut. Ternyata aku mengenalnya selama ini. Bahkan dua tahun lalu aku sempat menanamkan beberapa modal ke perusahaan miliknya. Aku merasa lubang kosong di dadaku itu kini mulai terisi, walau sedikit.

"Kamu di meja nomor 46?" Tanya si Rifanisa alias Rizky di telepon.

Aku melihatnya dari balkon lantai dua cafe ini. Ia nampak tergesa-gesa memakai sweater miliknya, merapikan rambut, memakai kacamata, lalu menutup pintu mobil. Ia lantas berjalan-cepat sekali ke dalam cafe. Aku sudah memberitahunya bahwa aku memang di meja nomor 46.

Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum begitu kulihat ia muncul dari tangga. Si Rifanisa alias Rizky itu menyibak rambutnya ke belakang telinga sambil berjalan ke arahku. Senyumnya belum muncul sama sekali.

"Apa kabar?" Tanyanya setelah duduk di kursi di depanku. Ia menaruh tasnya di bawah meja.

"Kabarku baik, Ky. Kamu juga baik-baik saja kan?" Ujarku. Kupanggil pelayan yang tadi melayaniku sekali lagi.

Kami memesan beberapa makanan ringan dan minuman, lalu mulai mengobrol santai. Aku sedang menunggu.

"Kamu mau bertemu seseorang kan di sini?" Rizky mengucek es jeruk miliknya. Ia memandangku. "Siapa dia?" Imbuhnya.

"Kamu pura-pura bodoh, atau mau pura-pura membodohiku, Ky?" Aku balik bertanya padanya. kulihat layar ponselku sejenak.

"Aku tahu kamu itu Rifanisa." Aku melanjutkan ucapanku. Kutatap wajah Rizky sejenak, lalu kualihkan pandanganku ke layar ponsel.

Rizky nampak belum mau bicara.

"Sebenarnya, aku tidak tahu kamu itu Rifanisa sampai tadi pagi. Awalnya aku hanya merasa suara yang kudengar kemarin sore membuat lubang kosong di sini sedikit terisi. Aku mulai merasa senang setelahnya, jadi kuputuskan untuk melacak semua hal tentang si penelepon itu." Aku menunjuk dadaku. Rasanya aku ingin banyak bicara di sini, tapi sepertinya tidak bisa begitu. Aku harus cepat menyelesaikan kalimat-kalimatku sebelum pandanganku yang tak kuinginkan terjadi.

Kepalaku mulai terasa pusing. Penglihatan jarak dekatku mulai kabur. Aku tak bisa melihat wajah Rizky dengan jelas, apalagi makanan-makanan dan minuman di depanku. Semuanya burem. Pandangan jarak jauhku sebaliknya. Aku bisa melihat dengan jelas tulisan 'Desain itu gak murah' di kaos salah satu pengunjung cafe ini. Ia berdiri kira-kira tujuh meter dari tempatku. Rupanya gejala 'gelap' itu sudah dimulai. Jadi, akan kuteruskan saja kalimat-kalimatku sekarang.

"Waktu kamu meneleponku sebelumnya, pas di De Tuik aku sama sekali tidak merasakan apapun. Mungkin karena waktu itu banyak suara lain." Ucapku. Aku masih bisa meraih gelas es kopi milikku.

Aku tak tahu bagaimana ekspresi Rizky sekarang.

"Aku betul-betul bahagia sekarang, meski aku tak tahu apa yang pernah terjadi pada kita di masa lalu, aku tak keberatan. Bagiku, yang terpenting kamu adalah Rifanisa yang ternyata telah ada di dalam lubang kosong ini untuk waktu yang lama... maafkan aku karena..." Semua sudah gelap. Baik jauh maupun dekat, yang kurasakan hanya kegelapan. Bukan hanya itu, tubuhku mulai terasa lemas, kepalaku semakin berat dan berdenyut.

"Ah, aku belum menyelesaikan semuanya..." gumamku. Kurasa aku sudah jatuh di lantai.

***

Rei sudah tahu aku adalah Rifanisa, tapi ia lupa apa yang pernah terjadi di antara kami. Ia terus bicara. Mengutarakan kebahagiaannya mengetahui bahwa ternyata Rifanisa telah ada di dekatnya selama ini, terlebih ada di dalam dadanya. Bukan dada. Ada di dalam hatinya. Aku senang mendengarnya, tapi tak cukup membuatku bahagia. Untuk apa ia ingat namaku, tahu bahwa aku ada di dalam hatinya, mengisi kekosongan di sana, tapi ia lupa apa hubungan kami di masa lalu? Aku ingin ia tidak hanya mengingatku, tapi juga mengingat hubungan kami.

Sebelumnya, memang aku sekadar berharap ia mengingatku sebagai Rifanisa. Belum terpikir olehku ia akan lupa pada hubungan masa lalu kami. Aku tidak begitu bahagia. Sebagai perempuan, wajar jika aku ingin diingat oleh seseorang yang selalu kuingat. Bukan perihal timbal-balik. Bukan perihal kewajiban. Aku cuma ingin ada di dalam hatinya, benar-benar ada. Hidup, menghidupinya lewat kenangan masa lalu kami yang barangkali akan membuatnya tertawa, dan hidup bersamanya. Aku tak ingin mati di dalam hati dan kepalanya. Jadi, Aku memilih diam dan hanya memerhatikannya bicara. Kuharap ia mengerti mengapa aku diam seperti ini.

Nampaknya ada yang ganjil dari Rei saat ini. Ia terlihat kesulitan mengambil es kopi miliknya. Tangannya meraba-raba meja, seperti tak melihat gelas es kopi itu ada di samping ponsel miliknya. Kubantu ia sedikit. Kugeser gelas es kopi itu ke dekat genggaman tangannya sampai ia bisa memegangnya. Ia tersenyum kecil. Matanya yang menatap tepat padaku, tapi terlihat seperti kosong. Kucoba mengibaskan lenganku di depan matanya, ia tidak menghindar, bahkan tidak berkedip. Ia terus berbicara, seolah hendak mengejar sesuatu. Aku mendekatinya. Kusaksikan dengan jelas wajahnya memerah, napasnya naik turun, dan ucapannya putus-putus. Kepegang tangannya, dingin sekali. Bulu kuduknya juga berdiri. Aku tak tahu apa yang ia rasakan, tapi berselang beberapa menit ia ambruk jatuh ke belakang. Ia pingsan?

Seketika beberapa orang di sekitar mengalihkan perhatian mereka pada kami. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hendak memberinya napas buatan, tapi kuurungkan. Hendak ku tekan dadanya, kuurungkan. Aku takut melakukan kesalahan yang malah akan membuatnya semakin berada dalam kondisi buruk. Akhirnya aku meminta tolong pada pelayan untuk membawanya ke mobilku. Aku akan membawanya ke rumah sakit.

Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian rapi dan memakai kacamata mengetuk kaca mobilku. Ia memintaku menurunkan kaca mobil sambil menunjuk-nunjuk Rei.

"Mbak Rizky 'kan?" Tanyanya. "Saya Sunarta, asisten pribadinya masbro Rei. Ini masbro mau dibawa ke rumah sakit?" Imbuhnya.

Aku mengiyakan.

"Sebaiknya jangan, mbak. Rumah sakit di sini belum ada yang tahu penyakitnya. Saya takut nanti mereka salah mengira dan salah memberi obat pada masbro Rei." Ujar Sunarta. Ia kelihatan bingung.

Aku membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk.

"Kita bawa ke rumahnya aja, mbak. Barangkali masih ada obat yang tersisa..." Sunarta memintaku menjalankan mobil. Ia mengeluarkan secarik kertas berisi alamat rumah Rei.

"Kalau obatnya udah gak ada gimana?" Tanyaku memastikan. Kecewa yang kurasakan sebelumnya lenyap oleh kekhawatiran. Kulihat Rei yang terbaring di kursi belakang sesekali. Ia terlihat kesakitan.

"Kalau begitu kita harus segera membawanya ke Jakarta. Di sana ada kotak persediaan masbro Rei.... cepetan, mbak." Sunarta terus memandangi layar ponselnya yang tersambung dengan jam tangan Rei. Ia tengah menghitung sesuatu, sepertinya.

Cuma lima belas menit waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke rumah Rei. Rumahnya ada di daerah Caringin Tilu. Sebuah rumah sederhana yang nampaknya cukup lama kosong. Kudapati debu menumpuk di banyak kursi ruang tamu, dua kamar yang terkunci, dapur yang isinya cuma kompor, satu panci, sendok, mangkuk, dan cangkir, juga halaman rumah yang berantakan. Aku mengelilingi rumah ini selagi menunggu Sunarta mengobati Rei. Beruntung, Rei masih memiliki persediaan obat di rumah ini. Mungkin nyawanya takkan terancam untuk sementara waktu.

Beberapa saat setelah selesai mengobati Rei, Sunarta memanggilku. Ia mengajakku minum cola di ayunan yang ada di bawah pohon jambu.

"Mbak, namanya Rizky Pramesti Dewi 'kan?" Sunarta berujar sambil menutup botol cola lalu menaruhnya di rumput.

Aku mengangguk sambil mengiyakan pertanyaan Sunarta.

"Masbro Rei pernah cerita kalau dia punya temen deket namanya Rizky, Andi, Joni, Alisia dan Alifia. Masbro bilang pengen ketemu mereka kalau sudah sembuh. Masbro juga bilang kalau dia suka sama temennya yang namanya Rizky..." Sunarta memutar-mutar cangkir di telapak tangannya. Tatapannya lurus pada kejauhan, seolah ia tengah menyelami masa lalu.

"Masbro sempet semangat banget ngejalanin pengobatan di Islandia, di rumah sakit milik mendiang buyutnya, tapi itu cuma sebentar. Setelah dia tahu kalau penyakitnya belum bisa diobati, dia jadi ogah-ogahan dan sering menyendiri. Dia sering marah-marah, bahkan gak sekali dia mencoba lompat dari atap rumah sakit." Sunarta menyalakan ponsel miliknya. Ia memutar video, lalu memberikan ponsel itu padaku.

Dalam video itu kulihat Rei tengah duduk di ranjang di sebuah kamar rumah sakit. Ia memakai baju serba putih. Badannya kurus, kepalanya plontos, kantung matanya hitam legam, tapi ia tengah tersenyum. Ia melambaikan tangannya pada kamera, lalu tertawa. Kulihat beberapa orang yang terlihat seperti perawat mendekatinya. Mereka hendak memindahkan Rei ke kursi roda... ah, ponsel Sunarta direbut seseorang dari tanganku.

"Jangan cerita yang enggak-enggak, Narta!" Ujar Rei sambil meminta Sunarta masuk ke dalam rumah. Ia yang merebut ponsel Sunarta dari tanganku. Ia lantas duduk di ayunan yang ditinggalkan Sunarta.

"Apa yang dikatakan Sunarta enggak salah sih, aku emang sakit, Ky." Rei mengambil botol cola yang tergeletak di atas rumput dan membukanya. Ia menghirup aroma cola itu, lalu menutup kembali botolnya. "Aku gak bisa makan sama minum yang manis-manis, yang asin-asin juga. Sekalinya makan, aku pasti kambuh seketika. Makananku kebanyakan hambar."

"Kamu sakit apa?" Aku memegang dahi Rei. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Rambutnya gondrongnya acak-acakan. Matanya masih terlihat sayu. Bibirnya pecah-pecah.

Rei menengadahkan wajahnya. Ia memandang lurus, barangkali ke langit, barangkali ke tempat yang jauh. "Penyakitku aneh, Ky. Belum ada dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ini..." Rei batuk-batuk. Ia menutupi mulutnya, kemudian mengelap bibir dan tangannya dengan sapu tangan hitam.

Aku menahan tangan Rei yang memegang sapu tangan saat ia hendak memasukkannya ke saku celana jeansnya. Kurebut sapu tangan itu. Bercak merah dan bau amis menempel di sapu tangan Rei. Aku memandanginya sejenak, lalu kuberikan sapu tangan itu padanya.

"Kakek buyutku mendirikan rumah sakit di Islandia untuk keperluan pengobatan keluarga." Rei mengeluarkan dua lembar foto dari dompetnya.

Itu foto ibu dan ayah Rei. Aku masih mengenali wajah dan senyuman mereka begitu melihatnya.

"Hal besar yang kuwarisi di keluarga ini adalah penyakit aneh ini. Ibu dan ayahku meninggal karena penyakit ini." Rei menatap kedua foto itu, lekat. Ia terlihat merindukan mereka. Sebentar kemudian air mata meleleh di pipinya. Ia segera mengusapnya dengan sapu tangan putih yang ia ambil dari saku celana jeansnya.

Aku bingung, tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku merasa harus menyemangatinya untuk sembuh, tapi bukan semangat yang ia butuhkan saat ini, melainkan kejelasan tentang kesembuhannya. Sudah jelas ia putus asa. Setidaknya, yg kurasakan, semangat yang kuberikan hanya akan menjadi nyala api dari korek kayu yang kecil. Langsung padam setelah menyala. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan, sungguh! Akhirnya, aku memilih untuk berdiri di depannya. Kuelus kepalanya, kucium keningnya, kupeluk dirinya. Aku diam, sementara Rei terisak.

"Aku mencoba menghapus semua yang kuingat dari masa laluku. Senyum ibu dan ayah, rumah di Bandung, senyum adik dan kakakku, juga Rifanisa -kamu. Aku berhasil. Aku merasa jika aku hanya akan mati dalam waktu dekat, sebaiknya aku tak berhubungan dengan siapapun." Rei membenamkam wajahnya di pundakku.

Aku merasa perkataan Rei barusan adalah pertanda bahwa ia enggan untuk berhubungan denganku lagi. Ia enggan memiliki ikatan dengan seseorang, karena ia merasa akan pergi lebih cepat dari orang yang menyulam kehidupan bersamanya kelak. Ah, ini rasanya penolakan paling sulit dibantah yang kutahu.

"Hasilnya, semenjak umurku 13 tahun, di sini ada lubang kosong yang menganga." Rei menunjuk dadanya. "Lubang kosong itu terus kurasakan, bahkan saat kita kuliah dulu, Ky. Aku merasa empat tahun di kampus itu hanya akan menyisakan kenangan yang akan kulupakan lagi, seperti sebelumnya." Imbuhnya. Ia masih membenamkam wajahnya di pundakku.

"Aku menderita atas pilihanku sendiri, Ky. Bukan hanya dada ini yang terasa kosong, tapi diriku juga. Aku nyaris tak bisa merasakan apapun dan aku pun merasa tidak keberatan meski menderita, dan harus mati sendirian. Aku harus menjadi benar-benar kosong." Rei batuk sesekali. Ia masih melanjutkan kata-katanya.

"Aku tak peduli lagi pada apapun. Karena kupikir aku akan hidup paling lama dua tahun lagi, aku enggan melakukan pengobatan. Aku menjauh dari berbagai hal. Aku sudah melupakan semuanya, dan menjauhi semuanya. Kupikir aku berhasil...." Rei masih batuk-batuk. Lalu ia menatapku.

Aku pun menatapnya. Kulihat darah mengalir dari hidungnya. Kuambil sapu tangan milikku, kuseka darah itu setiap kali mengalir keluar.

"Namun, secercah ingatan masa lalu itu muncul dari suaramu. Dadaku terasa hangat saat kudengar suaramu memanggilku. Perlahan, meski sedikit, lubang itu terisi. Ada ingatan tentangmu yang kulupa, tapi kamu mengingatku. Aku merasa bersyukur lubang itu telah terisi dan aku senang aku bisa merasakan bahwa kita memang dekat di masa lalu. Terima kasih, Ky." Rei memelukku erat. Ia mencium keningku. "Terima kasih, Rifanisa. Aku sudah tidak kosong lagi. Aku bisa kembali dengan tenang..." Ia berkata halus sambil tersenyum. Matanya terasa penuh ketenangan. Ia melepas tangannya dari pundakku, mengajakku berdiri, lalu berjalan menuju sebuah mobil sedan yang terparkir di depan halaman. Ia membukakan pintu mobil itu.

"Kamu harus hidup bahagia. Berumur panjang, sehat, dan punya banyak anak, Rifanisa." Ia mencium keningku sekali lagi, kemudian berlalu memunggungiku.

Aku merasa ia telah menunjukkan sebuah jalan yang harus kupilih ; meninggalkannya. Pikiran warasku memang berkata bahwa aku sebaiknya meninggalkannya saja. Ia sakit dan tak peduli pada apapun lagi. Lagi pula meski ia kaya, umurnya paling lama tinggal dua tahun, artinya jika ia mengingat semua kenangan kami, menerimaku, lalu aku hidup bersamanya, memilih berkeluarga dengannya, yang tersisa untuk anak-anakku mungkin hanya kehidupan tanpa mengenali wajah ayah mereka sama sekali. Membayangkannya saja membuatku merinding. Aku seharusnya menerima jalan yang telah ia pilihkan untukku. Aku memandang rumah itu dari dalam mobil. Semakin jauh, semakin terasa bahwa aku telah memilih jalan yang benar, semakin terasa pula sakit di hatiku.

Aku masih memandang rumah itu, semakin jauh. Barangkali aku takkan sanggup menggapainya lagi...

Bersambung...

Baca selengkapnya

Senin, 10 April 2017

Gadis Seruling 2


Bagian 2

Gumira sudah menemukan si gadis seruling saat ia baru berada di tengah desa, tepatnya di depan Kantor Desa Bahara. Ia melihat si gadis seruling mengenakan pakaian rapi. Di depannya seorang lelaki muda berwajah bersih berdiri dan kelihatan sedang mengobrol dengan salah seorang pegawai desa. Gumira lantas mengubah arah tujuannya. Ia masuk ke halaman kantor desa, melangkahkan kakinya menuju ke titik terdekat dengan si gadis seruling.

Awalnya Gumira berniat melambaikan tangan sambil memanggil si gadis seruling, tapi ia urungkan. Ia melihat si gadis seruling juga rupanya tengah di tengah percakapan dengan pegawai desa lainnya. Maka ia putuskan untuk menunggu si gadis seruling melihatnya saja, sambil ia duduk di bangku taman di halaman kantor desa. Bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya ia taruh di atas bangku. Dalam hatinya, Gumira sudah tidak sabar untuk bercengkrama dengan si gadis seruling. Ia merasa dadanya membuncah dan ingin segera melihat wajah si gadis seruling. Matanya tak pernah ia lepaskan dari sosok yang didambanya.

Tak lama kemudian, si gadis seruling tampak selesai berbincang dengan pegawai desa, begitu pula lelaki muda di depannya. Mereka kelihatan pamit pada pegawai desa itu, lalu berbalik dan undur diri. Mereka meninggalkan halaman kantor desa.

Gumira melambaikan tangannya pada si gadis seruling. Dalam hatinya ia sangat yakin jika gadis seruling itu akan menyadari keberadaannya, tapi yang terjadi justru si gadis seruling itu hanya berjalan lurus, tanpa menghiraukan lambaian dan sapaan yang diberikan Gumira. Gadis itu seperti tidak melihat Gumira sama sekali, padahal hanya ia yang ada di bangku itu, terlebih di halaman desa yang besarnya mungkin cuma 10 x 10 meter saja.

Setelah tak melihat lagi si gadis seruling, Gumira lantas bangkit dari bangku itu. Ia berdiri dan menampar wajahnya sendiri. Ia merasa dirinya harus berpikir positif : mungkin si gadis seruling memang tak melihatnya. Maka dari itu, ia segera mengambil bingkisan dodol dan manisan yang dibawanya dan bergegas pergi meninggalkan halaman kantor desa, menuju sawah dimana ia selalu bertemu dengas si gadis seruling.

Sampai di sawah, ia mendapati gubuk yang biasa menjadi lokasi pertemuan mereka kosong. Hanya sarung dengan motif kotak - kotak dan bantal lusuh yang ada di sana. Gumira tak menghiraukan kondisi itu. Ia bergegas ke sana, duduk bersila kaki, dan menaruh bingkisan yang dibawanya di dekat tiang gubuk. Ia akan menanti kedatangan si gadis seruling. Ia yakin sekali gadis itu akan datang ke sawah hari ini, seperti sebelumnya.

Hingga mentari berjalan ke ujung peraduannya, Gumira tak jua mendapati sosok si gadis seruling. Gubuk dan sawah hanya itu hanya berisi keheningan dan angin. Tanpa sapa apalagi nyanyian seruling yang merdu yang sebelumnya ia dengar. Ia menghela napas sejenak, memandang langit, lalu duduk bersandar ke salah satu tiang gubuk. Ia masih berniat menanti si gadis seruling.

"Sedang apa di sini, kang Gumira?" Sapa seorang warga tatkala Gumira tengah mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Warga itu membawa bakul berisi peralatan makan yang kosong dan memakai tudung dari anyaman bambu.

"Sedang nunggu si gadis seruling, bu. Ibu tahu dia dimana? Saya sudah menunggunya dari tadi siang, tapi tidak datang juga, padahal biasanya dia ada di sini." jawab Gumira sambil melipat sapu tangannya.

"Gadis seruling?" Tanya warga desa sembari mengangkat cetoknya sedikit. Peluh dan debu yang mengering menghiasi wajahnya. Gurat wajahnya terlihat lelah.

"Iya." Gumira menunjuk sawah di sekelilingnya, "biasanya dia diam di sini, meniup seruling sambil menarik tali ini." imbuhnya sambil menarik tali yang terhubung dengan boneka sawah dan lonceng kaleng. Seketika, boneka sawah dan lonceng - lonceng itu bergetar, menghasilkan bunyi bising yang mengusir burung - burung.

"ibu tak tahu siapa gadis seruling itu, tapi kalau anak gadis yang suka duduk di sawah ini namanya Widia, putrinya Pak Safri, rumahnya ada di ujung desa." jawab si warga desa sambil tersenyum dan menunjuk ke arah ujung Desa Bahara.

Gumira tidak melihat perumahan di arah yang dituju oleh si warga desa. Ia hanya mendapati hamparan sawah, pohon kelapa dan pohon lainnya yang menggunung. "Dimana bu? Bukannya itu cuma bukit?"

"Di balik bukit itu ada RT 13, di sana batas Desa Bahara dengan Desa Hujungtiwu dan Desa Panjalu, rumah Widia ada di sana, Kang Gumira." Si ibu menjelaskan dengan sabar.

Mendengar informasi yang begitu jelas itu, Gumira lantas berterima kasih pada si warga desa. Ia segera menggunakan sandalnya, dan bergegas berlari meninggalkan gubuk itu. Ia tidak sabar ingin bertemu, berbincang dan mendengar kembali nyanyian seruling Widia yang merdu.

Dalam perjalanannya menuju RT 13, Gumira tidak menghiraukan sapaan beberapa orang warga desa berpakaian rapi yang mengenalnya. Ia hanya berlari dan terus berlari menuju salah satu rumah di RT 13, rumah Widia. Ia ingin segera bertemu dengan dara itu. Dadanya terasa menggebu, dan napasnya menderu.

Sampai di puncak bukit, Gumira melihat perkampungan kecil di bawahnya. Hatinya terasa lega. Ia segera berjalan menuruni bukit itu, melewati jalanan dan orang - orang berpakaian rapi. Wajahnya hanya tertuju pada rumah pertama yang ia dapati di muka kampung. Rumah itu ramai oleh orang - orang berpakaian rapi. Mereka berkumpul di sekitarnya, membawa bakul, menenteng bingkisan yang di bungkus dengan plastik hitam. Para lelaki yang hadir di sana asyik berbincang sambil menghisap rokok kretek dan meneguk kopi hitam panas. Gumira berniat menanyakan lokasi rumah pak Safri pada salah satu dari orang - orang itu.

Sebelum bertanya, Gumira terlebih dahulu menghentikan langkahnya. Ia merapikan pakaiannya, rambutnya, celananya dan bingkisannya. Ia juga mengatur napasnya yang memburu, dan degup jantungnya yang menggebu. Ia menenangkan dirinya sembari memerhatikan beberapa orang dari kerumunan itu. Ia tengah memilah pada siapa ia akan menanyakan perihal rumah pak Safri tadi.

Setelah napas dan jantungnya tenang, juga pakaiannya nyaris kembali rapi seperti sedia kala, ia mulai mendekati kerumunan itu. Ia sudah memutuskan untuk bertanya pada seorang hansip berpakaian lengkap yang duduk di dekat pohon jambu. Hansip itu sedang menikmati sepiring pisang goreng yang baru saja diantarkan padanya.

"Punten, pak, bisa saya bertanya?" Tanyanya.

Si hansip menoleh sambil mengunyah potongan goreng pisang di dalam mulutnya. Ia mengangguk.

"Kalau rumah pak Safri di mana ya? Katanya ada di RT 13..." Gumira melanjutkan ucapannya.

Si hansip terlihat sedang menghabiskan kunyahannya untuk bisa bicara, tapi jari telunjuknya sudah lebih dulu mengarah ke rumah yang sejak awal sudah dilihat Gumira. Rumah yang dikerubungi banyak orang berpakaian rapi.

"Ini rumahnya, kang." tutur si hansip setelah selesai menelan isi mulutnya.

Gumira mengucapkan terima kasih pada hansip itu, tapi ia merasa heran dengan kerumunan ini. Tanpa maksud untuk kembali mengganggu acara makan pisang si hansip, Gumira bertanya sekali lagi, "ini ramai - ramai ada acara apa ya, pak?"

"Oh ini acara empat bulanannya neng Widia. Mangga ke dalam saja, kang. Akang temennya neng Widia sama Kang Rudi kan?" Hansip itu mempersilakan Gumira masuk ke dalam rumah.

Mendengar berita itu, Gumira serasa dirinya disambar petir di siang bolong. Ia merasa berat untuk melangkah. Kakinya yang tadi ia gunakan berlari, kini terasa seperti pasak yang menancap ke tanah. Tangannya yang memegang sapu tangan meremasnya begitu keras. Peluh dingin mengalir membasahi punggungnya, merembes ke kemeja yang ia kenakan. Betisnya bergetar, begitu pula pahanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kabar seperti ini.

Gumira berusaha keras mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin berbuat yang tidak - tidak di acara keluarga orang lain, apalagi ini adalah momen bahagia bagi gadis seruling yang ia puja itu. Ia berusaha melangkahkan kakinya ke depan, tapi sulit. Akhirnya ia berjalan mundur setelah berusaha berkali - kali. Ia merasa tak sanggup melihat gadis seruling pujaannya itu telah menjadi milik orang lain.

"Mau kemana, kang Gumira? Bukannya tadi akang menanyakan rumah pak neng Widia?" ujar seseorang di belakang Gumira. Sosok itu menahan langkah mundur Gumira. Ia adalah warga desa yang tadi menemui Gumira di gubuk sawah si gadis seruling.

"Akang temennya neng Widia kan? Ayo kita masuk sama - sama saja..." ajak warga desa itu seraya menarik tangan Gumira. Ia terlihat membawa bakul yang ditutupi kain batik bermotif awan mega mendung.

Gumira ikut begitu saja ke dalam rumah si gadis seruling. Ia tak kuasa menolak. Tubuhnya terasa lemas, seperti tanpa tulang belulang yang menjadi penopang. Ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, meski keringat dingin terus mengalir di dahinya. Ia merasa gelisah dan takut. Terlebih, ia merasa enggan untuk melihat lelaki yang menjadi pujaan dari gadis pujaannya. Ia tak bisa menerima itu.

"Kang Gumira..."

Gumira mendengar suara milik si gadis seruling. Suara yang merdu nan menawan. Ia rindu mendengar suara itu akhir - akhir ini.

"Kang Gumira, terima kasih sudah datang..." ujar si gadis seruling. Ia tersenyum pada Gumira. Lesung pipinya nampak seketika. Wajahnya yang oval, berhiaskan mata coklat, hidung mancung dan pipi yang kemerahan membuat sosok si gadis seruling terlihat memesona dalam pandangan Gumira. Si gadis seruling menerima bingkisan yang disodorkan Gumira dengan senang hati, lalu mempersilakannya menyantap hidangan. Di sisi si gadis seruling, tampak sosok pemuda yang tadi dilihat Gumira di kantor desa.

Pemuda itu memiliki perawakan yang tinggi, sekitar 170 cm. Kulitnya warna kuning langsat. Tubuhnya cukup berisi dan urat - urat tangannya terlihat kencang. Wajahnya oval, dengan hidung yang mancung, mata biru dan pipi yang bersih. Wajahnya memiliki kemiripan dengan si gadis seruling. Lalu rambutnya lurus dan diikat ke belakang. Pemuda itu tidak berkumis dan berjanggut. Ia mengenakan kemeja coklat muda dan celana hitam. Tampilan yang sederhana dan tampak bersahaja. Ia juga kelihatan ramah pada setiap orang yang datang, tak henti menyulam seulas senyum, mengiringi senyuman yang dilontarkan si gadis seruling.

Gumira duduk bersila kaki di dalam rumah. Di sampingnya warga desa yang tadi membawanya masuk juga duduk. Ia mulai menyentuh kue basah yang disajikan di piring - piring, sementara Gumira masih memandang lekat - lekat pada pemuda yang berdiri di samping si gadis seruling. Hatinya berdegup kencang. Dadanya panas. Tangannya terkepal. Ia merasa cemburu pada lelaki itu. Jika ia bisa, ia ingin merebut posisi itu sekarang juga.

"Ini bajigurnya, kang diminum dulu, nanti keburu dingin mah kurang enak..." ujar warga desa itu. Ia menyodorkan segelas bajigur yang masih mengepulkan asapnya pada Gumira. Ia mengetahui Gumira terus memandangi sosok pemuda di samping neng Widia. Ia tersenyum simpul. Senyum yang sulit untuk diterjemahkan.

"itu adiknya neng Widia, kang." si warga desa itu berujar sambil mengupas pisang, lalu melahapnya. Ia melirik Gumira lewat sudut matanya. Ia tersenyum simpul. "Suaminya bekerja di pelayaran. Pulangnya setahun dua kali kalau dapat libur, kalau tidak, pulangnya bisa setahun sekali, itu pun cuma 5 - 6 hari." imbuhnya sambil tetap melirik Gumira yang duduk di sampingnya.

Mendengar perkataan si warga desa, Gumira merasa hawa panas di dalam dadanya mereda, sedikit. Ia menghela napasnya. Pandangannya pada pemuda itu pun mulai mengendur, tidak setajam beberapa saat yang lalu. Dalam hati ia sedikit bersyukur bahwa pemuda itu adalah adik si gadis seruling.

Si warga desa tersenyum simpul lagi. Ia tampak menikmati emosi Gumira. Ia menebak bahwa Gumira menaruh hati pada neng Widia, tapi belum tahu jika gadis yang dipujanya itu sudah menikah dan sedang hamil. Ia mungkin akan sedikit menggodanya setelah acara ini selesai.

Setelah merasa cukup mengarahkan pandangannya pada pemuda di samping si gadis seruling, Gumira mulai meneguk bajigurnya. Ia mengambil goreng pisang lalu melahapnya. Perutnya sudah minta diisi sejak siang tadi. Ia memang masih tidak terima jika si gadis pujaannya telah dipersunting orang lain, tapi ia berpikir bisa melupakannya sejenak. Lagipula, lelaki itu sedang tidak ada di sini sekarang.

Waktu berlalu dan acara syukuran empat bulanan kehamilan Widia selesai. Semua tamu yang diundang pulang ke rumah mereka selepas sholat isya berjamaah. Sedangkan Gumira masih ada di sekitar sana. Ia ingin melihat si gadis seruling untuk kali terakhir hari itu. Ia berdiri tak jauh dari rumah Widia, bersama si warga desa.

Tak lama kemudian, Widia keluar dari rumahnya ditemani adiknya. Ia membawa nampan kosong dan mulai menaruh piring - piring kotor ke atasnya. Ia belum menyadari keberadaan Gumira.

"Hei..." Gumira menyapa Widia. Ia berjalan mendekat.

Si gadis seruling pun menoleh. Ia mendapati Gumira berdiri tepat di hadapannya. Ia menaruh nampan itu, lalu berkata, "iya, kang?"

"Kenapa tidak cerita soal ini? Kamu berniat membodohiku?" Gumira tak tahan untuk tidak melontarkan pertanyaan itu. Niat awal Gumira memang hanya ingin melihat wajah si gadis seruling untuk kali terakhir, tapi setelah melihatnya, ia tak tahan untuk tidak bicara dengannya. Namun, bukannya perkataan halus yang keluar, malah pertanyaan kasar seperti itu yang berhasil ia lontarkan. Dalam hatinya, Gumira mengutuk dirinya sendiri.

Si gadis seruling tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya, lalu berucap halus, "aku tidak berniat membodohi kang Gumira, hanya saja kukira akang sudah tahu aku sudah menikah karena akang kelihatannya cukup akrab dengan beberapa pedagang di pasar. Aku tahu soal akang dari bapak. Katanya akang pedagang sayur terbaik yang pernah datang ke Desa Bahara."

"Mana aku tahu kamu sudah menikah kalau kamu sendiri tidak menceritakannya, neng!" Gumira tidak sadar jika nada ucapannya meninggi.

"Maafkan aku, kang. Aku benar - benar tidak berniat membodohi akang."

"Ah, masa bodoh, neng! Aku jatuh hati padamu dan pada nyanyian serulingmu... aku tidak bisa menerima fakta ini."

Widia hanya diam. Ia tampaknya memikirkan perkataan yang tepat untuk menimpali pernyataan Gumira barusan.

"kamu mencintai suamimu?"

Widia memandang Gumira lekat - lekat ketika mendengar pertanyaan itu. Ia dengan pasti dan penuh keyakinan menjawab begini, "aku mencintainya dengan segenap hatiku, kang. Meskipun kami jarang bertemu, tapi aku tetap meyakini bahwa ia adalah lelaki terbaik untukku, imam yang akan menuntunku dalam gelap dan terang, pelita yang bisa kujunjung tatkala aku tersesat."

Gumira merasa dirinya disambar petir untuk kali kedua hari itu. Bulu kuduknya berdiri, keringat dingin membasahi punggung kemejanya. Hatinya menggebu, napasnya memburu. Ia merasa tubuhnya terbakar setelah mendengar kalimat terakhir. Ia mengepalkan tangannya, mengencangkan urat di wajahnya. Ia menatap Widia dengan segenap keyakinannya dan berkata, "benarkah?"

Widia mengangguk. "Selama beberapa waktu belakangan, aku berterima kasih akang mau menemaniku di sawah. Itu adalah sawah yang dibeli suamiku sewaktu ia pulang beberapa bulan lalu. Sawah dan gubuk itu menghubungkanku dengannya. Berkat akang, suasana di gubuk itu tidak sunyi. Aku bisa tahu pikiran akang, dan akang bisa menikmati nyanyian serulingku. Sebelum ini, hanya suamiku yang menikmatinya. Terima kasih, kang."

gumira mengepalkan tangannya di dalam saku celananya. Ia merasa tubuhnya makin terbakar hawa cemburu dan amarah. Ia ingin melampiaskan hal ini, tapi tidak pada gadis pujaannya. Bagaimanapun, ini salahnya sendiri tidak memastikan identitas sebenarnya si gadis seruling. Ia juga salah karena sudah seenaknya jatuh hati pada si gadis seruling. Ia mengumpulkan tenaganya, memandang lurus pada mata si gadis seruling.

"Kalau begitu, aku harap kamu dan bayimu sehat, neng." tuturnya. Ia lantas berbalik dan meninggalkan rumah itu. Ia sudah mengucapkan apa yang ingin diucapkannya.

"akang suka pada neng Widia?" Tanya si warga desa yang sejak tadi mengikuti Gumira. Ia berjalan di samping Gumira sambil berusaha menyelaraskan langkahnya dengan langkah pedagang sayur itu.

Gumira hanya diam. Namun ini membuat si warga desa yang belum diketahui namanya itu tahu kalau Gumira benar - benar menyukai Widia. Ia tersenyum sambil melirik Gumira.

"Kenapa tidak direbut saja, kang?" tanyanya. Pertanyaan yang membuat langkah Gumira terhenti sejenak sambil memandang tajam padanya.


bersambung...
Baca selengkapnya