Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2017

Generasi Menunduk


Pesatnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini memudahkan manusia untuk saling berhubungan satu sama lain, jauh dengan yang jauh, jauh dengan yang dekat, dekat dengan yang jauh, dan dekat dengan yang dekat. Komunikasi menjadi salah satu hal yang terus dikedepankan oleh produsen telepon seluler hingga saat ini. Tetapi, ternyata bukan hanya komunikasi saja yang terus diperhatikan oleh produsen telepon seluler, melainkan bagaimana telepon seluler dapat menjadi teman dekat, teman berbisnis, bahkan teman disaat pengguna hanya seorang diri.

Mungkin beberapa hal diatas pula lah yang melatarbelakangi lahirnya smartphone. Smartphone, fungsinya kini bukan hanya sebagai alat komunikasi, peralihan fungsi dari tidak hanya komunikasi kepada gaming, bussines, dan beberapa hal lain yang dapat dinikmati oleh pengguna smartphone.

Fitur-fitur yang memanjakan pengguna smartphone hari ini, telah menjadikan dunia sebagai desa dengan stau kali ‘klik’. Pembaca, sadarkah anda dengan ke-autisan yang kini melanda kaula muda? Kaula muda saat ini lebih asyik dengan smartphone-nya, kurang peka dengan keadaan sekitar, dan menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh, lebih banyak ‘tunduk’ dibanding tegak.

‘Ketundukkan’ kaula muda pada smartphone-nya dewasa ini telah menggambarkan sebuah pemandangan yang menyedihkan, meski tidak semua kaula muda terkena syndrome ‘tunduk’ ini. Ketundukkan seorang pemuda pada smartphone akan mengakibatkan dirinya kehilangan rasa empati, simpati, dan antipasti terhadap situasi di sekitarnya, ia lebih asyik dengan dunianya sendiri. Ketika seseorang tengah asyik dengan smartphone-nya mungkin kebakaran sedang terjadi tetapi ia tidak menyadarinya, mungkin perampokan sedang terjadi namun ia tak membantu mencegahnya, mungkin perbincangan hangat seputar korupsi di kelas tengah terjadi namun ia tak memerhatikannya, atau bahkan ia mencuekkan kekasihnya sendiri yang mencintainya setulus hati dan memilih bercumbu dengan smartphone miliknya, mengerikan bukan?. 

Kehadiran smartphone setidaknya memberikan manfaat komunikasi yang jauh lebih baik dan lebih mudah bagi manusia, manfaat ini sejatinya menjadi hakikat dari kelahiran smartphone itu sendiri. Namun, ternyata bukan manfaat saja yang ditimbulkan, berkat kehadiran smartphone efek negative seperti ketundukkan itu pun ikut dirasakan. Sejujurnya, sampai hari ini penulis sendiri belum mengetahui obat yang dapat menyembuhkan penyakit tunduk ini, satu hal yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca adalah jangan biarkan ia terus menundukka kepala anda.  
Baca selengkapnya

Rabu, 19 April 2017

Pelacur?


Suatu sore, aku berjalan melewati gerbang komplek di sekitaran Cileunyi. Aku sedang main ke kosan temanku di  dekat Pesantren Bustanul Wildan. Saat melewati gerbang komplek itu, temanku tiba-tiba menepuk pundakku dan mengajakku masuk ke komplek itu. Katanya, ia ada perlu dengan seseorang di dalam komplek itu. Aku ikuti saja ajakannya itu, toh aku juga sedang santai sore itu.

Sampai di depan sebuah rumah, ia mengajakku berhenti dan mencari tempat duduk. Tidak ada tempat duduk di sekitaran sana. Cuma warung kelontong mungil yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Kami pun pergi ke warung itu. Aku membeli Magnum Filter dan Teh Gelas. Temanku tidak membeli apa-apa.

Aku heran, jika memang ia ada perlu dengan seseorang di komplek ini, seharusnya ia langsung saja ke rumahnya, bukan malah duduk melongo seperti orang bego di warung seperti ini. Aku hendak mengutarakan hal itu padanya, tapi ia kemudian beranjak ke sebuah rumah warna merah muda. Rumah itu bernomor 134, ada di Blok G. Kulihat seorang perempuan, kira-kira umur 29-30 tahunan sedang menjemur di halaman rumah itu.

Jika diperhatikan dengan teramat seksama, perempuan itu bisa membuat laki-laki tidak memejamkan matanya sekitar lima menitan, tapi bisa juga lebih. Uh! Liuk-liuk tubuhnya membentuk! Apalagi dia cuma pakai tanktop dan celana jeans pendek. Rambutnya dicat warna merah marun. Kulitnya putih bersih. Bulu ketiaknya nol. Wajahnya juga bersih. Bibirnya merah. Kupikir, perempuan itu bukan perempuan baik-baik.

Temanku sedang asyik mengobrol dengan perempuan itu di teras rumahnya. Mereka seperti saling melempar cubitan, kelitikan, juga cekikikan. Melihat temanku yang akrab dengan perempuan itu, aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Siapa pula yang tidak akan berpikiran yang tidak-tidak jika melihat perempuan seperti itu, di sore hari menjelang maghrib, akrab-akraban dengan laki-laki jauh di bawah umurnya, dan bukan muhrim pula! Aku semakin mencap perempuan itu sebagai perempuan tidak baik-baik -pelacur. Tak lama minuman mereka habis, temanku dan perempuan itu masuk ke dalam rumahnya.

Kira-kira pukul setengah tujuh, temanku baru keluar dari rumah itu. 30 menit ia di dalam sana. Wajahnya terlihat cerah dan segar, seperti motor baru selesai diservis, di authorized service pula.

"Siapa perempuan itu? Kamu sering datang kemari?" Tanyaku langsung pada inti permasalahan.

Temanku tak langsung menjawab. Ia malah asyik membalas pesan-pesan singkat yang numpuk di layar ponsel pintarnya. "Kamu bakalan tahu siapa dia besok. Besok kuajak kamu ke sini lagi." Jawabnya setelah selesai membalas semua pesan singkat itu.

"Kamu pelanggannya?" Tanyaku lebih dalam. Jawabannya yang tadi, kupikir cuma sekedar pengalihan.

"Iya." Jawabnya. "Dia bakalan bikin kamu puas!" Temanku menghisap rokoknya sambil kembali membalas pesan singkat di ponselnya.

Kulihat sekilas, pesan-pesan singkat itu dari Alvia, pacar temanku. "Kamu bodoh ya? Main sama pelacur, main juga sama Alvia. Kalo mau main pelacur, putusin Alvia dong!" Tegurku tegas. Aku tak suka Alvia, yang juga teman sekolahku dulu, dipermainkan oleh Dani. Nama temanku yang ini adalah Dani.

"Aku gak permainin dia koq, Jon. Aku bisa bagi waktu. Kamu juga, santai dikit kek." Ia menjawab dengan santai.

Pertanyaan demi pertanyaan terus kulontarkan pada Dani. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Dani dengan pelacur itu. Aku juga ingin tahu apakah Dani benar-benar menyayangi Alvia atau tidak. Aku benar-benar ingin mengetahui semuanya. Namun Dani terus menerus menjawab dengan seenaknya, seolah apa yang kulihat sore tadi tidak penting untuk dipertanyakan sama sekali. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke Cibiru. Acara menginap di kosan Dani, terpaksa kubatalkan. Tak lama setelah sampai di kosanku yang kosong melompong, aku tertidur.

***

Pagi ini, aku sudah siap untuk mengikuti acara Orientasi Pengenalan Akademik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati 2017, disingkat OPAK 2017. Aku memakai kemeja putih, celana hitam, dan sepatu hitam. Di lengan kiriku, terikat pita coklat. Pita itu, menurut panitia, adalah penanda kalau aku Mahasiswa Fakultas Dakwah Komunikasi. Ah iya, Jurusanku adalah Sinematografi Dakwah. Aku tidak punya teman di kosan ini, jadi setelah semua kurasa siap, aku berangkat ke kampus, ke Auditorium Multipurpose.

Begitu sampai di depan pintu Auditorium, aku kembali teringat pada Dani dan perempuan itu. Aku memutuskan untuk tidak langsung masuk ke Auditorium, melainkan ke Fakultas. Aku tahu Dani pasti nongkrong di sana, menunggu Alvia yang hendak berangkat OPAK dari Cipadung Permai. Sampai di halaman Fakultas Dakwah, kudapati Dani tengah mengobrol dengan Alvia. Mereka tertawa dan saling memukul pundak lawannya. Begitu melihatku, Dani langsung melambaikan tangannya, mengajakku bergabung.

Di depan Alvia, aku tak berani menyinggung Dani tentang Perempuan itu. Aku enggan menyulut api di tali orang lain sepagi ini. Aku akan menunggu sampai Alvia pergi.

Kira-kira pukul setengah delapan pagi, Alvia meninggalkan kami. Ia pergi ke Auditorium bersama beberapa teman sejurusannya. Barulah, aku menyinggung Dani tentang kejadian kemarin.

"Apa yang sebenarnya yang terjadi kemarin, Dan?"

"Kamu benar-benar ingin tahu siapa perempuan itu?"

"Tentu saja! Aku ingin semuanya jelas, sejelas-jelasnya!"

"Kamu bawa buku panduan akademik fakultas kita?"

"Tidak. Aku belum punya."

"Kalau begitu beli dulu di ruang Tata Usaha. Harganya 50 ribu. Baru nanti kukasih tahu." Dani lantas pergi begitu saja. Ia masuk ke dalam Fakultas, menaiki tangga, entah menuju lantai berapa.

Aku berdiri di lantai dasar, di depan ruang Tata Usaha. Aku mendekat ke pintu ruang itu, bertanya pada bapak-bapak berjanggut lebat berkepala plontos. Ia menunjukkan sebuah meja tempat membeli buku panduan akademik itu. Aku melangkah ke sana, bertanya lagi pada ibu-ibu yang duduk di balik meja dan membeli satu buku panduan akademik. Setelah membeli buku ini, aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian sore itu di Cileunyi. Aku tengah duduk di kelas. Mata kuliah ke-satu dan ke-dua dosennya tidak datang. Mata kuliah yang ke-tiga ini, aku juga berharap dosennya kembali absen. Namun harapanku tidak terkabul. Seorang perempuan berkacamata, yang kukenal betul masuk ke dalam kelas.

"Perempuan itu!" Aku berteriak di dalam hati.

Perempuan itu lantas memberi salam dan memperkenalkan dirinya. Ia bernama Luna. Nama Lengkapnya Luna Aprilia. Ia mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, Filsafat Islam, dan Ulumul Qur'an. Riwayat pendidikannya, amat menakjubkan! Di usia semuda itu, ia sudah mendapat gelar Professor untuk bidang Filsafat, dan tiga gelar Doctor Honorist Causa dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Mendengar semua perkenalannya itu, aku segera membuka buku panduan akademik yang kusimpan di dalam tasku. Kucari nama itu, dan kudapati hal-hal yang lebih menakjubkan lagi darinya. Ah, aku malah menilai kacang hanya dari cangkangnya.

sumber gambar : HQWalls
Baca selengkapnya

Senin, 17 April 2017

Kiat-Kiat Menumbuhkan Semangat Belajar


Sebagai pelajar, tugas utama dan hukumnya wajib bagi kita adalah belajar. Di sekolah kita diajarkan berbagai macam hal, mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, hitung-hitungan, seni, olahraga dan lain sebagainya. Kita belajar dan diajarkan apa saja, dan juga berpaluang untuk menekuni sesuatu yang kita senangi. Akan tetapi, dengan banyaknya hal kita pelajari itu, bukan semangat yang muncul, justru rasa malas dan enggan belajar. Sebetulnya, inti dari kemalasan itu adalah menunda sebuah pekerjaan hari ini ke esok, esok ke lusa dan seterusnya. Setelah kita melakukan hal semacam itu, perlahan dan pasti semangat kita akan mengendur.

Nah, di sini Rumah Pelajar mau berbagi sedikit tentang kiat-kiat menumbuhkan semangat belajar

Pertama, yakin diri dan mantapkan hati. dengan meyakinkan diri dan memantapkan hati kita untuk belajar, niscaya semangat belajar di dalam diri kita akan menjadi energy positif yang menggerakkan tubuh kita dengan ringan.

Kedua, ingat dengan orang-orang di sekeliling kita. kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita seperti orang tua, kakek, nenek, kaka, adik, dan teman-teman kita. bayangkan mereka akan merasakan sesuatu yang menyakitkan seandainya kita gagal. Dan bayangkan pula ekspresi mereka saat kita berhasil.

Ketiga, jangan pernah menunda pekerjaan. selalu kerjakan apa yang menjadi tugas atau pekerjaan hari ini sampai selesai. Bila tersisa sedikit, jangan sedikit pun mencoba untuk menundanya hingga hari esok. Dengan istiqomah melakukan hal ini, semangat belajar yang kita pupuk di sanubari akan senantiasa terjaga.

Keempat, pupuk rasa iri terhadap orang yang lebih pandai. Memupuk rasa iri, bukan berarti kita membenci seseorang. memupuk rasa iri terhadap kepandaian bisa jadi berarti, jika orang lain bekerja satu kali, kita harus bekerja dua atau tiga kali. Artinya kita harus bekerja lebih keras daripada orang lain, terutama dalam belajar.

Kelima dan yang terakhir, berdo’alah selalu. Setelah semua kita lakukan, hal terakhir yang perlu dilakukan adalah berdoa. Memohon pada Tuhan agar hati kita dimantapkan dan ditetapkan dalam belajar. Dan memohon agar semangat kita terus menggebu-gebu seperti api abadi.
Baca selengkapnya

Jumat, 07 April 2017

Aku dan Demonstrasi Esok Hari


Aku mengenal lorong ini. Baunya. Suaranya. Sambil berjongkok, aku memandang ke dalam salah satu ruangan. Di sana, sekumpulan orang berkata-kata, menggerakkan bibir mereka, timbulkan bising yang hampir selalu kukenal –bising perjuangan. Aku tak bisa masuk. Ruangan sudah penuh. Yang tersisa, sekarang hanya lorong ini.

Lorong ini nyaris sepi. Tiada seorang berlalu lalang. Ruang-ruang, gelap. Hawanya, mungkin saja dingin. Tiada televisi, radio, atau alat elektronik penghibur lainnya. Ruangan-ruangan ini bukan kamar kost, bukan kamar pribadi, apalagi rumah yang bisa diperlakukan seenak perut! RUangan-ruangan ini : tempat hidup perjuangan mengalami kebimbangan, kekalutan, dan kecerahan. Ruangan ini, ada yang sediakan meja dan kursi, mirip kantor. Namun kebanyakan, tak seperti kantor, tapi yang penting bisa dipakai berkumpul dan berwacana, seperti malam ini, di Sekretariat HIMA KPI.

Aku tak mendengar segalanya. Sayup-sayup pun tidak.

Kubuka layar ponsel. Jam menunjukkan pukul 21.22, seseorang duduk di sampingku. Kami belum berbincang. Aku cuma memandang ke dalam sambil sesekali ke layar ponsel. Panggilan masuk : tiada. Pesan masuk : tiada. Ponselku seperti benda mati. Aku berpikir, barangkali ponsel telah jadi temanku yang sejati, tapi segera kubuang pikiran itu. Bagaimanapun, kupikir, teman haruslah sesuatu yang hidup, seperti manusia. Ponsel yang seolah hidup pun ternyata dikendalikan oleh manusia, yang bisa saja tak kukenali tapi kuakrabi. Perbincangan di dalam sekre semakin intim, aku masih tak mendengar apapun.

“Kang, tingal yeuh.” Pinta seseorang di sampingku.

Aku menoleh. Ia menunjukkan foto seorang perempuan. Aku tahu siapa dia. Tak usah kusebutkan.

“Gaduh pin BB na?” Tanyaku singkat, langsung pada titik yang benar-benar ingin kutanyakan tentang dara itu.

“Gaduh, kang. Ngan BBM abdi na nuju teu aktif. Teu tiasa lebet wae, teterang kunaon.” Ujarnya cukup panjang.

Percakapan kami berjalan cukup panjang, tapi takkan kutuliskan. Rasanya memalukan.

Aku mencoba mendengar apa yang diperbincangkan di dalam. Dekat dariku, sekumpulan mahasiswa –semester 3, tengah berbincang. Mereka satu kelas. Seorang kukenal sebagai Hamid, seorang lagi sebagai Rahman, lalu Ahmad Jaelani, dan yang perempuan sebagai Asmarani Dewi. Mereka berbincang cukup intim, diselingi tawa kecil, hampir silih berganti. Sesekali, salah seorang dari mereka menoleh ke dalam ruangan, sebentar kemudian kembali melanjutkan perihal di dalam perbincangan mereka yang asyik.

Aku masih mencoba mendengar apa yang diperbincangkan di dalam.

Aku masih mencoba mendengar apa yang diperbincangkan di ruangan yang penuh sesak itu.

“Break dulu, Tum?” Tanyaku pada Ridho –Ketua Umum HIMA KPI.

“Nunggu Hari dulu, Zar.” Jawabnya, lantas ia berjongkok di sampingku. Dikeluarkannya sebatang rokok.

Aku sering menyebut seseorang yang membawa sebatang rokok sebagai pembawa keris. Tak ada alasan. Ini cuma lelucon yang jarang menghadirkan tawa.

Aku terdiam. Ridho juga.

Tak lama, Hari datang bersama seorang gadis. Dari Haikal, kutahu nama gadis itu Fatin. Badannya berisi, tidak terlalu tinggi, warna kulit seperti kebanyakan orang Indonesia –sawo, ia memakai kemeja hitam, kerudung pink. Wajahnya baru sekali ini kulihat. Hari masuk ke dalam sekre, diikuti yang lain, juga Fatin. Dan perbincangan dilanjutkan.

Di dalam sekre, kudengar Hari berkata, “Mun arek maju, kudu maju kabeh. Lamun arek labuh, labuh kabeh. Montong aya nu mundur hayang meunang alusna hungkul!”

Semua orang di dalam sekre belum ada yang angkat bicara. Semuanya seperti anak kecil yang ketahuan hujan-hujanan sama ibunya.

“Saya mah, ngan bisa ngasih masukan terkait aksi isukan. Arek aksi atawa moal, eta mah tergantung kalian.” Hari berujar lagi, kali ini lebih tegas.

Semuanya masih terdiam.

Akhirnya kuketahui, aksi besok terancam gagal terlaksana. Penyebabnya, KTM yang akan kembali dituntut besok ternyata sudah lebih dahulu didapatkan kejelasannya oleh Forum Demokrasi Kampus. FDK –sebutan akrab Forum Demokrasi Kampus, mendapat titik cerah dari Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan bahwa Rektor UIN SGD akan mengadakan audiensi terkait KTM ini hari Selasa minggu depan. Ini membuat pejuang-pejuang di dalam ruangan itu kebingungan sehingga sempat menimbulkan perdebatan.

“Arek isuna bener atawa henteu oge, ningali mahasiswa turun aksi mah birokrat teh geus geumpeur!” Hari kembali berucap dengan nada berapi-api.

Beberapa orang mulai angkat bicara.

“Nya lamun kitu mah, mendingan isukan tetep turun aksi, ari ceuk saya mah.” Tutur seseorang yang aku tak tahu siapa.

“Pokona, saya mah ngan bisa mere masukan, da anu ngajalanan na mah maraneh. Sok, ayeuna obrolkeun deui terkait rek turun aksi atawa henteu na isukan. Nu penting mah, lamun rek maju kudu maju kabeh, lamun rek labuh kudu labuh kabeh!” Imbuh Hari. Lalu ia pamit dan berjalan keluar. Di luar sekre, ia lantas menyalakan korek, membakar rokok, dan menghisapnya.

Ruangan seketika hening. Seorang pun belum angkat suara untuk beberapa lama.

“Jadi, kumaha isukan teh? Arek turun aksi?” Tanya Aban pada akhirnya.

Sekarang aku tahu, pemilik suara yang mengatakan bahwa lebih baik besok tetap turun aksi adalah dia. ia memandang semua orang di ruangan itu, satu persatu. Tak ada suara keberatan berkumandang.

“Hayu!” Ucap seseorang.

“Hayu abi oge, a Aban.” Imbuh yang lain.

“Hayu.” Imbuh yang lain lagi.

Banyak lagi kata terucap setelah itu. Banyak lagi rencana yang perlu dilaksanakan sesudahnya. Banyak rasa yang akan timbul esok hari. Barangkali, salah satunya adalah kepedulian.


Bandung, 01.10 WIB

20 Nopember 2014
Baca selengkapnya

Lima Hal yang Harus Diperhatikan Saat Memilih Jurusan


Kuliah bukan lagi seperti sekolah saat SMA atau SMP. Kuliah adalah saat dimana kita akan berusaha keras mewujudkan mimpi kita menjadi nyata. Sebelum itu, kamu harus memerhatikanlima hal di bawah ini sebelum memilih jurusan saat kuliah nanti. Apa saja itu?

Minat dan Kemampuan

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah minat dan kemampuan kita. Kita minat pada hal apa dan mampu pada hal apa? Jangan sampai memilih jurusan yang tidak sesuai minat dan kemampuan kamu. Pilih sesuai dengan keduanya, karena dengan itu kamu telah menginjak langkah yang kesekian untuk mencapai mimpi itu.

Uang

Saat hendak kuliah, terutama memilih jurusan, kita harus memerhatikan faktor uang atau finansial yang kita miliki. Jika jurusan yang ingin kita masuki ternyata berada di Perguruan tinggi anu yang biayanya mahal dan kita yakin gak bisa melunasinya nanti, carilah jurusan di perguruan tinggi lain yang biayanya lebih murah tapi kualitasnya tidak jauh berbeda.

Prospek

Prospek dari jurusan yang kita masuki musti diperhatikan. Tanpa melihat hal ini, kita bisa kesulitan mendapat kerja nantinya. Masuklah pada jurusan yang kira-kira, menurut kamu, prospeknya bagus untuk bekerja di kemudian hari.

Masukan Orang Tua

Orang tua kita sudah makan asam garam kehidupan. Mereka memiliki lebih banyak pengalaman dalam hal apapun, begitu juga dalam bekerja. Mintalah masukan pada orang tuamu jurusan apa yang sebaiknya kamu masuki. Tapi itu tidak selalu menjadi acuan utama. Tugas orang tua saat anak hendak kuliah adalah menunjukkan jalan, sedangkan pilihan diserahkan sama kamu sepenuhnya.

Masukan dari Orang Lain

Ini hal lain juga harus kamu perhatiin. Orang lain itu bisa teman atau kakak kelasmu. Pendapat mereka tentang jurusan anu apa, tentang jurusan anu apa. Sekali lagi, masukan mereka hanya kamu jadikan pertimbangan, tanpa sepenuhnya harus berpegang ke sana. Pilihan sepenuhnya kamu yang menentukan.
Baca selengkapnya

Tujuan Pendidikan Menurut UNESCO


Pendidikan merupakan hak bagi seluruh bangsa tanpa memandang ras, warna kulit, suku, bahasa, batas wilayah, agama, dan lain-lain. pendidikan harus dienyam oleh siapapun, dimana pun, dan kapanpun. Siapa pun boleh mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, organisasi internasional seperti PBB melalui UNESCO telah mencanangkan tujuan pendidikan. Berikut ini adalah kutipan tujuan pendidikan dari UNESCO;

“Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ad acara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific, and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yaitu; (1) Learning to Know (2) Learning to Do (3) Learning to be (4) Learning to life together. Dimana ke empat pilar tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ, dan SQ.”

Di sini tersirat bahwa tujuan pendidikan menurut UNESCO adalah membuat manusia agar mengetahui, melakukan, menjadi dan hidup bersama. Tujuan terakhir ini adalah agar segenap manusia yang berasal dari beragam suku, bangsa, warna kulit, bahasa, dan perbedaan-perbedaan lainnya mampu hidup berdampingan tanpa mempermasalahkan status apapun. mensederajatkan manusia melalui pendidikan. Selain itu, di akhir kutipan UNESCO berasumsi bahwa pilar-pilar tersebut akan menggabungkan potensi IQ, EQ, dan SQ yang dimiliki oleh manusia.
Baca selengkapnya

Kelebihan Bersekolah di Indonesia


Indonesia, negeri yang punya pulau lebih dari seribu. Negeri yang punya potensi alam yang menakjubkan. Indonesia ibarat surge dunia. di sini segalanya ada. Negeri ini menyediakan ragam kelebihan di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Bersekolah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang umumnya sarana dan prasarananya masih tertinggal memiliki kelebihan tersendiri. Di bawah ini adalah Tiga kelebihan bersekolah di Indonesia secara umum;

Berpikir Lebih Banyak

Kelebihan bersekolah di Indonesia yang pertama adalah berpikir lebih banyak. Koq bisa? tentu saja bisa. dengan sarana serta prasana pendidikan yang kurang memadai di banyak daerah, memaksa pelajar di Indonesia untuk berpikir dua kali lebih keras dari pada pelajar di Negara lain. mereka harus mau mencari solusi dan memanfaatkan potensi seadaanya di sekeliling mereka. jika tidak ada sama sekali, mereka akan dipaksa berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan sarana untuk belajar yang baik. Hasil dari kelebihan ini adalah pelajar Indonesia menjadi kreatif dalam memenuhi kebutuhan belajarnya.

Belajar Lebih Banyak

Inilah kelebihan kedua belajar di Indonesia. Pelajar Indonesia, khususnya di daerah dipaksa agar belajar lebih banyak karena keadaan di sekitar mereka tidak mendukung. Jika orang lain belajar satu kali, pelajar Indonesia belajar dua atau tiga kali. Jika orang lain mengisi soal satu lembar, pelajar Indonesia mengisi dua, tiga atau sepuluh lembar soal. Mereka terus belajar dan belajar dan menyiasati kekurangan mereka menjadi kelebihan. Inilah kecerdasan pelajar Indonesia.

Bersikap Prihatin

Itulah kelebihan ketigabersekolah di Indonesia. Di negeri ini, pelajar dididik agar mau bersikap prihatin pada keadaan. Istilahnya hirup mah peurih (hidup itu pahit/pedih). Mereka belajar untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sebaik mungkin sekaligus berusaha meningkatkan kualitas diri secara maksimal. Selain itu, mereka pun tidak jarang terhimpit kendala keuangan. Mereka tidak diajarkan agar hidup bergantung pada sesuatu, tapi sesuatu itu harus bergantung pada mereka. Mereka mensyukuri apa yang mereka dapat. Meski begitu, prestasi pelajar Indonesia ternyata tidak mengecewakan. Mereka mampu bicara banyak di event-event pelajar internasional.


Baca selengkapnya

Kamis, 06 April 2017

Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945


Indonesia telah merdeka selama 70 tahun, mendekati satu abad. Pendidikan di negeri ini pun pasang surut seperti air laut. Negeri ini bersandar pada sebuah perundang-undangan dimana di dalamnya segala urusan Negara diatur, termasuk pendidikan. Undang-undang itu adalah UUD 1945. Apa tujuan pendidikan nasional dalam UUD 1945?
Dalam UUD 1945 yang telah diamandemen, pada pasal 31 ayat 3 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Pada pasal 31 ayat 5, menyebutkan bahwa pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Tersirat, bahwa tujuan pendidikan nasional Negara kita adalah ;
1.  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
2. Membentuk pribadi berakhlak mulia
3.  Mencerdaskan kehidupan, dan
4. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi
Baca selengkapnya