Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 April 2017

Kertas Putih


"Persetan dengan proses. Hanya orang bodoh yang ingin melewati beberapa proses untuk diterima menjadi siswa di sekolah ini. Aku tidak peduli dengan tahapan-tahapan terkutuk itu!", rajuk Aruna. Ia memukul meja belajarnya beberapa kali sampai menimbulkan suara-suara pukulan yang terdengar hingga ke mushola kecil di Rumah Coklat Tua.

kedua mata Aruna memerah. Ia duduk seorang diri di kamarnya, menghadapi meja belajar dan selembar kertas. Mulutnya beberapa kali mengucapkan sumpah serapah dan beberapa kata kasar. Ini tidak seperti Aruna biasanya. Saat ini ia tidak sadar, mungkin ketakutan.

Rumah Coklat Tua berdiri di atas tanah berumput hijau muda. Rumput yang baru tumbuh beberapa bulan ke belakang. Rumput hijau muda sengaja tak dipangkas, agar Rumah Coklat Tua mendapat pemandangan hijau di pagi hari. Aruna tinggal di Rumah Coklat Tua bersama kakeknya. Ia pindah ke sini setelah lulus sekolah menengah pertama. Malam ini ia merasa gamang, kalut dan takut terhadap kertas di hadapannya. Kertas Putih Kosong.

Aruna memukul meja beberapa kali, lagi. Kedua matanya tidak teralihkan sedikitpun dari kertas putih kosong. Kamar berukuran tiga meter menjadi tempat berlindungnya dari hujan dan panas di kota kecil ini, dan malam ini kamar ini tidak menunjukkan kegunaannya selain menjadi tempat berlindung. Beberapa foto tergantung rapi di dinding, sebagian besar foto berisi Aruna dan seorang gadis berkulit putih. Foto-foto itu dibawa Aruna ketika pindah ke sini. Berturut-turut kasur kecil dan sebuah meja kecil berjejer di samping meja belajar. Perabotan kamar Aruna sama sekali tidak berguna malam ini, termasuk foto-foto itu. Ia tidak meliriknya sekalipun.

"Sialan! Kenapa aku harus mengisi kertas terkutuk ini? Siapa pula orang bodoh yang memintaku mengisi semua kertas kosong ini semalaman? Sungguh aku hampir jadi gila karena tahapan terakhir ini", keluh Aruna. Wajahnya kusut seperti bangun tidur. Rambutnya acak-acakan, begitu juga meja belajarnya. Aruna kesal sekali dengan tahap terakhir seleksi masuk Sekolah Menengah Atas di kota kecil bernama Mewane ini. Berkali-kali ia merutuki keputusannya sendiri telah pindah ke sini.

Aruna akan benar-benar putus asa.

"Apa yang mengganggumu?", ujar sebuah suara dari balik pintu. Rupanya kakek sudah menyelesaikan urusannya di mushola kecil Rumah Coklat Tua. Ia mengetuk pintu kamar cucunya beberapa kali dan menanyakan hal yang sama.

Tiada jawaban dari dalam.

"Biarkan kakek masuk. Mungkin ada yang bisa kakek perbuat untukmu. Di sini kakek mengenal segalanya, termasuk Sekolah Menengah Atas itu beserta semua jalan pintas melewati seleksinya. Bisa saja kakek memberitahumu jalan pintas itu, apa kau tidak tertarik?", berkata kakek sedikit panjang. Lelaki berambut kelabu ini berdiri tegap. Di tangannya ia membawa beberapa lembar kertas.

Tak sepatah kata pun terucap, dari dalam.

Kakek tak berkata-kata lagi dari balik pintu. Rumah Coklat Tua telah sunyi untuk beberapa saat. Suara gesekan daun di halaman Rumah Coklat Tua nyaring terdengar ke kamar Aruna karena kesunyian yang melanda rumah ini.

Aruna akhirnya terbangun. Rupanya ia tertidur tak lama setelah merasa putus asa. Di dalam tidurnya ia mendengar suara seorang kakek yang menawarkan jalan pintas masuk ke Sekolah Menengah Atas di kota ini. Ia segera sadar dan melupakan semua keluh kesahnya sebentar. Ia beranjak menuju pintu mencari suara -seperti di dalam mimpinya. Aruna mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, berharap mendengar suara-suara seperti di dalam mimpinya. Tapi sia-sia. Rupanya kakek memilih diam sampai Aruna membuka pintu kamarnya.

Aruna sedikit kesal karena kenyataan yang didapatkannya tidak sesuai dengan mimpinya. Ia berbalik meninggalkan pintu. Ia berhenti ketika langkahnya belum mencapai kursi, lalu ia berbalik, lagi. Aruna ingin membuka pintu.

"Kakek? Apa yang kakek lakukan di pintu kamarku? Aku sama sekali tidak berharap mendengar nasihat kakek tentang bertani malam ini", kata Aruna ketika ia mendapati sosok kakek sedang berdiri di balik pintu.

"Kakek akan memberikanmu jalan pintas, bukan nasihat bertani"

"Oh ya? Ayo silakan masuk, kek. Aku sedang diganggu selembar kertas kosong malam ini. Mungkin jalan pintas yang kakek tawarkan dapat membantuku keluar dari rasa terganggu ini"

"Ini jalan pintasnya", Kakek menyodorkan beberapa lembar kertas. Semuanya berwarna putih dan masih kosong. Tak ada satu kata pun yang tertulis di permukaannya.

"Kakek memberikanku sandi"

"Ini jalan pintasnya. Kau harus mengisi kertas itu untuk mendapatkan jalan pintas masuk ke sekolah itu"

"Apa maksud kakek? Sungguh ini bukanlah jalan pintas, seperti biasanya"

"Kau sudah besar. Jalan pintas bagimu tidak pantas. Aruna! Kertas kosong itu adalah proses yang harus kau isi agar dapat diterima di sekolah itu, jika tidak, selamanya kau takkan masuk menjadi bagian dari sekolah itu, bahkan untuk berdiri di gerbangnya pun tidak.

"Mengisi kertas itu hanyalah proses kecil. Dan proses kecil ini hanya untuk masuk ke dalam satu sekolah, tidak untuk hal lain. Sungguh kecil tantangan yang dapat membuatmu putus asa... Ingatlah! tidak ada jalan pintas dalam hidup ini, semuanya membutuhkan proses yang berkesinambungan. Kertas itu adalah proses agar kau diterima. Coba kau lihat ke depan, nanti kau harus melewati proses yang lebih berat dari ini. Proses hidup; dari seorang remaja menjadi seorang yang dewasa, kemudian menjadi seorang ayah, kakek lalu meninggal. Bahkan bayi pun harus menunggu hingga beberapa tahun untuk bisa memakan gorengan karena sebelumnya ia hanya meminum susu dan tak memiliki gigi.

“Semua tahapan itu adalah proses yang harus kau lewati dan masing-masing proses mamiliki kadar kesulitan dan tantangan yang berbeda. Kertas ini hanya bagian kecil dari proses remaja yang kau hadapi. kakek yakin kau mampu melewatinya. Nah, apa yang harus kau tuliskan pada kertas itu?", kakek menerangkan panjang lebar. Ini adalah ucapan kakek yang paling panjang malam ini.

Aruna tertegun. Air mukanya sedikit berubah, tapi ia belum sepenuhnya terlepas dari rasa putus asa. Ia segera sadar dari lamunannya. Kemudian ia berkata, "Artikel! Sebuah artikel tentang teknologi, kek"

"Itu mudah sekali!", seru kakek. Ia segera menuliskan satu kata di kertas itu.

"Telepon seluler? Apa maksudnya ini, kek?"

"Kau tahu banyak tentang benda itu. Kenapa tidak kau tulis saja semua yang kau tahu tentangnya?"

Aruna bergegas mengambil pena dari meja belajarnya dan merangkai kata demi kata tentang telepon seluler. Ia baru mengerti bahwa dirinya lemah dan mudah putus asa terhadap sebuah proses. Ia meyakini apa yang dikatakan kakeknya adalah benar. Lalu ia memandangi rangkaian foto di dinding kamar sambil tersenyum dan malam pun semakin larut hingga keesokan harinya Aruna bangun kesiangan di pagi ke-empat belas bulan Juni tahun 1986.
Baca selengkapnya

Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945


Indonesia telah merdeka selama 70 tahun, mendekati satu abad. Pendidikan di negeri ini pun pasang surut seperti air laut. Negeri ini bersandar pada sebuah perundang-undangan dimana di dalamnya segala urusan Negara diatur, termasuk pendidikan. Undang-undang itu adalah UUD 1945. Apa tujuan pendidikan nasional dalam UUD 1945?
Dalam UUD 1945 yang telah diamandemen, pada pasal 31 ayat 3 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Pada pasal 31 ayat 5, menyebutkan bahwa pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Tersirat, bahwa tujuan pendidikan nasional Negara kita adalah ;
1.  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
2. Membentuk pribadi berakhlak mulia
3.  Mencerdaskan kehidupan, dan
4. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi
Baca selengkapnya

Selasa, 04 April 2017

Wajah : Bagian 2


Aku melihatnya. Dia duduk sendirian di meja nomor 44, persis seperti yg kukatakan. Aku memang memesan meja itu, tapi bukan atas nama Rizky Pramesti Dewi. Aku memesannya atas nama Rifanisa. Itu namaku dahulu. Aku mengubah namaku menjadi Rizky sejak kelas satu SMP. Ah ya, waktu itu aku diadopsi keluarga Pramesti dan diboyong ke Bandung. Aku memulai kehidupan baruku di kota itu.
Aku masih mengingatnya. Tawanya, teriakannya, wajahnya, bahkan aku masih menyimpan gantungan kunci pemberiannya. Ia tetap sama dengan saat terakhir kali kulihat dua tahun lalu ketika wisuda. Rambutnya gondrong, dibiarkan tergerai. Kumis dan janggutnya tidak nampak, barangkali belum lama ini dibersihkan. Ia memakai sweater coklat, celana jeans abu-abu selutut, dan sandal jepit hijau. Ia terlihat lusuh, bahkan jika dilihat sekilas, kupikir orang-orang akan mengiranya gembel, tapi ini yang benar-benar tidak berubah darinya. Aku menyukainya.
"Kamu lihat apa?" Alisia mengibaskan tangannya di depanku.
"Aku gak lihat apa-apa koq." Ujarku sambil menyedot jus tomat milikku.
"Beneran?" Sejenak, Alisia memberi tatapan yang nampak bertanya-tanya padaku, kemudian Ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke permukaan meja, berdiri, menoleh padaku sebentar, tersenyum dan duduk lagi.
"Aku tahu apa yang kamu lihat." Bisiknya, lalu disusul tawa pelan.
"Oke...oke...oke...! Sekarang kita berdiri dulu," Joni mengangkat gelas cola miliknya sambil mengajak yang lain. Ia kelihatan sumringah. "Semoga, user kita terus bertambah dan kinerja kita semakin baik! Selamat buat 12 juta user!" Imbuhnya penuh semangat dan gelas kami pun beradu, bersulang.
Joni sebetulnya ingin bersulang bir atau alkohol, bukannya cola, tapi karena di Indonesia, khususnya di Bandung alkohol tidak dijual secara bebas, makanya kami memutuskan untuk bersulang cola dan jus saja. Lagipula, alkohol buruk untuk tubuh dan dilarang dalam dalam islam, agamanya si kembar Alifia dan Alisia.
Ah, Donatello, perusahaan yang kudirikan bersama Andi, Joni, Alisia dan Alifia 2 tahun lalu, selepas wisuda, kini sudah mulai dewasa. Donatello bersama user-usernya yang tersebar di seluruh dunia akan bertumbuh, barangkali semakin besar, bisa juga mati. Tiada yang tahu. Hanya yang jelas, kelahiran dan pertumbuhan Donatello tidak disertai kehadiran pemilik ide yang sesungguhnya, orang yang memberikan kami mimpi ini ; Rei.
Kami berbincang-bincang santai, makan-makan juga, minum-minum, maen games juga. Kami berlima menikmati waktu ini dengan perasaan yang membuncah di dada. Ah, barangkali kecuali aku. Aku sesekali mencuri pandang ke meja nomor 44. Sekadar memastikan Rei masih di sana, apa yang ia lakukan, apa ia membawa temannya. Sekitar pukul lima sore, acara santai ini selesai.
"Bukannya itu Rei?" Joni menunjuk meja nomor 44 saat kami hendak keluar. Ia mendekati meja itu. Barangkali memastikan bahwa itu benar-benar Rei.
Setelah ia yakin itu Rei, ia melembaikan tangannya, mengajak kami ke sana. Selanjutnya yang terjadi adalah seperti yang sudah diceritakan Rei pada bagian sebelumnya.

***

Aku ingin mengakui diriku sebagai Rifanisa di hadapan Rei sejak bertemu kembali dengannya 7 tahun lalu saat masuk kuliah. Saat itu kami sedang dalam masa orientasi kampus, dan secara tidak sengaja tergabung dalam kelompok mentoring beranggotakan 10 orang. Aku mengenalinya, bahkan nyaris melompat dan memeluknya, tapi saat itu ia menganggapku orang yang belum dikenalnya. Ia memulai dengan sopan, bertanya perihal namaku, asal daerahku, dan jurusan yang kuambil. Ia menggunakan Bahasa Indonesia! Aku pun mengurungkan niatku, dan menunggunya mengenaliku.
Aku sering mengikutinya selama di kampus. Bisa dikatakan, aku seperti bayangannya. Akhir semester dua kuliah, aku mulai dekat denganya (lagi). Aku dikenalkan pada Joni, Andi, Alisia dan Alifia. Keempat orang itu kebetulan satu kosan dengan Rei, dan punya hobbi yang sama ; blogging. Kehidupan kampusku berlanjut sampai lulus, tanpa dikenali Rei sebagai Rifanisa.
Tadi sore aku ingin memberitahunya bahwa aku adalah Rifanisa. Aku sudah menyiapkan diriku, setidaknya 50 persen. Aku akan memberitahunya tanpa basa-basi. Aku ingin mengakui bahwa aku adalah teman bermainnya lima belas tahun lalu. Gadis kecil yang dulu membuat janji dengannya untuk bertemu kembali jika kami terpisah dan hidup bersama sampai tua. Namun pengakuan itu terhalang acara perusahaan yang nyaris kulupakan.
"Kenapa aku sangat ingin ia mengingatku?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku punya alasan yang jelas. Aku juga punya alasan yang bisa disebut klise.
Begini, dua bulan lalu Joni melamarku. Ia sudah membawa keluarganya pada keluargaku dan mengutarakan keinginannya. Ia melakukan lamaran itu, menurutku, secara tiba-tiba, tetapi ia menyangkalnya. Ia mengakui perasaannya padaku malam itu. Ia mengakui perasaannya tumbuh untukku sejak pertama kali Rei memperkenalkanku padanya. Berarti sudah tujuh tahun! Aku belum menjawabnya sampai hari ini. Aku merasa harus mengetahui Rei mengenaliku sebagai Rifanisa atau tidak, apa ia ingat tentang janji yang kami buat lima belas tahun yang lalu, dan bagaimana perasaannya padaku. Aku merasa masih harus memastikan semuanya. Ah, dan satu lagi, aku ingin tahu kenapa ia menghilang begitu saja setelah kelulusan.
Kurasa beberapa alasan yang kusebutkan sudah cukup. Aku tinggal mengakui segalanya, bertanya pada Rei, dan mendapatkan jawaban. Kesiapan diriku sepertinya sudah bertambah, kini 60 persen.

***

"Kamu benar-benar akan mengakuinya besok?" Alisia berbisik padaku sesaat sesudah kami duduk di meja kantin. Ia mulai membuka saus tomat miliknya.
Aku mengangguk sambil mengaduk bubur kacang ketan hitam milikku.
"Betulan yakin?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk sambil menuangkan santan di permukaan bubur, lalu mengaduknya.
"Yakin, yakin, yakin, yakin, yakin?" Sekali lagi ia memastikan.
Aku mulai melahap buburku, tanpa mengangguk atau berkata. Alisia akan tahu jawabanku.
"Yasudah.... semoga berhasil kalau begitu. Persiapkan juga dirimu untuk kemungkinan terburuk." Alisia mulai memakan jatah makan siangnya. Seperti biasa, ia tidak menghiraukan sapaan dari karyawan-karyawan kami.
"Tapi nih, kalo aku boleh berpendapat, kamu mendingan lupain aja bikin si Rei inget sama kamu. Soalnya ya, kamu udah dilamar, tinggal jawab, cowok yang lamar kamu udah kamu kenal baik selama tujuh tahun, pekerjaannya menjanjikan dan kerjanya bareng kamu dan yang terpenting dia sayang banget sama kamu. Kurang apalagi coba?" Ujar Alisia panjang lebar. Ia berhenti makan sejenak. Mengambil pena, merobek secarik kertas, dan menuliskan semua yang ia sebut tadi. Ia membagi dua kertas itu. Satu tertulis nama Rei, satu lagi nama Joni. Ia menyodorkan keduanya padaku.
"Kamu bayangin kalo keduanya proposal investasi, mana yang lebih menjanjikan?" Ia lanjut makan.
Aku melihat dua kertas itu. "Pasti kebanyakan orang pilih proposal yang Joni. Soalnya udah jelas. Proposal yg Rei masih tanda tanya gede, tapi yang tanda tanya gede itu biasanya penuh tantangan dan keuntungan..." aku mengetukkan jari telunjukku pada kertas Rei.
"Pikiran kamu emang kadang-kadang miring ya, Ky." Ucap Alisia seraya meremas kertas-kertas itu, lalu melanjutkan makan.
Aku tahu kalau aku menolak lamaran Joni, yang tersisa untukku hanya ketidakpastian, tapi aku tak bisa membiarkan ketidakpastian itu tetap begitu saja. Aku harus membuatnya jelas. Mengekplorasinya walaupun sedikit, mempelajarinya meski sedikit, sampai setidaknya aku akan mendapat sebuah kejelasan. Aku akan menemuinya dan mengakui segalanya besok.

***

Beberapa saat yang lalu aku menerima sebuah telepon dari si bodoh Rifanisa. Aku membiarkannya menaruh pesannya di mesin penjawab agar aku tidak perlu bicara pada orang yang tak kukenal. Aku akan mendengarkan pesan itu sekarang.
Si Rifanisa itu meminta maaf tidak datang pada pertemuan pertama kami. Ia mengaku menyesal karena ia yang mengajak, ia juga yang mengingkari. Ia mengutarakan keinginannya untuk bertemu sekali lagi, yaitu besok jam tiga sore di Mahendra Cafe, di depan kampus Itenas. Aku tidak mengiyakan permintaannya, tapi aku akan datang besok.
Beberapa saat setelah mendengar suaranya, aku merasa lubang gelap di dalam diriku mendapat setitik cahaya. Aku merasa suara itu akan menuntunku pada sesuatu yang telah lama kulupakan sampai membuat lubang ini terasa semakin gelap dan kosong. Aku mencoba mengingatnya. Kumulai dari nama pemilik suara itu yang sesungguhnya, lalu wajahnya, kebiasaannya, kalimat khasnya, kata kesukaannya, hobinya, apapun yang bisa kuingat! Ternyata ingatanku tentang pemilik suara itu hanya samar-samar. Namu, jauh di dalam hatiku, aku merasa dekat dengannya selama ini. Aku merasakan kehangatan.
Kehangatan dan kedekatan yang kurasakan itu ternyata mulai membuatku takut. Aku takut karena tak bisa mengingatnya dengan jelas, apalagi mengenalinya. Aku takut lubang hitam itu akan semakin menghitam. Aku takut.
Kemudian aku mendapat sebuah pemberitahuan pertemanan di Facebook. Aku membuka pemberitahuan itu, lalu mengkonfirmasinya. Si pemilik akun yang baru saja menambahkanku mengirimiku sebuah pesan basa-basi. Kuacuhkan saja. Lalu kulihat nama si Rifanisa di daftar riwayat percakapan Facebook-ku. Aku tahu apa yang bisa kulakukan!
"Halo... halo, masbro! Masbro ada dimana? Pak sekretaris nyari-nyari dari seminggu yang lalu lho, masbro! Masbro, baik-baik aja kan? Ada yang kerasa lagi apa enggak? Harusnya masbro gak ngilang begitu aja dong... masbro kan harus dirawat..." Sunarta langsung ngomong panjang lebar begitu ponselku aktif. Ia terdengar khawatir
Aku tersenyum sendiri.
"Sudah ngomongnya?" Ujarku. Isak tangis Sunarta dapat kudengar dengan jelas. Kupikir ia sangat mengkhawatirkan keadaanku. "Aku baik-baik saja, Narta. Aku di Bandung sekarang. Bisa tolong lakukan satu hal untukku?"
"Apa, masbro?"
"Aku takkan mengatakannya di telepon. Aku tahu kamu sedang melacakku lewat telepon kan? Dan si bapak sekretaris itu sedang melacakku lewat kamu. Siapkan email-mu yang biasa! Aku akan mengirimkannya sekarang."
"Oke deh. Padahal saya kepingin ngobrol dulu, masbro.." Narta terdengar kecewa, tapi ia nampaknya mengerti aku enggan ditemukan.
"Jika sudah, segera kirimkan hasilnya. Aku akan memberitahumu dimana aku berada." Ujarku sambil memutus sambungan telepon.
Waktu sampai pertemuan besok masih 18 jam.

bersambung...
Baca selengkapnya

Anime Winter 2017 Terbaik Part 2



Anime winter 2017 sudah pada selesai tayang, nah oleh karena itu, di sini akan kami tampilkan anime – anime winter terbaik dengan rating tinggi, yaitu 7,5 ke atas yang tentunya akan sangat sayang untuk kamu lewatkan begitu saja. Daripada lama- lama, langsung saja kita cek ya…


6. Yowamushi Pedal : New Generation


Tipe : TV
Episode : 25
Status : Sedang Tayang
Tayang : 10 Januari 2017 –
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Kamis, pukul 01:35 (JST)
Produser : TOHO Animation
Studio : TMS Entertainment
Sumber : Manga
Genre : Comedy, Drama, Sports, Shounen
Durasi : 23 menit per episode
Rating : PG-13 Remaja
Skor : 8.01

7. Kuzu no Honkai

Tipe : TV
Episode : 12
Status : Selesai tayang
Tayang : 13 Januari 2017 – 31 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Jumat, pukul 00:55 (JST)
Produser : Aniplex, Dentsu, Square Enix, Fuji TV, Kyoraku Industrial Holdings, Kansai Telecasting Corporation
Studio : Lerche
Sumber : Manga
Genre : Romance, Drama, School, Seinen
Durasi : 22 menit per episode
Rating : Dewasa
Skor : 7.93

8.  Demi-chan Wa Kataritai

Tipe : TV
Episode : 12
Status : Selesai Tayang
Tayang : 8 Januari 2017 – 26 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Produser : Aniplex, Kodansha
Studio : A-1 Pictures
Sumber : Manga
Genre : Slice of Life, Seinen, School, Fantasy
Durasi : 23 menit per episode
Rating : PG-13 Remaja
Skor : 7.84



9.  Ao no Exorcist : Kyoto Dujouou-hen

Tipe : TV
Episode : 12
Status : Selesai Tayang
Tayang : 7 Januari 2017 – 25 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Sabtu, pukul 01:55 (JST)
Produser : Aniplex, Dentsu, Mainichi Boradcasting System, Movic, Shueisha
Studio : A-1 Pictures
Sumber : Manga
Genre : Action, Shounen, Fantasy, Supernatural, Demons
Durasi : 24 menit per episode
Rating : PG-13 Remaja
Skor : 7.82

10. ACCA : 13-ku Kansatsu-ka

Tipe : TV
Episode : 12
Status : Selesai tayang
Tayang : 10 Januari 2017 – 28 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Selasa, pukul 23:00 (JST)
Produser : Bandai Visual, Square Enix, Nihon Ad Systems, Banpresto, Medicos Entertainment, BS11, Sony PCL,
Studio : Madhouse
Sumber : Manga
Genre : Police, Drama, Seinen, Fantasy
Durasi : 24 menit per episode
Rating : 17+
Skor : 7.76
Baca selengkapnya

Anime Winter 2017 Terbaik Part 1


Anime winter 2017 sudah pada selesai tayang, nah oleh karena itu, di sini akan kami tampilkan anime – anime winter 2017 terbaik dengan rating tinggi, yaitu 7,5 ke atas yang tentunya akan sangat sayang untuk kamu lewatkan begitu saja. Daripada lama- lama, langsung saja kita cek ya…

1. Shouwa Genroku Rakugo Shinjuu : Sukeroku Futatabi-hen


Tipe : TV
Episode : 12
Status : Selesai tayang
Tayang : 7 Januari 2017 – 25 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Sabtu, pukul 02:25 (JST)
Produser : DAX Production, King Record
Studio : Studio Deen
Sumber : Manga
Genre : Drama, Josei
Durasi : 24 Menit per episode
Rating : PG-13 Remaja
Skor : 8.95

2. Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku Wo! 2


Tipe : TV
Episode : 10
Status : Selesai tayang
Tayang : 12 Januari 2017 – 16 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Kamis, pukul 01:05 (JST)
Produser : Tokyo MX
Studio : Studio Deen
Sumber : Light Novel
Genre : Adventure, Comedy, Magic, Fantasy, Supernatural
Durasi : 23 Menit per episode
Rating PG-13 Remaja
Skor : 8.41

3. 3-gatsu no Lion


Tipe : TV
Episode : 22
Status : Selesai Tayang
Tayang : 8 Oktober 2016 – 18 Maret 2017
Premiere : Fall 2016
Waktu Tayang : Sabtu, pukul 23:00 (JST)
Produser : Aniplex, Dentsu, NHK, Hakusensha, Asmik Ace Entertainment, Toy’s Factory
Studio : Shaft
Sumber : Manga
Genre : Game, Slice of Life, Seinen, Drama
Durasi : 25 menit per episode
Rating : PG-13 Remaja
Skor : 8.36

4. Youjo Senki


Type : TV
Episode : 12
Status : Selesai Tayang
Tayang : 6 januari 2017 – 31 Maret 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Jumat, pukul 22:00 (JST)
Produser : Media Factory, AT-X, Enterbrain, Sony Music, Communications
Studio : NUT
Sumber : Light Novel
Genre : Military, Magic
Durasi : 24 menit per episode
Rating : 17+
Skor : 8.21

5. Kobayashi-san Chi no Maid Dragon


Tipe : TV
Episode : 13
Status : Selesai Tayang
Tayang : 12 Januari 2017 – 6 April 2017
Premiere : Winter 2017
Waktu Tayang : Kamis, pukul 00:00 (JST)
Produser : Lantis, Pony Canyon, ABC Animation
Studio : Kyoto Animation
Sumber : Manga
Genre : Slice of Life, Comedy, Fantasy
Durasi : 24 menit per episode
Rating PG-13 Remaja
Skor : 8.13
Baca selengkapnya