Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2017

Jalan Dakwah Seorang Jurnalis


Menyoal Jurnalisme Islam

Saya pernah membaca karya Andreas Harsono –Agama Saya Adalah Jurnalisme. Di dalam buku itu, Andreas Harsono menulis sebuah esai tentang Jurnalisme Islam. Isi esai dengan judul Jurnalisme Islam itu ternyata penyangkalan Andreas terhadap Jurnalisme Islam. Saya tidak menganggap dia menghina Jurnalisme Islam, justru sebaliknya. Saya memerhatikan dan menerima apa yang ia tulis dalam salah satu esainya itu. Menurut saya, apa yang Andreas tulis dalam esainya itu adalah sebuah kritik yang musti dipertimbangkan kembali oleh setiap orang yang menganggap Jurnalisme Islam sebagai cabang ilmu Jurnalistik.

Andreas menganggap Jurnalisme Islam sebagai sebuah propaganda. Menurutnya, bila ada Jurnalisme Islam, tentu ada Jurnalisme Kristen, Jurnalisme Budha, Jurnalisme Hindu, Jurnalisme Konghucu dan Jurnalisme agama lainnya. Andreas menuliskan dalam esainya bahwa tidak ada hal yang baru dalam Jurnalisme Islam. Unsur-unsur Jurnalisme Islam tetap sama seperti Jurnalisme kebanyakan, jadi menurut Andreas, Jurnalisme Islam tidak pantas disebut sebagai cabang baru ilmu jurnalistik.

Saya menerima apa yang Andreas tuliskan dalam bukunya itu. Kenapa tidak? Saya merasakannya. Di sini tidak ada Jurnalisme Islam, yang ada Jurnalisme Dakwah. Waktu saya semester tiga, disajikan dua mata kuliah tentang ilmu jurnalistik : Pertama, Pengantar Ilmu Jurnalistik, kedua Jurnalisme Dakwah. Isi kedua mata kuliah itu sama, yang membedakan keduanya hanya label dakwah dan Islam.

Tujuan Jurnalisme Dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah menyebarkan kebenaran. Kebenaran adalah hal yang relatif. Kebenaran bergantung pada ‘dimana’ dan ‘kapan’ kita berdiri. Kebenaran yang berlaku di tanah sunda, tentu berbeda dengan kebenaran yang berlaku di tanah Batak atau tanah Minang, tetapi semua daerah memiliki satu kebenaran yang sama. Semua daerah pasti menganggap bahwa membunuh, mencuri dan korupsi adalah hal yang buruk.

Selain menyebarkan kebenaran, tujuan jurnalisme dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah membentuk masyarakat yang baik. Ada sebuah jargon yang mengatakan semakin baik kualitas jurnalistik di suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas masyarakatnya. Siapapun yang menggeluti dunia jurnalistik tentu akan sepakat dengan hal ini.

Menyikapi jurnalisme islam dan jurnalisme pada umumnya, saya teringat pada profesi dunia ini. Profesi dunia jurnalistik salah satunya adalah wartawan. Wartawan adalah profesi dunia jurnalistik yang mengharuskan pengampunya tidak mengenal ruang dan waktu. Ia tidak memiliki jam kerja, tidak mengenal lelah serta mengharuskan pengampu profesi ini tidak mengeluh. Selain itu, seorang wartawan juga harus mengabarkan sesuatu secara benar. Jika pada awal kemunculannya seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa apa adanya, sekarang seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan sebuah sudut pandang. Itulah wartawan.

Apakah ada benang merah antara wartawan dengan dunia dakwah? Tentu ada. Seorang wartawan tidak beda halnya dengan seorang da’i. Ia bekerja menyajikan kabar dengan panduan kebenaran. Bill Kovach dan Tom Rossentiel dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalistik yang disadur oleh Andreas Harsono mengatakan bahwa seorang wartawan musti mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran yang dianutnya. Kebenaran ini yang menuntunnya menjadi seorang da’i. Pendapat dua pakar jurnalistik Amerika ini tentu menegaskan bahwa wartawan dengan da’I memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyebarkan kebenaran.

Tidak hanya pendapat kedua pakar itu, saya juga menemukan sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa seorang wartawan adalah seorang da’i. Pendapat ini saya sadur dari buku Jurnalisme Universal karya Suf Kasman. Dalam buku ini, ia menjelaskan ayat pertama surat Al-qalam. Menurutnya, arti kata Nun dalam ayat pertama surat itu adalah tinta dan kata kalimat selanjutnya dalam ayat itu ia tafsirkan sebagai tugas seorang jurnalis atau wartawan. Suf Kasman menganggap bahwa ayat ini adalah ayat tentang dunia jurnalistik. Suf Kasman berpendapat sama seperti halnya Bill Kovach dan Tom Rossentiel, bahwa seorang wartawan harus mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran universal yang berlaku di masyarakat.

Apakah cukup dengan hanya mengabarkan dengan berpegang teguh pada kebenaran? Saya rasa tidak. Saya mengamini Sembilan Elemen Jurnalistik yang dimiliki Kovach. Salah satu dari kesembilan elemen itu adalah mendengarkan hati nurani. Seorang wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri dalam pengabaran yang ia lakukan, karena hati nurani akan tahu hal yang baik dan buruk.

Saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik multi-agama di Gereja Kristen Indonesia medio November 2012 lalu. Panitia pelatihan itu mendatangkan orang Kompas yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia jurnalistik. Ia adalah Peppih Nugraha. Kang Peppih, begitu ia disapa di pelatihan, pernah bertugas di Poso sewaktu terjadi konflik antara Islam-Kristen di sana. Sebagai seorang manusia biasa, ia mengaku takut, tapi pekerjaannya sebagai wartawan memaksanya untuk bertahan. Ia melihat huru hara, darah yang tertumpah dan tangisan di sana sini. Kala itu, Peppih melakukan pengabaran berdasarkan rasa kemanusiaan dan apa yang ia lihat di sana. Ia menulis berita tentang kesedihan anak-anak Poso, korban kejadian, nasib mereka selama konflik, dan sikap serta kegagalan pemerintah menenangkan konflik itu. Salah satu beritanya yang menampar pemerintah waktu itu adalah kegagalan putri presiden Megawati Soekarnoputri mendarat di tanah Poso. Tulisannya berdampak signifikan terhadap pemerintah dan konflik. Pasca kegagalan pendaratan itu, pemerintah langsung menginstruksikan ABRI untuk bertolak ke Poso guna mengamankan konflik.

Dari pengalaman kang Peppih tersebut, saya artikan bahwa mendengarkan hati nuraninya sendiri salah satunya adalah membiarkan diri kita bekerja atas dasar rasa kemanusiaan. Mayarakat kaya akan rasa kemanusiaan. Banyak orang dirugikan karena keputusan keliru pemerintah, banyak orang menangis karena perilaku pemerintah yang senonoh dan banyak orang tertindas karena kebijakan pemerintah. Orang tertindas, orang yang dirugikan, dan orang yang menangis ada di masyarakat. Di sini, mereka seharusnya dibela oleh seorang wartawan lewat tulisan-tulisannya yang dibaca banyak orang. Ketika melakukan hal ini, wartawan bekerja atas dasar rasa kemanusiaan yang besar.

Wartawan seperti halnya da’I, mereka adalah tonggak perubahan. Wartawan dan da’I sama-sama mengubah kebiasaan buruk menjadi baik, hitam menjadi putih, dan bias menjadi jelas. Masyarakat yang gemar membuang sampah sembarangan akan berubah karena wartawan.

Wartawan berdakwah melalui tulisan. Ia ibarat korek yang memantik api melalui tulisannya yang dimuat di surat kabar dan dibaca oleh khalayak yang heterogen. Cakupan dakwah seorang wartawan yang heterogen dan tidak terbatas ruang dan waktu menjadikannya lebih berpegaruh ketimbang da’I yang berdakwah dari panggung ke panggung. Semakin berkualitas tulisan dan kabar yang disajikan seorang wartawan, semakin besar pula pengaruhnya.

Laku dakwah seorang wartawan dan da’I sebenarnya sama. Keduanya sama-sama bekerja atas dasar kebenaran, rasa kemanusiaan, dan mengubah sesuatu. Hal yang membedakan keduanya hanya nama dan media. Perpektif masyarakat kita biasa menyebut orang yang menyeru dari panggung ke panggung sebagai da’I, sedangkan wartawan yang menyeru melalui tulisannya tetap disebut wartawan. Kemudian media dakwah keduanya yang berbeda pun membuat masyarakat kita membedakan keduanya, tetapi hakikatnya baik wartawan maupun da’I adalah sama. Hanya jalan yang membedakan laku dakwah keduanya.
Baca selengkapnya

Jurnalis : Pemantik Cahaya


Nun, Walqalami wama Yasturuun

Nun, Demi Qalam dan apa yang mereka tuliskan… (Q.S Al-Qalam)

Ayat ini mungkin tak asing bagi sebagian orang, khususnya mereka yang bergelut di dunia tinta dan kertas. Kuli Tinta, begitulah ungkapan yang cukup pantas untuk disematkan kepada mereka yang bergelut di dunia jurnalistik. Dunia jurnalistik adalah dunia yang erat kaitannya dengan tulis dan baca. Mereka ibarat langit dan bumi yang tak bisa dipisahkan. Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang teramat mudah. Sejak sekolah dasar, setiap kepala sudah diajarkan untuk menulis, membaca dan mengabarkan, bahkan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar, beberapa orang tua mulai mengajari anak mereka menjadi seorang ‘jurnalis’. Dunia jurnalistik sangat dekat dengan kita, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun.

Dua ayat yang saya sajikan di atas memuat tentang menulis atau menjadi jurnalis –setidaknya itulah kesimpulan pertama saya. Dalam buku Jurnalisme Universal, Suf Kasman, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Qalam adalah mereka yang menulis/jurnalis, sedangkan nun adalah tinta. Kegiatan jurnalistik erat kaitannya dengan menulis, menulis hampir selalu membutuhkan tinta, sebab tinta adalah senjata gerombolan pemantik cahaya ini. Menjadi jurnalis merupakan pekerjaan yang mudah, siapapun dari kita adalah jurnalis, dimanapun, dan bagaimana pun keadaannya.

Pekerjaan seorang jurnalis adalah mencatat, menulis dan mengabarkan. Sungguh, pekerjaan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang asyik tapi tak mengenal waktu, menguras pikiran dan tenaga, sesekali menguras dompet. Pekerjaan ini memang mudah, bila belum masuk pada profesionalisme, lain halnya bila sudah professional. Tetapi, di sini saya tidak akan membahas tentang kiat-kiat menjadi seorang jurnalis professional yang patuh peraturan dan disiplin.

Mencatat, menulis dan mengabarkan mesti dan selalu harus dihubungkan dengan membaca. Tulisan seorang jurnalis mesti dibaca, karena tulisan yang belum pernah dibaca takkan pernah diketahui keberadaannya serta  informasi yang terkandung di dalamnya. Mustahil Aristoteles akan dikenal saat ini bila tulisannya tidak pernah dibaca oleh siapapun. Menulis mesti dan selalu berhubungan dengan membaca, keduanya ber-simbiosis mutualisme ria. Pada proses inilah, tulisan seorang jurnalis akan mengalami fase paling menentukan. Pada fase pembacaan ini, seorang pembaca akan mengalami internalisasi nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam dirinya sebelum mengambil sikap terhadap sebuah tulisan. Tulisan yang berisi kebaikan tidak selamanya berdampak baik, tetapi tulisan yang berisi keburukan tetap berjalan di jalurnya.

Dampak sebuah tulisan memang berada jauh di luar jangkauan seorang jurnalis, sehebat apapun. Karena mereka tidak mengenal pembacanya satu persatu. Begini, tulisan seorang jurnalis yang telah disebarkan dan dibaca khalayak, entah mengandung kebaikan, keburukan atau keduanya sekaligus, akan menghadirkan kebaikan dan keburukan. Tulisan yang berisi pemikiran akan mencerahkan bagi yang menyetujuinya, tulisan yang berisi keburukan atau sesuatu yang menyesatkan akan menimbulkan keburukan bagi yang mengamininya. Tulisan selalu mesti dibaca, agar tak sia-sia dan menjadi pahala berkepanjangan bila itu baik. Baik dan buruk adalah dua hal abstrak. Baik dan buruk merupakan dampak/efek dari tulisan seseorang. Meski begitu, Keduanya telah menjadi resiko dalam pekerjaan apapun bahkan jurnalis. Jika seseorang menuliskan kebaikan, kemudian dibaca, diamini dan diekspresikan oleh seseorang maka akan menimbulkan sebuah kebaikan. Tulisannya akan senantiasa menjadi sebuah tabungan kebaikan. Sebaliknya, bila tulisan berisi keburukan, diamini, diimplementasikan dan menimbulkan keburukan. Tulisannya akan senantiasa menjadi tabungan dosa. Baik dan buruk dampak yang ditimbulkan merupakan resiko lain yang harus dihadapi dalam pekerjaan asyik ini, tinggal bagaimana sikap setiap calon jurnalis dan jurnalis betulan dalam menyajikan sebuah informasi kepada khalayak.

Konsekuensi di atas mudah sulit untuk dihadapi, akan tetapi tidak mustahil untuk dilakukan. Setiap jurnalis pasti mampu menyajikan beragam kebaikan dan pencerahan dalam tulisannya. Ucapan seseorang yang berisi keburukan akan menjadi baik apabila dikemas secara cantik oleh seorang jurnalis, sebab tugas seorang jurnalis tidak hanya membiarkan informasi secara telanjang diterima masyarakat, tetapi sekali lagi, dikemas secara cantik, dengan bahasa yang tidak provokatif.

Jika jurnalis menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat, ia adalah pemantik cahaya. Anda setuju?
Baca selengkapnya

Jumat, 21 April 2017

Menulis Lima Menit


“Tak ada yang pernah tahu akan seperti apa kita di masa yang akan datang. Tak ada yang tahu akan menikah dengan siapa kita kelak, juga tak ada yang tahu kapan ajal itu datang.”

Beberapa kalimat yang bergejolak dalam diri dan saya rasa sayang untuk tidak digoreskam dalam tulisan malam ini. berpacu dengan waktu, pekerjaan unu kulakukan malam ini. seperti yang dilakukan oleh kakak senior sekaligus menotrku dalam menulis dalam beberapa bulan belakangan.

Ya, meroda ini ingin kulakukan semaksimal mungkin dan sesering mungkin. Sekuat tenaga kupertahankan hingga tetes darah penghabisan. Saat ini, aku tidak tahu siapa diriku, aku tidak siapa dia, bahkan aku tidak tahu siapa kekasihku sebenarnya, yang kutahu hanyalah menjalani hidup sesuai dengan jadwal yang tersirat dalam pikiranku saja.

Pergi kuliah di hari senin pukul setengah sebelas, kemudian mendatangi lokalisasi komunitas dimana aku seolah-oleh bekerja paruh waktu. Pendiri komunitas itu pernah berkata, “di sini semuanya lebih sulit daripada di media mana pun”. Dan kurasakan lalu kukatakan “ya”. Teman-temanku mencari bahan untuk tulisannya sendiri, padahal yang ia kerjakan bukanlah hal mudah.  Pendiri komunitas ini juga pernah berkata, “biar terbitnya telat, yang penting mekanisme ini berjalan sebagaimana mestinya”, beberapa kalimat yang selalu kuingat dalam memori terdalam dalam ingatanku, dan malam ini aku mengulangi semuanya dan merasakanya kembali, hanya untuk satu hal, agar aku merasa semuanya seolah-olah terjadi lagi, berulang-ulang, berulang-ulang dan berulang-ulang.

setidaknya inilah yang terjadi dalam lima menit di pukul 23 tadi. terima kasih.
Baca selengkapnya

Kamis, 20 April 2017

Generasi Menunduk


Pesatnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini memudahkan manusia untuk saling berhubungan satu sama lain, jauh dengan yang jauh, jauh dengan yang dekat, dekat dengan yang jauh, dan dekat dengan yang dekat. Komunikasi menjadi salah satu hal yang terus dikedepankan oleh produsen telepon seluler hingga saat ini. Tetapi, ternyata bukan hanya komunikasi saja yang terus diperhatikan oleh produsen telepon seluler, melainkan bagaimana telepon seluler dapat menjadi teman dekat, teman berbisnis, bahkan teman disaat pengguna hanya seorang diri.

Mungkin beberapa hal diatas pula lah yang melatarbelakangi lahirnya smartphone. Smartphone, fungsinya kini bukan hanya sebagai alat komunikasi, peralihan fungsi dari tidak hanya komunikasi kepada gaming, bussines, dan beberapa hal lain yang dapat dinikmati oleh pengguna smartphone.

Fitur-fitur yang memanjakan pengguna smartphone hari ini, telah menjadikan dunia sebagai desa dengan stau kali ‘klik’. Pembaca, sadarkah anda dengan ke-autisan yang kini melanda kaula muda? Kaula muda saat ini lebih asyik dengan smartphone-nya, kurang peka dengan keadaan sekitar, dan menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh, lebih banyak ‘tunduk’ dibanding tegak.

‘Ketundukkan’ kaula muda pada smartphone-nya dewasa ini telah menggambarkan sebuah pemandangan yang menyedihkan, meski tidak semua kaula muda terkena syndrome ‘tunduk’ ini. Ketundukkan seorang pemuda pada smartphone akan mengakibatkan dirinya kehilangan rasa empati, simpati, dan antipasti terhadap situasi di sekitarnya, ia lebih asyik dengan dunianya sendiri. Ketika seseorang tengah asyik dengan smartphone-nya mungkin kebakaran sedang terjadi tetapi ia tidak menyadarinya, mungkin perampokan sedang terjadi namun ia tak membantu mencegahnya, mungkin perbincangan hangat seputar korupsi di kelas tengah terjadi namun ia tak memerhatikannya, atau bahkan ia mencuekkan kekasihnya sendiri yang mencintainya setulus hati dan memilih bercumbu dengan smartphone miliknya, mengerikan bukan?. 

Kehadiran smartphone setidaknya memberikan manfaat komunikasi yang jauh lebih baik dan lebih mudah bagi manusia, manfaat ini sejatinya menjadi hakikat dari kelahiran smartphone itu sendiri. Namun, ternyata bukan manfaat saja yang ditimbulkan, berkat kehadiran smartphone efek negative seperti ketundukkan itu pun ikut dirasakan. Sejujurnya, sampai hari ini penulis sendiri belum mengetahui obat yang dapat menyembuhkan penyakit tunduk ini, satu hal yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca adalah jangan biarkan ia terus menundukka kepala anda.  
Baca selengkapnya

Rabu, 19 April 2017

Life Is Football


Kehidupan manusia bisa dianalogikan dengan sebuah permainan, salah satunya sepak bola. Permainan yang paling digemari hampir di seluruh penjuru dunia ini dikatakan oleh seorang teman memiliki beberapa unsur yang punya keterkaitan yang sama dengan kehidupan. Mari kita lihat.

Pertama, dalam permainan sepak bola biasanya terjadi gol. Gol adalah momen terindah dalam pertandingan sepak bola, meskipun setiap mencetak gol belum tentu memenangkan pertandingan. Gol dapat diartikan sebagai ambisi atau cita-cita, manusia hidup harus memiliki cita-cita, dan ketika cita-cita itu tercapai maka kebahagiaan yang tiada tara pun akan dirasakan.

Kedua, apakah bisa cita-cita dicapai tanpa adanya perencanaan yang bagus? Jawabannya kita semua tahu, tidak bisa. Perencanaan menjadi hal yang sangat vital dalam berbagai hal, tidak hanya dalam mencapai impian. Perencanaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Apa yang kita siram maka akan kita petik”, kira-kira itu kutipan pepatah singkat yang saya kutip. Begitu pula dalam sepak bola, perencanaan menjadi hal yang sangat penting saat hendak menghadapi pertandingan, perencanaan yang matang akan menghadirkan kemenangan.

Ketiga, jalankan strategi. Apa yang sudah kita rencanakan adalah strategi untuk menuju impian. Konsep terbaik takkan bernilai jika hanya disimpan bersemayam dalam lemari, maka dari itu lakukan apa yang sudah diatur dalam proses sebelumnya.

Keempat, fokus 2x45. Semua bentuk pekerjaan membutuhkan fokus. Fokus menjadi kunci dari keberhasilan yang akan dicapai dari suatu pekerjaan. Misal, impianmu adalah mendapatkan nilai tertinggi pada ujian akhir semester nanti, maka fokuskan dirimu belajar untuk meraihnya,. Jangan memikirkan yang lain. Biarlah dirimu mencumbu satu hal, asal menghasilkan.

Kelima, ciptakan peluang. Proses ini bisa disebut sebagai proses tersulit untuk dieksekusi, tapi jangan khawatir, proses yang berlangsung akan membuatmu mengerti bagaimana sih peluang itu, dan kamu pun akan mampu menciptakan peluangmu sendiri.  menciptakan peluang baru dapat kita lakukan setelah kita fokus pada perburuan impian kita, peluang ini dapat menjadi penghantar untuk mewujudkan impian.

Dan terakhir adalah goal. Goal ini merupakan momen yang sangat dinanti-nanti oleh semua suporter.  Setelah semua proses di atas terlaksana dengan baik, kini saatnya kamu mencetak goal alias mewujudkan impianmu. Ingat! Semua yang kamu lakukan akan berdampak pada bagian yang satu ini, kesungguhan akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan, dan ketidaksungguhanmu akan menghasilkan satu kegagalan dari rangkaian kegagalan-kegagalan yang lain.

Dan satu hal lagi, ini semua hanya kiat-kiat saja. Kamu bisa melakukan improvisasi sesuai kehendak kamu sendiri dengan syarat, sungguh-sungguh.

Sumber gambar : eurosport
Baca selengkapnya

Selasa, 18 April 2017

Bau Mulut dan Efektifitas Komunikasi


Nafas, apakah hal kecil ini dapat mempengaruhi efektifitas komunikasi yang dilakukan? satu pertanyaan besar dari satu hal kecil yang sering kita abaikan saat berkomunikasi.

Nafas, sejatinya adalah anugerah dari yang Maha Kuasa. tanpa nafas seseorang dapat dipastikan kehilangan eksistensinya. Bukan hanya sejenak, tetapi selama-lamanya. Nilai dari kegunaan nafas dalam kehidupan sehari-hari sungguh tak ternilai. Setiap orang memiliki nafas, namun hanya sedikit orang yang mensyukuri nafas yang mereka miliki.

Catatan ini hanya sebagai wacana. Penulis hanya ingin menuangkan ide yang memberontak dalam pikirannya dan berbagi gagasan dengan rekan-rekan pembaca melalui catatan fesbuk.

Nafas/bau mulut memang hal kecil, kegiatan yang sering bahkan sangat sering dilakukan. entah dalam komunikasi antar-personal, intra-personal, kelompok kecil, bahkan komunikasi massa sekalipun (meski dalam parktiknya, komunikator dalam komunikasi massa tidak dapat tercium bau nafasnya oleh komunikan). Nafas, adalah elemen yang berpengaruh dalam komunikasi.

Efektifitas komunikasi sedikit banyaknya akan dipengaruhi oleh nafas. Harum atau tidaknya nafas akan mempengaruhi  sistim nilai komunikan saat menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator, terkhusus dalam komunikasi antar-pribadi. Mungkin nafas dapat dimasukkan ke dalam noise dalam proses komunikasi antar pribadi. 

tatap muka dalam komunikasi antar pribadi akan mendekatkan hidung komunikan pada komunikator. Biasanya proses ini dilakukan dalam kegiatan konseling, penyuluhan, diskusi, bobogohan, bahkan menagih hutang sekalipun. Semua yang disebutkan baru saja oleh penulis, di dalamnya terdapat tatap muka, entah dekat atau jauh. Proses tatap muka inilah yang akhirnya membuat membuat bau nafas/mulut tercium. Harum menetap, bau bisa pergi.

Pernah melihat iklan mulutmu harimaumu di televisi?, setidaknya iklan itu mengatakan,"pasta gigi yang digunakan akan mempengaruhi bau nafas yang berhembus dari mulut anda, maka gunakanlah pasta gigi kami". Kutipan tersebut memang lebih bernada iklan, tetapi pesan yang disampaikan dalam iklan pasta gigi itu setidaknya terdapat sedikit kebenaran relatif tentang pasta gigi membuat nafas anda bau atau harum. Pasta gigi dan obat kumur apa yang anda gunakan hari ini?

Selain elemen patos, logos dan etos yang dipaparkan oleh Aristoteles beribu-ribu tahun lalu, efektifitas komunikasi dipengaruhi oleh nafas? jawaban sementara dari penulis adalah, ya. Bau nafas yang keluar saat berbicara-apalagi berhadapan-dengan lawan bicara akan membuka atau menutup sistim nilai dari komunikan. Peserta, dapat menolak isi dari pesan yang diberikan oleh komunikator jika ternyata ia mendapati si komunikator itu bermulut/bernafas bau, dan sebaliknya jika nafasnya harum.

Maka, sedikit solusi yang dapat penulis berikan adalah cek terlebih dahulu bau mulut/nafas anda saat hendak berkomunikasi, bahkan dengan kekasih pembaca sekalipun. Mengecek bau mulut anda setidaknya akan menambah sedikit kesempatan efektifitas komunikasi anda. satu lagi, terlalu percaya diri tanpa mengecek apakah mulut anda bau atau tidak, penulis nilai kurang bijak. bagaimana pun, harum mulut anda akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan semoga menerima pesan yang anda sampaikan. Mari cek bau mulut anda sebelum berbicara!
Baca selengkapnya

Memandang Perilaku Seorang Manusia


Manusia adalah mahluk sosial, setidaknya itulah salah satu teori yang sering dikemukakan orang-orang dikelasku. Memang benar, manusia adalah mahluk sosial yang harus bahkan membutuhkan teman untuk menjalani hidupnya walaupun manusia mempunyai sifat mandiri yang tertanam dalam dirinya.

Dalam kehidupan sosialnya, manusia tidak bisa menghindari interaksi yang terjadi dengan sesamanya, meskipun sedikit. Interaksi yang terjadi sering menimbulkan beberapa permasalahan yang komplek, dan tak jarang menusia bergontok-gontokan satu sama lain karena hal itu.

Manusia yang secara lahiriah memiliki sifat egois, selalu ingin menang sendiri dan tak peduli pada apa yang terjadi terhadap sesamanya. Sifat egois ini terkadang menjadi kaca penyekat bagi setiap manusia untuk menilai jenisnya dan memandang darimana mereka berasal tanpa memandang apa yang ia lakukan. Egoisme inilah yang menjadi pemicu dari beberapa permasalahan sosial yang sering terjadi sampai saat ini.

Sebenarnya, tidak perlu memandang darimana orang itu berasal saat menilainya, tetapi penilaian akan terbentuk dengan sendirinya saat interaksi antara kita dengan orang itu terjadi. Sisi baik seseorang akan muncul, sisi buruk seseorang akan muncul begitu pula penilaian kita.

Saya kira tidak bijak bila kita menjustifikasi seseorang itu buruk hanya dengan mengetahui darimana ia berasal dan agama apa yang ia anut tanpa melihat sisi baiknya dalam masyarakat dimana ia tinggal. Ini pikiran yang kerdil, sungguh pikiran yang sangat kerdil. Diceritakan dalam satu kisah bahwa Rasulullah SAW pernah melepaskan seorang lelaki yang tidak beriman sedang ia adalah tawanan perang kaum muslimin saat itu, beliau melakukannya karena lelaki itu sering melakukan perbuatan yang baik pada sesamanya dan berakhlak mulia. Rasulullah menyukai orang yang berbuat baik, tanpa memandang ia berasal darimana dan beragama apa.

Kisah tersebut mencerminkan kalau ternyata pintu kebaikan itu tidak terbuka hanya bagi orang yang beragama tertentu saja, melainkan bagi setiap orang, tanpa melihat latar belakangnya. Jika cara pandang kita sama seperti yang dicontohkan rasul, tentu takkan ada lagi sekat yang memisahkan kita, dan tatkala sekat itu telah menghilang, bukankah dunia ini menjadi indah???
Baca selengkapnya

Senin, 17 April 2017

Manfaat Tawuran Bagi Pelajar


Tawuran sama dengan perang. Tawuran di dalamnya berisi jotos-jotosan antara beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan. tawuran tidak mengenal usia, juga tidak mengenal tempat. Di sekolah bisa tawuran, di pasar bisa tawuran, dan di stadion bisa tawuran. Tapi, tawuran sekarang ini amat identik dengan pelajar. Pelajar sekolah A tawuran dengan sekolah B, sekolah C dengan sekolah D. banyak pelajar tawuran dimana-mana hanya karena masalah yang sepele. Nah, sebenarnya apa sih manfaat tawuran bagi pelajar? Mari kita lihat;

Mengurangi Teman

Itu adalah manfaat pertama tawuran bagi pelajar. Ya, tawuran kan berisi jotos-jotosan atau berantem antara pelajar sekolah anu dengan pelajar sekolah anu. Berarti murid-murid di dua sekolah itu tidak bisa atau sulit untuk berteman. Dan itu juga, artinya mengurangi teman yang bisa miliki.

Menambah Musuh

Dengan tawuran, kita bisa mengurangi teman yang tidak diinginkan, juga menambah musuh. Ini manfaat dari tawuran di kalangan pelajar yang kedua. Tawuran di kalangan gak melulu memperlihatkan adu kekuatan antar laki-laki, tapi juga menanamkan benih permusuhan dari senior kepada juniornya untuk terus dilanjutkan secara turun temurun. Dengan tawuran, sekolah A bisa mendapatkan musuh seperti sekolah B, sekolah C, juga sekolah D.

Memperbesar Potensi Cedera

Tawuran berarti adu fisik. Beradu kekutan di jotos-jotosan. Manfaat yang didapat dari tawuran lainnya adalah memperbesar potensi cedera, karena dengan saling jotos ke muka, perut, kepala, punggung, akan menghasilkan memar-memar di lokasi-lokasi yang dijotos. Dengan begitu, setelah selesai tawuran rasa sakit akan didapat.

Mengurangi Rasa Aman

Seperti dijelaskan di atas, tawuran bermanfaat untuk mengurangi teman dan menambah musuh, itu juga berarti mengurangi rasa aman saat berada di luar kawanan pelajar yang satu sekolah atau berjalan-jalan di luar wilayah kekuasaan sekolah kita. Kita tidak bebas berjalan dimana pun yang kita inginkan. kita hanya akan merasa aman saat berjalan di tanah yang ada di bawah kuasa sekolah kita.

Nah, empat manfaat tawuran bagi pelajar di atas sebetulnya bukan manfaat, tapi madharat. Jika kita tawuran, yang kita dapatkan hanya hal-hal di atas, atau bahkan lebih buruk. Jadi, jangan pernah tawuran dan teruslah belajar agar kita bisa meraih impian kita.
Baca selengkapnya