Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2017

Jalan Dakwah Seorang Jurnalis


Menyoal Jurnalisme Islam

Saya pernah membaca karya Andreas Harsono –Agama Saya Adalah Jurnalisme. Di dalam buku itu, Andreas Harsono menulis sebuah esai tentang Jurnalisme Islam. Isi esai dengan judul Jurnalisme Islam itu ternyata penyangkalan Andreas terhadap Jurnalisme Islam. Saya tidak menganggap dia menghina Jurnalisme Islam, justru sebaliknya. Saya memerhatikan dan menerima apa yang ia tulis dalam salah satu esainya itu. Menurut saya, apa yang Andreas tulis dalam esainya itu adalah sebuah kritik yang musti dipertimbangkan kembali oleh setiap orang yang menganggap Jurnalisme Islam sebagai cabang ilmu Jurnalistik.

Andreas menganggap Jurnalisme Islam sebagai sebuah propaganda. Menurutnya, bila ada Jurnalisme Islam, tentu ada Jurnalisme Kristen, Jurnalisme Budha, Jurnalisme Hindu, Jurnalisme Konghucu dan Jurnalisme agama lainnya. Andreas menuliskan dalam esainya bahwa tidak ada hal yang baru dalam Jurnalisme Islam. Unsur-unsur Jurnalisme Islam tetap sama seperti Jurnalisme kebanyakan, jadi menurut Andreas, Jurnalisme Islam tidak pantas disebut sebagai cabang baru ilmu jurnalistik.

Saya menerima apa yang Andreas tuliskan dalam bukunya itu. Kenapa tidak? Saya merasakannya. Di sini tidak ada Jurnalisme Islam, yang ada Jurnalisme Dakwah. Waktu saya semester tiga, disajikan dua mata kuliah tentang ilmu jurnalistik : Pertama, Pengantar Ilmu Jurnalistik, kedua Jurnalisme Dakwah. Isi kedua mata kuliah itu sama, yang membedakan keduanya hanya label dakwah dan Islam.

Tujuan Jurnalisme Dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah menyebarkan kebenaran. Kebenaran adalah hal yang relatif. Kebenaran bergantung pada ‘dimana’ dan ‘kapan’ kita berdiri. Kebenaran yang berlaku di tanah sunda, tentu berbeda dengan kebenaran yang berlaku di tanah Batak atau tanah Minang, tetapi semua daerah memiliki satu kebenaran yang sama. Semua daerah pasti menganggap bahwa membunuh, mencuri dan korupsi adalah hal yang buruk.

Selain menyebarkan kebenaran, tujuan jurnalisme dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah membentuk masyarakat yang baik. Ada sebuah jargon yang mengatakan semakin baik kualitas jurnalistik di suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas masyarakatnya. Siapapun yang menggeluti dunia jurnalistik tentu akan sepakat dengan hal ini.

Menyikapi jurnalisme islam dan jurnalisme pada umumnya, saya teringat pada profesi dunia ini. Profesi dunia jurnalistik salah satunya adalah wartawan. Wartawan adalah profesi dunia jurnalistik yang mengharuskan pengampunya tidak mengenal ruang dan waktu. Ia tidak memiliki jam kerja, tidak mengenal lelah serta mengharuskan pengampu profesi ini tidak mengeluh. Selain itu, seorang wartawan juga harus mengabarkan sesuatu secara benar. Jika pada awal kemunculannya seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa apa adanya, sekarang seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan sebuah sudut pandang. Itulah wartawan.

Apakah ada benang merah antara wartawan dengan dunia dakwah? Tentu ada. Seorang wartawan tidak beda halnya dengan seorang da’i. Ia bekerja menyajikan kabar dengan panduan kebenaran. Bill Kovach dan Tom Rossentiel dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalistik yang disadur oleh Andreas Harsono mengatakan bahwa seorang wartawan musti mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran yang dianutnya. Kebenaran ini yang menuntunnya menjadi seorang da’i. Pendapat dua pakar jurnalistik Amerika ini tentu menegaskan bahwa wartawan dengan da’I memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyebarkan kebenaran.

Tidak hanya pendapat kedua pakar itu, saya juga menemukan sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa seorang wartawan adalah seorang da’i. Pendapat ini saya sadur dari buku Jurnalisme Universal karya Suf Kasman. Dalam buku ini, ia menjelaskan ayat pertama surat Al-qalam. Menurutnya, arti kata Nun dalam ayat pertama surat itu adalah tinta dan kata kalimat selanjutnya dalam ayat itu ia tafsirkan sebagai tugas seorang jurnalis atau wartawan. Suf Kasman menganggap bahwa ayat ini adalah ayat tentang dunia jurnalistik. Suf Kasman berpendapat sama seperti halnya Bill Kovach dan Tom Rossentiel, bahwa seorang wartawan harus mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran universal yang berlaku di masyarakat.

Apakah cukup dengan hanya mengabarkan dengan berpegang teguh pada kebenaran? Saya rasa tidak. Saya mengamini Sembilan Elemen Jurnalistik yang dimiliki Kovach. Salah satu dari kesembilan elemen itu adalah mendengarkan hati nurani. Seorang wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri dalam pengabaran yang ia lakukan, karena hati nurani akan tahu hal yang baik dan buruk.

Saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik multi-agama di Gereja Kristen Indonesia medio November 2012 lalu. Panitia pelatihan itu mendatangkan orang Kompas yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia jurnalistik. Ia adalah Peppih Nugraha. Kang Peppih, begitu ia disapa di pelatihan, pernah bertugas di Poso sewaktu terjadi konflik antara Islam-Kristen di sana. Sebagai seorang manusia biasa, ia mengaku takut, tapi pekerjaannya sebagai wartawan memaksanya untuk bertahan. Ia melihat huru hara, darah yang tertumpah dan tangisan di sana sini. Kala itu, Peppih melakukan pengabaran berdasarkan rasa kemanusiaan dan apa yang ia lihat di sana. Ia menulis berita tentang kesedihan anak-anak Poso, korban kejadian, nasib mereka selama konflik, dan sikap serta kegagalan pemerintah menenangkan konflik itu. Salah satu beritanya yang menampar pemerintah waktu itu adalah kegagalan putri presiden Megawati Soekarnoputri mendarat di tanah Poso. Tulisannya berdampak signifikan terhadap pemerintah dan konflik. Pasca kegagalan pendaratan itu, pemerintah langsung menginstruksikan ABRI untuk bertolak ke Poso guna mengamankan konflik.

Dari pengalaman kang Peppih tersebut, saya artikan bahwa mendengarkan hati nuraninya sendiri salah satunya adalah membiarkan diri kita bekerja atas dasar rasa kemanusiaan. Mayarakat kaya akan rasa kemanusiaan. Banyak orang dirugikan karena keputusan keliru pemerintah, banyak orang menangis karena perilaku pemerintah yang senonoh dan banyak orang tertindas karena kebijakan pemerintah. Orang tertindas, orang yang dirugikan, dan orang yang menangis ada di masyarakat. Di sini, mereka seharusnya dibela oleh seorang wartawan lewat tulisan-tulisannya yang dibaca banyak orang. Ketika melakukan hal ini, wartawan bekerja atas dasar rasa kemanusiaan yang besar.

Wartawan seperti halnya da’I, mereka adalah tonggak perubahan. Wartawan dan da’I sama-sama mengubah kebiasaan buruk menjadi baik, hitam menjadi putih, dan bias menjadi jelas. Masyarakat yang gemar membuang sampah sembarangan akan berubah karena wartawan.

Wartawan berdakwah melalui tulisan. Ia ibarat korek yang memantik api melalui tulisannya yang dimuat di surat kabar dan dibaca oleh khalayak yang heterogen. Cakupan dakwah seorang wartawan yang heterogen dan tidak terbatas ruang dan waktu menjadikannya lebih berpegaruh ketimbang da’I yang berdakwah dari panggung ke panggung. Semakin berkualitas tulisan dan kabar yang disajikan seorang wartawan, semakin besar pula pengaruhnya.

Laku dakwah seorang wartawan dan da’I sebenarnya sama. Keduanya sama-sama bekerja atas dasar kebenaran, rasa kemanusiaan, dan mengubah sesuatu. Hal yang membedakan keduanya hanya nama dan media. Perpektif masyarakat kita biasa menyebut orang yang menyeru dari panggung ke panggung sebagai da’I, sedangkan wartawan yang menyeru melalui tulisannya tetap disebut wartawan. Kemudian media dakwah keduanya yang berbeda pun membuat masyarakat kita membedakan keduanya, tetapi hakikatnya baik wartawan maupun da’I adalah sama. Hanya jalan yang membedakan laku dakwah keduanya.
Baca selengkapnya

Jurnalis : Pemantik Cahaya


Nun, Walqalami wama Yasturuun

Nun, Demi Qalam dan apa yang mereka tuliskan… (Q.S Al-Qalam)

Ayat ini mungkin tak asing bagi sebagian orang, khususnya mereka yang bergelut di dunia tinta dan kertas. Kuli Tinta, begitulah ungkapan yang cukup pantas untuk disematkan kepada mereka yang bergelut di dunia jurnalistik. Dunia jurnalistik adalah dunia yang erat kaitannya dengan tulis dan baca. Mereka ibarat langit dan bumi yang tak bisa dipisahkan. Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang teramat mudah. Sejak sekolah dasar, setiap kepala sudah diajarkan untuk menulis, membaca dan mengabarkan, bahkan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar, beberapa orang tua mulai mengajari anak mereka menjadi seorang ‘jurnalis’. Dunia jurnalistik sangat dekat dengan kita, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun.

Dua ayat yang saya sajikan di atas memuat tentang menulis atau menjadi jurnalis –setidaknya itulah kesimpulan pertama saya. Dalam buku Jurnalisme Universal, Suf Kasman, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Qalam adalah mereka yang menulis/jurnalis, sedangkan nun adalah tinta. Kegiatan jurnalistik erat kaitannya dengan menulis, menulis hampir selalu membutuhkan tinta, sebab tinta adalah senjata gerombolan pemantik cahaya ini. Menjadi jurnalis merupakan pekerjaan yang mudah, siapapun dari kita adalah jurnalis, dimanapun, dan bagaimana pun keadaannya.

Pekerjaan seorang jurnalis adalah mencatat, menulis dan mengabarkan. Sungguh, pekerjaan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang asyik tapi tak mengenal waktu, menguras pikiran dan tenaga, sesekali menguras dompet. Pekerjaan ini memang mudah, bila belum masuk pada profesionalisme, lain halnya bila sudah professional. Tetapi, di sini saya tidak akan membahas tentang kiat-kiat menjadi seorang jurnalis professional yang patuh peraturan dan disiplin.

Mencatat, menulis dan mengabarkan mesti dan selalu harus dihubungkan dengan membaca. Tulisan seorang jurnalis mesti dibaca, karena tulisan yang belum pernah dibaca takkan pernah diketahui keberadaannya serta  informasi yang terkandung di dalamnya. Mustahil Aristoteles akan dikenal saat ini bila tulisannya tidak pernah dibaca oleh siapapun. Menulis mesti dan selalu berhubungan dengan membaca, keduanya ber-simbiosis mutualisme ria. Pada proses inilah, tulisan seorang jurnalis akan mengalami fase paling menentukan. Pada fase pembacaan ini, seorang pembaca akan mengalami internalisasi nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam dirinya sebelum mengambil sikap terhadap sebuah tulisan. Tulisan yang berisi kebaikan tidak selamanya berdampak baik, tetapi tulisan yang berisi keburukan tetap berjalan di jalurnya.

Dampak sebuah tulisan memang berada jauh di luar jangkauan seorang jurnalis, sehebat apapun. Karena mereka tidak mengenal pembacanya satu persatu. Begini, tulisan seorang jurnalis yang telah disebarkan dan dibaca khalayak, entah mengandung kebaikan, keburukan atau keduanya sekaligus, akan menghadirkan kebaikan dan keburukan. Tulisan yang berisi pemikiran akan mencerahkan bagi yang menyetujuinya, tulisan yang berisi keburukan atau sesuatu yang menyesatkan akan menimbulkan keburukan bagi yang mengamininya. Tulisan selalu mesti dibaca, agar tak sia-sia dan menjadi pahala berkepanjangan bila itu baik. Baik dan buruk adalah dua hal abstrak. Baik dan buruk merupakan dampak/efek dari tulisan seseorang. Meski begitu, Keduanya telah menjadi resiko dalam pekerjaan apapun bahkan jurnalis. Jika seseorang menuliskan kebaikan, kemudian dibaca, diamini dan diekspresikan oleh seseorang maka akan menimbulkan sebuah kebaikan. Tulisannya akan senantiasa menjadi sebuah tabungan kebaikan. Sebaliknya, bila tulisan berisi keburukan, diamini, diimplementasikan dan menimbulkan keburukan. Tulisannya akan senantiasa menjadi tabungan dosa. Baik dan buruk dampak yang ditimbulkan merupakan resiko lain yang harus dihadapi dalam pekerjaan asyik ini, tinggal bagaimana sikap setiap calon jurnalis dan jurnalis betulan dalam menyajikan sebuah informasi kepada khalayak.

Konsekuensi di atas mudah sulit untuk dihadapi, akan tetapi tidak mustahil untuk dilakukan. Setiap jurnalis pasti mampu menyajikan beragam kebaikan dan pencerahan dalam tulisannya. Ucapan seseorang yang berisi keburukan akan menjadi baik apabila dikemas secara cantik oleh seorang jurnalis, sebab tugas seorang jurnalis tidak hanya membiarkan informasi secara telanjang diterima masyarakat, tetapi sekali lagi, dikemas secara cantik, dengan bahasa yang tidak provokatif.

Jika jurnalis menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat, ia adalah pemantik cahaya. Anda setuju?
Baca selengkapnya

Ulasan Buku Fikih Jurnalistik


Buku                : Fikih Jurnalistik (Etika dan Kebebasan Pers Menurut Islam)
Penulis             : Faris Khoirul Anam
Penerbit          : Pustaka Al-Kautsar
Tebal               : 180 halaman
Harga              : Rp.20.000
Tahun Terbit   : Februari 2009

Massimo Moratti, Presiden sekaligus pemilik klub sepak bola Internazionale Milan memaparkan bahwa jurnalis saat ini sudah berlebihan dalam pemberitaan. Ini merupakan ungkapan kegeraman dan kekesalan pria yang dikenal sukses membawa Inter Milan menjadi juara Eropa tahun 2010 atas perilaku media-media italia melakukan pemberitaan tentang pergantian pelatih yang dapat memecah konsentrasi timnya.

Berangkat dari hal di atas, saya rasa anda patut membaca buku Fikih Jurnalistik karangan faris Khoirul Anam ini.

Faris Khoirul Anam adalah jurnalis bertarap nasional yang berdomisili di Jawa Timur, saat ini dia aktif mengajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku Fikih Jurnalistik ini memulai petualangannya sebagai seorang jurnalis saat masih menimba ilmu di Universitas Yama, medio awal abad ini.

Faris memahami bahwa fikih bukan hanya ilmu yang mempelajarai tentang kegiatan ibadah/hubungan seseorang dengan Tuhannya dala proses ritual yang dilakukan sehari-hari. faris, penulis buku ini lebih memahami Fikih sebagai upaya seseorang untuk mencari tahu atau mengetahui sesuatu (Tafaqquh Fid Diyn). Bukan hanya sibuk mengurusi dan mempermasalahkan tentang ibadah.

Buku Fikih Jurnalistik berisikan kiat-kiat dan petunjuka yang menggambarkan bagaimana islam sebenarnya tidak hanya cocok untuk satu hal saja. Ajaran islam yang bersifat universal terbukti cocok dan relevan dengan kegiatan jurnalistik. Fikih jurnalistik memang tidak membahas semua poin yang terdapat dalam dunia jurnalistik. Penulis buku tersebut sengaja memilih poin-poin yang ia anggap penting untuk kemudian ia sejajarkan dengan pion-pion lain dalam ajaran islam.

Faris Khoirul Anam berusaha mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam buku setebal 200 halaman ini. Di dalam buku ini, ia memaparkan berbagai hal dalam dunia jurnalistik, mulai dari persiapan mencari berita hingga KEJ (Kode Etik Jurnalistik) ia paparkan dan ia selaraskan dengan ajaran-ajaran islam.

Setiap butir-butir –dalam Kode Etik Jurnalistik- ia paparkan dengan sederhana, kemudian ia perlihatkan hubungannya dengan islam. Bukan hanya itu, proses pencarian berita yang dilarang dalam islam tak luput dari perhatian penulis buku ini, seperti dilarang menuduh perepempuan melakukan perbuatan zina padahal perempuan itu menjaga dirinya. Kemudian, terdapat butir-butir lian dalam buku ini yang dapat membantu pembaca memperluas pandangannya tentang dunia jurnalistik.

Upaya Faris dalam menumbuhkan kesadaran agar tidak lagi ada jurnalistik hitam dan jurnalisme anarkis tergambar jelas dalam buku ini. Menurut Faris, setiap jiwa jurnalis harus memiliki idealism tersendiri dan dalam bekerja haruslah memiliki standar dan cara yang benar dalam mengeksekusinya.

Buku ini memiliki nilai positif tersendiri. Faris telah memaparkan sisi lain yang mesti diperhatikan dan dijadikan tuntunan kerja oleh seorang jurnalis, baik yang sudah Professional maupun dalam tahap belajar seperti Mahasiswa. Buku karangan Faris Khoirul Anam, dapat menjadi bahan referensi bagi siapa saja.

Tiada gading yang tak retak. Begitu pula buku ini, buku yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar ini dinilai kurang memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang kaitan kegiatan mencari berita dengan etika dalam islam. Meski begitu, buku ini patut dan layak untuk diberikan apresiasi. Jadi, selamat membaca…
Baca selengkapnya

Selasa, 18 April 2017

Bau Mulut dan Efektifitas Komunikasi


Nafas, apakah hal kecil ini dapat mempengaruhi efektifitas komunikasi yang dilakukan? satu pertanyaan besar dari satu hal kecil yang sering kita abaikan saat berkomunikasi.

Nafas, sejatinya adalah anugerah dari yang Maha Kuasa. tanpa nafas seseorang dapat dipastikan kehilangan eksistensinya. Bukan hanya sejenak, tetapi selama-lamanya. Nilai dari kegunaan nafas dalam kehidupan sehari-hari sungguh tak ternilai. Setiap orang memiliki nafas, namun hanya sedikit orang yang mensyukuri nafas yang mereka miliki.

Catatan ini hanya sebagai wacana. Penulis hanya ingin menuangkan ide yang memberontak dalam pikirannya dan berbagi gagasan dengan rekan-rekan pembaca melalui catatan fesbuk.

Nafas/bau mulut memang hal kecil, kegiatan yang sering bahkan sangat sering dilakukan. entah dalam komunikasi antar-personal, intra-personal, kelompok kecil, bahkan komunikasi massa sekalipun (meski dalam parktiknya, komunikator dalam komunikasi massa tidak dapat tercium bau nafasnya oleh komunikan). Nafas, adalah elemen yang berpengaruh dalam komunikasi.

Efektifitas komunikasi sedikit banyaknya akan dipengaruhi oleh nafas. Harum atau tidaknya nafas akan mempengaruhi  sistim nilai komunikan saat menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator, terkhusus dalam komunikasi antar-pribadi. Mungkin nafas dapat dimasukkan ke dalam noise dalam proses komunikasi antar pribadi. 

tatap muka dalam komunikasi antar pribadi akan mendekatkan hidung komunikan pada komunikator. Biasanya proses ini dilakukan dalam kegiatan konseling, penyuluhan, diskusi, bobogohan, bahkan menagih hutang sekalipun. Semua yang disebutkan baru saja oleh penulis, di dalamnya terdapat tatap muka, entah dekat atau jauh. Proses tatap muka inilah yang akhirnya membuat membuat bau nafas/mulut tercium. Harum menetap, bau bisa pergi.

Pernah melihat iklan mulutmu harimaumu di televisi?, setidaknya iklan itu mengatakan,"pasta gigi yang digunakan akan mempengaruhi bau nafas yang berhembus dari mulut anda, maka gunakanlah pasta gigi kami". Kutipan tersebut memang lebih bernada iklan, tetapi pesan yang disampaikan dalam iklan pasta gigi itu setidaknya terdapat sedikit kebenaran relatif tentang pasta gigi membuat nafas anda bau atau harum. Pasta gigi dan obat kumur apa yang anda gunakan hari ini?

Selain elemen patos, logos dan etos yang dipaparkan oleh Aristoteles beribu-ribu tahun lalu, efektifitas komunikasi dipengaruhi oleh nafas? jawaban sementara dari penulis adalah, ya. Bau nafas yang keluar saat berbicara-apalagi berhadapan-dengan lawan bicara akan membuka atau menutup sistim nilai dari komunikan. Peserta, dapat menolak isi dari pesan yang diberikan oleh komunikator jika ternyata ia mendapati si komunikator itu bermulut/bernafas bau, dan sebaliknya jika nafasnya harum.

Maka, sedikit solusi yang dapat penulis berikan adalah cek terlebih dahulu bau mulut/nafas anda saat hendak berkomunikasi, bahkan dengan kekasih pembaca sekalipun. Mengecek bau mulut anda setidaknya akan menambah sedikit kesempatan efektifitas komunikasi anda. satu lagi, terlalu percaya diri tanpa mengecek apakah mulut anda bau atau tidak, penulis nilai kurang bijak. bagaimana pun, harum mulut anda akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan semoga menerima pesan yang anda sampaikan. Mari cek bau mulut anda sebelum berbicara!
Baca selengkapnya