Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 April 2017

Lingga


BAGIAN 1
"Tidak. Ini bukan mimpi. Ini sama sekali bukan mimpi. Ini nyata. Aku bisa merasakan sakitnya cubitan di pipiku. Ini bukan mimpi. Pokoknya ini bukan mimpi!"
Semilir angin pagi ini berbeda. Berhembus lebih lembut dibanding kemarin. Mungkin ini wajar dalam ilmu alam karena musim sebentar lagi akan berganti. Musim kemarau ke musim hujan, musim gugur ke musim semi. Angin pagi ini berhembus tak hanya lembut, ia meniupkan beberapa daun kering kekuningan bersamanya. Melintasi jalanan sepi pagi hari kota Bogor. Berpetualang bersama sang angin, sesekali berhenti tertiup dan diam di sudut tangga sebuah rumah, selokan, sela-sela sapu lidi, jendela, atap rumah atau sekolah. Daun-daun itu tak pernah marah pada sang angin yang meninggalkannya. Meski ia tak berhenti berharap sang angin akan kembali dan membawa daun-daun yang tertinggal untuk berpetualang bersama lagi, mungkin sedikit mengelilingin dunia sampai ia habis tak bersisa.
Daun-daun tumbuh di pohon-pohon. Pucuk, bersemi, daun muda, kemudian pada musim gugur selanjutnya akan berpetualang bersama sang angin karena ia sudah kekuningan. Bisa dibilang hampir mati - kekuningan bahkan hampir coklat kering. Para daun menghabiskan masa muda mereka bergerombol, hidup dalam satu pohon menjaga tunas-tunas baru yang akan tumbuh. Mungkin monoton, namun mereka menikmatinya sepenuh hati. Mereka tak pernah memimpikan petualangan masa muda. Tradisi para daun itu tak mengajarkan untuk berkelana, mencari petualangan di usia yang sangat muda. Tetapi mereka akan berpetualang saat mereka dicampakkan dan hampir mati. Mungkin saja daun-daun itu msnyimpan semangat masa mudanya untuk hari ini, kala waktu mengejar hembusan nafas mereka. Atau jangan-jangan mereka terus semangat sepanjang usia? Bila mereka semangat sepanjang masa, kukira mereka akan mengalahkan manusia andai dapat berbicara.
Sayangnya daun-daun itu tak dapat berbicara sepatah katapun. Mereka bernyanyi. Nyanyian mereka akan semakin merdu di musim kemarau. Itu adalah waktu paling nyaman untuk mengadakan pentas. Bayangkan saja, "Summer Tour" berkeliling ke berbagai kota, bernyanyi, mendaptkan pujian dan juga uang. Tapi para daun itu tetap setia pada panggung orchestra si pohon. Ia mengabdi. mebalas budi si pohon. Bernyanyi sepanjang musim panas, membiarkan setiap orang mendengarnya dengan tenang.
Jangan bertanya mengapa aku mengagumi para daun tua itu. Aku tak tahu. Jangan pula memintaku untuk menilai mereka secara objektif, karena sungguh aku tak rela. Mereka ibarat sekumpulan orang jompo penuh semangat yang berjalan menuju sebuah petualangan besar di depan mata. Mereka menantikannya. Setiap daun menantikannya dan aku yakin itu. Aku mempercayai semangat mereka. Aku mengagumi daun-daun itu.
Mereka indah. Mereka memesona. Mereka menawarkan sebuah kecantikan alami. Aku bisa gila bila setiap hari mencumbu bau daun-daun itu di halaman belakang sekolah. Untungnya aku membuat jadwal. Tidak setiap hari aku datang ke halaman belakang sekolah. Aku mengunjungi mereka pada hari Senin, kamis dan sabtu, karena hanya pada hari-hari itulah aku bisa mendapatkan libur dari les Bahasa Inggris yang didaftarkan ibuku. Aku teringat aku sempat memohon pada salah seorang guru lesku, agar mengizinkanku libur di hari sabtu. Awalnya guru itu menolak dan memaksaku untuk tetap tinggal di tempat les hingga jam pelajaranku usai. Aku mengadu pada ibu sepulang dari sana dan dengan sedikit memohon serta berjanji akhirnya aku diizinkan untuk mendapat jatah libur les selama tiga hari ditambah hari minggu jadi empat.
Hari ini aku kembali ke halaman belakang sekolah. Tempat ini tak pernah berubah, Setidaknya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini, tempat ini masih sama sampai sekarang. Tiga pohon Cemara berdiri di sudur halaman, satu pohon Ceri dengan tegak menjulang berdiri di bagian tengah halaman serta dua pohon yang tak ku kenal tumbuh di ujung halaman. Sedikit sulit untuk digambarkan, namun inilah taman belakang sekolah, taman favoritku.
Aku selalu mendapatkan sebuah ketenangan setiap kali berada di sini. Meski usiaku baru tiga belas tahun, sedikitnya aku mengerti tentang ketenangan. Ketenangan adalah momen berharga ketika seseorang tak dijahili, dianiaya, diejek, diolok-olok oleh teman-teman di sekolahnya karena dianggap autis dan pengkhayal. Aku tak peduli dengan sebutan-sebutan itu. Aku akan tetap dapat hidup tanpa mempedulikannya. Aku tenang sekali. Tak ada yang mengganggu hari ini, sepertinya aku beruntung. Terima kasih Tuhan.
Sejenak kutatap langit hari ini. Cerah berawan. Kurasa mentaro akan menuntun petualangan daun-daun tua itu awal musim gugur ini. Sinar si matahari menerobos celah dedaunan pohon Ceri tanpa permisi. Aku menikmatinya. Ini sering terjadi setiap awal musim gugur. Sensaninya selalu sama, tapi tetap memabukkan.
Kresek...kresek...kresek...
Lamunanku terhenti begitu saja. Suara langkah kaki menginjak daun kering membangunkanku, membawaku dalam kesiagaan. Biasanya Anton si anak jahil akan datang kemari untuk sekadar menjahiliku yang sedang tertidur.
Aku mendudukkan bokongku. Tidak membiarkannya bersantai lagi. Ini waktuku untuk siaga. Anton tak akan menjahiliku jika ia mendapati aku terjaga. Aku menggenggam batu kerikil kecil, bersiap untuk melancarkan serangan kejutan bila orang yang muncul diluar ekspektasiku. Aku menahan nafas sejanak. Genggaman tanganku bersiap terayun.
"Hai...", tiba-tiba seorang gadis berkulit putih berseragam sepertiku keluar dari balik pohon Cemara. Ia tersenyum.
Aku memandanginya dengan seksama. Takut-takut ia hantu halaman belakang yang diceritakan Anton tempo hari.
Seolah membaca isi pikiranku ia berkata, "Apa yang kau pegangi itu? Sepertinya aku mengganggumu?"
Aku memandanginya tanpa berkedip. Jantungku berdekup cepat, bahkan sangat cepat. Jarang sekali aku seperti ini. Apa yang kurasakan? Aku ketakutan? Rasanya tidak mungkin.
"Ah. Tentu saja tidak. Kau ingin bergabung denganku?", tanyaku pada gadis itu. Aku baru melihatnya hari ini jadi wajar saja jika aku tak mengenalinya.
Ia tersenyum ramah. Ini kali pertama kami bertemu dan ia sudah tersenyum padaku sebanyak dua kali. Mengagumkan.
"Gadis ini mengagumkan sekali", pikirku. "Ia bahkan tersenyum pada orang yang baru pertama kali dijumpainya", imbuh pikiranku lagi.
Gadis itu berjalan mendekat.
Aku memandanginya tak henti. Wajahnya begitu damai, ia menikmati hari-harinya di sekolah ini. Berbeda denganku. Aku dapat memastikan itu hanya dengan melihat wajahnya yang terus tersenyum begitu damai.
"Kau sangat menikmati siang harimu di sini?"
Kini gadis itu sudah duduk di sampingku. Aku tak bergeming.
Hening.
"Apa aku mengganggumu? Kau terlihat aneh...", ia kembali membuka pembicaraan sambil menepuk pundakku.
"Eh? Hehe... maaf. Kadang-kadang aku sulit bercakap-cakap dengan orang lain. Terutama dengan seorang perempuan.."
"Kau aneh hahaha...", gelak tawa nyaring terdengar dari kedua bibir mungilnya. Ia tertawa sambil menepuk pundakku berkali-kali. Rasanya semakin aneh.
Aku tak berkata-kata selama ia tertawa. Aku hanya merasa nyaman menatap tawanya.
"Kau tak perlu gugup padaku. Tenang saja, aku takkan melukaimu. Lagi pula kita satu sekolah, dan kulihat kau jarang sekali mengajak orang lain berbicara. Kau hanya duduk di sini, memandangi langit sambil tiduran, bahkan tidak jarang kau tertidur pulas di sini. Apa aku salah?". Tawanya terhenti. Ia mengusap matanya yang berair.
Ia menoleh ke arahku. Mata berwarna coklatnya menatapku lekat. Pupilnya membesar. Ia seperti menahan sesuatu entah apa. Dengan jelas ia menghembuskan nafasnya yang hangat di samping wajahku.
Aku mati langkah. Kulirikkan mataku ke samping. Ia semakin mendekat. Pupilnya semakin membesar.
"Apa yang akan ia lakukan? Aku mati kutu. Sial!!", hatiku menggerutu. Ingin rasanya aku memberontak dan melesat pergi dari sini.
Tapi aku tak bisa.
"Biasakan wajahmu itu dengan kehadiran seorang perempuan! Kulihat wajahmu itu seperti Goblin jika sedang didekati oleh perempuan. Membayangkannya saja aku ingin tertawa sepanjang hari hahaha...", anak perempuan itu kembali tertawa. Ia sama sekali menghilangkan keanggunannya dengan tertawa seperti itu.
Kupikir ia lebih aneh dariku.
"Ahh... i..itu aku tak tahu. Aku belum pernah be-be- berbicara dengan anak perempuan lain sebelumnya... ku-kurasa karena a-aku aneh", Aku selalu seperti ini tiap berhadapan dengan perempuan. Selama ini hanya Ani saja anak perempuan yang pernah berbicara denganku, karena kami bersaudara.
Tawa anak perempuan itu semakin kencang. Ia mengusap-usap perutnya yang kesakitan. Dan tiba-tiba saja, "PLAKK!!". Ia menamparku.
Tamparan apa ini? Kenapa ia menamparku dengan kedua tangannya?
Ia sudah duduk tepat di hadapanku. Kedua telapak tangannya menempel dengan betah di pipiku setelah melancarkan tamparan tiba-tiba.
"Kau benar-benar anak lelaki yang aneh. Kau takut padaku? Atau jangan-jangan kau ini takut pada semua jenis perempuan, ya?", anak perempuan itu menurunkan tangannya. Tatapan matanya masih intens seperti tadi.
Aku tak ingin menjawab pertanyaannya. Dalam hati aku hanya berharap ini mimpi. Terlalu menyeramkan jika nyata. Kenyataan tentang aku yang phobia pada perempuan ini terlalh menakutkan, bagi diriku sendiri.
Aku tak ingin mengakuinya, tapi inilah kenyataan, fakta yang menelanjangi wajah tiga belas tahunku ; aku selalu ketakutan pada perempuan. Tak berbicara adalah salah satu bentuk ketakutanku yang pertama. Karena hal ini pula lah Anton menyebutku aneh.
Pikiranku melayang, sementara si anak perempuan manis itu tengah asyik menjelaskan bagaimana seharusnya mental dan sikap seorang laki-laki jika berhadapan dengan wanita. Seperti dia sudah dewasa saja, padahal aku yakin dia sama sekali tak mengerti semua yang ia ucapkan. Aku hanya membiarkan pikiranku terus melayang, sambil sesekali berdebat dengan bagian lain dalam diriku.
"Hei!!", ia berteriak keras sekali. "Apa kau dengar apa yang kuucapkan barusan? Seharusnya kau berterima kasih padakh atas tips-tips gratisku itu...", imbuhnya. Nada bicara anak perempuan ini lebih tinggi dari ibu.
Aku seperti anak kecil yang mengaku dosa di hadapan ibunya. Menyedihkan.
Beberapa menit berlalu tak mendapatkan eespon dariku, ia bergerak mengguncang kedua pundakku, seolah aku mainannya. Ia mengulangi lagi kalimatnya 'seharusnya aku beryerima kasih padanya' beberapa kalu. Tenaganya luar biasa, tapi ini sungguh menyebalkan.
"Benar-benar menyebalkan sekali. Dia pikir aku siapa? Apa dia pikir aku ini anaknya yang bisa ia marahi seenak perutnya?", gerutu bagian lain dalam diriku sedangkan tubuhku sama sekali tak merespon. Aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong.
Ia berhenti mengguncang tubuhku. Mungkin menyerah, semoga saja.
Sepi. Sang angin berjalan di antara wajah kami. Ia terlihat manis bila diam seperti ini. Kurasa ia lebih manis dibanding Ani.
Aku menatapnya inten. Iris pupil mataku fokus pada gurat di wajahnya. Ia benar-benar lebih manis dibanding Ani.
"A-aku sepertinya b-bermimpi...", gumamku pelan, namun cukup terdengar di telinga anak perempuan itu.
Ia mengangkatnya wajahnya hingga sejajar dengan wajahku, kemudian tertawa terbahak-bahak, "Bwahahaha... hahaha...hahaha...kau lucu sekali. Mana mungkin mimpi di siang hari. Kau ini aneh atau lucu sih sebenarnya? bwahahaha...".
"Sial! Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh! Mengatakan hal memalukan itu di hadapannya...", gerutu bagian lain dalam tubuhku. Ia sering memberi saran tapi mempraktekkannya.
Anak perempuan itu ringan tangan saat tertawa. Buktinya ia kembalj menepuk pundakku berkali-kali saat tertawa. Kedua tangannya mengguncang tubuhku sembari ia terus tertawa terbahak-bahak beberapa menit lamanya. Taman ini tak lagi sepi dengan kehadirannya.
Aku memberikannya seulas senyum saat ia tertawa. Lalu kembali ku tarik saat pemilik tawa mulai menatapku serius.
"Tenang saja, ini bukan dunia mimpi. Ini nyata. Sini biar ku cubit", tanpa aba-aba dariku, dia langsung mencubit kedua pipiku begitu keras.
"Eh? Awwww!!!". Spontan aku melepaskan tangannya dari wajahku. Aku mundur beberapa langkah darinya sambil terus mengusap pipiku yang memerah.
"Tidak. Ini bukan mimpi. Ini sama sekali bukan mimpi. Ini nyata. Aku bisa merasakan sakitnya cubitan di pipiku. Ini bukan mimpi. Pokoknya ini bukan mimpi!", gumamku pelan. Aku tak peduli ia menatpaku seperti apa saat ini. Langit, angin dan dedaunan tua sahabatku itu pun mendukungku.
"Sudah kubilang ini bukan mimpi. Kau masih tidak percaya padaku, ya?"
"Bukan begitu maksudku. Maksudku...maksudku...maksudku aku merasa ini seperti khayalan. Aku yang disebut si anak aneh sedang berbixara dengan seorang anak perempuan. Ini sungguh aneh... ma-maafkan aku!"
"Namaku Lingga Hana Lofty. Kau bisa memanggilku Lingga. Salam kenal"
Ia mengabaikan ucapan bertele-tele dariku barusan dan sibuk memperkenalkan dirinya sendiri.  Ia mengulurkan tangannya, bermaksud menjabat tanganku.
Cepat-cepat ku ulurkan tanganku, menyambut jabat tangan yang disodorkan oleh anak perempuan bernama Lingga ini. Ia tersenyum manis seperti pertama muncul dari balik pohon Cemara. Rasanya aku seperti deja vu dengan senyuman itu.
Tiba-tiba aku teringat wajah ibu tengah tersenyum. Mereka punya lesung pipit kembar di pipi, lalu bola mata itu berwarna sama. Ia mengingatkanku pada ibu. Wajah kami bertemu kembali. Pikiranku menjadi rumit seketika, membandingkan wajah Lingga dengan wajah ibuku.
Secara tidak langsung aku telah mengabaikan ajakan perkenalan anak perempuan ini karena terlalu asyik memperhatikan wajahnya.
"Ehemm! Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?", ujar Lingga tiba-tiba.
Membuat fondasi-fondasi khayalanku runtuh seketika.
"Eh..ah... Na-namaku Aruna Wijaya. Aku dilahirkan sesaat sebelum adzan subuh dan aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Salam kenal!", Aku Aruna yang grogi terhadap anak perempuan bernama Lingga ini.
"Ehmmmm...ehmm... wahahaha.... kau lucu sekali! hahaha..."
Aku heran kenapa ia doyan sekalu tertawa. Sebenarnya apa yang lucu dariku? Anton selalu memanggilku ANEH, tapi gadis ini sebaliknya.
"Tak perlu dipikirkan. Aku memang sering tertawa. Tenang saja, aku menyukai perkenalan kita. Aku yakin pasti aku akan selalu mengingatnya.", Lingga merapikan posisi duduknya lalu kembali berkata, "sekarang giliranku. Namaku Lingga Purnamasari. Aku dilahirkan di rumah sakit tengah malam, begitulah kata ibuku. Aku putri bungsu dari dua bersaudara dan aku baru satu bulan bersekolah di sini. Aku satu keelas dengan Ani. Salam kenal!"
Ia tersenyum ramah. Senyum itu, mirip sekali dengan senyum ibu.
"Ah ya. Semoga kita dapat berteman baik, ya". Aku membalas senyum ramah Itu sebagaimana mestinya. Aku tak ingin membuatnya kecewa. Bagaimana  pun ini bukanlah mimpi. Kejadian ini takkan terulang dua kali.
"Ya! Aku yakin kita dapat berteman baik!", seru Lingga seraya mengangguk-anggukan kepalanya, mengamini harapanku.
"Hei diriku yang lain! Rasanya ini akan menjadi kisah yang berbeda, bukankah kau juga berpikir demikian?", aku berkata pada sisi lain diriku itu. Dalam hati aku tak henti-hentinya tersenyum membayangkan apa yang baru saja terjadi.
Lingga mengalihkan pandangannya dariku. Ia menatap langit. Beruntung langit siang ini cerah, ia menampakkan keanggunannya begutu saja. Lingga terlihat tenang sekali ketika menatap langit, kedua matanya berubah sayu, kemudian ia membaringkan tubuhnya di tanah. Tidak mempedulikan pakaiannya yang akan kotor. Tanah yang kami duduki saat ini sudah dilapisi rerumputan pendek, sehingga lebih rapi untuk dipandang.
"Awan-awan itu selalu arak-arakan setiap hari. Bersama-sama kemanapun. Apa kau pernah berpikir manusia pun akan mampu menyamai mereka?", ujar Lingga tiba-tiba. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala, menjadikannya sebagai bantalan tidur.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan..."
"Sulit sekali berbicara hal serius dengan anak selucu kamu. Bicara dengan anak perempuan saja sudah kau anggap sebagai mimpi, apalagi membicarakan hal seperti ini...", Lingga tetap menatap langit. Salah satu tangannya memainkan ujung rambutnya yang tergerai bebas di rerumputan.
"Aku jadi heran, sebenarnya apa yang membuatmu.....", imbuhnya, namun terhenti ketika muncul arak-arakan awan yang serupa dengan kepala kambing. Ia mrngarahkan jari telunjuknya ke langit.
Kami di kaki langit hanya akan melihat arak-arakan awan saja, tanpa bisa menyentuh apalagi memeluknya.
"Lihat! Awan itu mirip sekali dengan kepala kambing 'kan?", serunya dengan semangat. Telunjuk tangan kanannya tetap terarah pada awan kepala kambing itu.
"Yang itu lebih mi-mirip da-daun..", aku menimpali ucapan Lingga.
Ia menolehkan kepalanya ke arahku. Kini ia duduk dengan sempurna.
"Apanya yang mirip daun, hah? Sudah jelas mirip kambing. Aku menyukai awan-awan itu. Bagiku mereka lebih jujur terhadap keadaan. Bila mereka ceria, mereka akan putih dan langit cerah. Bila mereka murung, warna kelabu akan menyelimuti mereka lalu langit menangis"
"Hu-hujan bukan artinya langit sedang menangis. Tapi memang ge-gejala alam ya-yang normal, kok"
"Terserah perutmu saja!"
Aku tak melontarkan kata apapun setelahnya., bahkan sekadar untuk menimpali ucapannya barusan pun tidak. Aku tak ingin ambil pusing dengan hal itu, lagipula diriku yang lain itu sudah mengamini tindakanku. Aku diam saja.
Lingga asyik memainkan ujung-ujung rambutnya sambil memiringkan badannya, memunggungi wajahku. Sayup-sayup terdengar kudengar ia bernyanyi. Lagunya asing, kata dalam liriknya sangat asing di telingaku padahal aku cukup sering mendengarkan lagu dengan berbagai bahasa. Tapi bahasa yang dilantunkan Lingga baru pertama kali kudengar. Aku tak ingin berkomentar. Tentang awan saja ia sudah kubuat marah, apalagi tentang nyanyian ini. Aku hanya takut ia menyangka aku menghina suaranya, meskipun memang nyanyian yang ia lantunkan terdengar menyakitkan dengan suaranya.
Cukup lama Lingga bernyanyi. Mungkin cukup dua atau tiga lagu dalam bahasa yang ku kenal. Tapi rasanya aneh dengan Lingga, ia tak kunjung berhenti menyanyikan lagu itu sejak tadi. Lagi-lagi aku tak berani berkomentar, takut-takut akan membuat hatinya hancur berkeping-keping karena komentarku. Aku membiarkan Lingga menyanyikan lagu anehnya itu dengan asumsi ia sangat menyukai lagu ini dan lagu ini sangat berarti baginya.
Percakapan kami sudah terhenti sekitar dua jam. Selama itu aku asyik merangkai daun-daun tua di atas rumput, membentuknya menjadi inisial namaku dan Lingga. Huruf A dan L berdampingan, seperti aku dan dirinya saat ini. Sejak dua jam lalu pula Lingga tak henti melantunkan untaian-untaian kata dalam lirik lagunya yang aneh di telingaku. Ia menikmati nyanyiannya -aku memastikannya. Ia menutup kedua matanya, semakin menandakan kenikmatan dalam setiap nada yang ia nyanyikan. Selama dua jam ini suaranya semakin halus, semakin enak didengarkan. Aku tak mampu menyangkalnya.
Matahari semakin memperlihatkan kecantikan dan keangkuhannya di peraduan barat. Ia dengan cantiknya merubah warna langit, biru menjadi orange, orange kemudian menjadi hitam kelam. Ia angkuh ; menenggelamkan dirinya sendiri di ujung barat meski banyak mata ingin tetap menyaksikan kecantikannya. Ujung barat selalu kuketahui letaknya berkat bantuan matahari, ia menunjukkan kemana ia akan pergi seperti saat ini. Sudah sore rupanya.
"Sebaiknya aku pulang...", Lingga berdiri lalu merapikan roknya.
Dia benar, ini sudah sore, ayah pasti mencariku bila langit sudah gelap aku belum pulang jua.
Lingga kembali duduk di dekatku. Merapikan tas miliknya yang isinya sudah berhamburan keluar. Kami tetap tak bicara, hanya membisu bersama angin yang semakin kencang berhembus.
"Kau tidak pulang, Aruna? Apa ibumu takkan mencarimu?", Lingga akhirnya membuka pembicaraan.
Aku merasa ia adalah anak perempuan penuh inisiatif, setidaknya di mataku.
"Ah...emmm... tidak, kok. Aku memang selalu pulang sore ke rumah. Biasanya aku pergi ke tempat les, tapi hari ini aku libur dan memilih diam di sini sampai sore. Ayahku pasti belum pulang ke rumah..."
"Begitu rupanya. Baiklah, aku pulang dulu, ya", ujar Lingga. Ia baru saja selesai merapikan tasnya.
"Mau pulang bersamaku?", lanjutnya seraya berdiri, lalu mengulurkan tangan.
"A-Aku... a-aku...a-aku...", seperti biasa, aku gugup.
"Bagaimana? Jangan gugup begitu hanya karena aku perempuan"
"Ba-baiklah. Tunggu aku di gerbang sekolah, ya?"
"Ok". Ia tersenyum lalu beranjak meninggalkanku.
Senyum itu. Siapa pemiliknya selain Lingga?
Aku melihat ia menghilang setelah berbelok. Sejenak kuhempaskan punggungku ke rerumputan ini, berusaha menghirup baunya yang khas, merasakan belaiannya, serta diam membiarkan angin menerjang tubuhku yang kecil. Taman atau bisa juga disebut halaman belakang sekolah ini selalu menghadirkan sensasi yang sama di sore hari dan aku selalu menyukainya. Mungkin aku akan semakin menyukainya bila Lingga selalu menemaniku di sini.
Matahari sudah hampir tenggelam saat aku dan Lingga beranjak dari gerbang sekolah. Ia sempat menggerutu dan menceramahiku karena terlalu lama memberesken isi tasku yang berserakan. Aku jadi ingin tertawa mengingatnya, aku terlalu lama karena tiduran dahulu di rumput itu, tapi aku tak mengatakannya. Tentu aku tak ingin ceramah Lingga semakin panjang berkat kejujuranku. Sebelum pergi, kami menyapa Kang Danang, penjaga sekolah kami, sekadar mengucapkan selamat sore dan ucapan terima kasih karena sudah membiarkan kami berlama-lama di halaman belakang sekolah. Aku menyukai kang Danang, ia begitu baik dan pengertian. Sepintas ia seperti sosok kakak yang selalu kuinginkan.
Kami berjalan berdampingan. Lingga tak pernah berhenti berbicara, ia membahas kegugupanku pada perempuan, kang Danang yang akan segera menikah, rumahnya yang masih berdebu dan hal-hal kecil tak penting lainnya yang menurutku tak perlu dibicarakan. Tapi, inilah Lingga, ia mudah berganti mood dalam waktu yang singkat. Sedetik ia irit bicara, detik berikutnya akan berubah menjadi kereta api ekspres yang tak bisa berhenti, sedetik marah, sedetik kemudian lembut seperti kapas, sedetik tomboy, sedetik kemudian jadi anak manis. Beberapa jam bersamanya membuatku tahu semua itu.
Akhirnya kami tiba di persimpangan jalan yang memisahkan tujuan kami. Ia berhenti melangkah, lalu menoleh ke arahku dan berkata, "Ini persis seperti arak-arakan awan itu. Kita tidak bersama, di sini lah kita berpisah."
Ia terlihat berpikir. Mungkin mencari kata yang tepat.
"Oke, kalau begitu sampai besok. Ingat! Jangan pernah gugup lagi di hadapanku?", serunya seraya berlari mengejar angkutan umum.
Ia urung menaiki angkutan umum itu. Sejenak ia mengibaskan telapak tangannya -memberi tanda pada sopir angkutan umum itu bahwa ia tidak jadi naik. Kemudian menoleh ke arahku.
"Hei Aruna! Tadi itu bukan mimpi! ingat itu, ya!”. Lingga berteriak dengan kencang. Memastikan aku menerima pesannya.
Aku melambaikan tangan, lalu mengangguk. Dalam hati aku masih tidak mempercayai kejadian hari ini ; aku berbicara dengan anak perempuan. Aku menganggukan kepalaku beberapa kali, memberinya tanda aku mengerti.
Lingga tersenyum, lalu membalikkan badannya dan pergi. Hari ini matahari sudah tenggelam dan Lingga pulang dengan berjalan kaki.
“Senyum itu? Apa itu senyum ibu?”, tanyaku. Ia memiliki senyum yang sama seperti ibu.
Baca selengkapnya

Senin, 03 April 2017

Ingat Tiga Perkara Agar Kuliah Tetap Membara

gambar via Unsplash by Mike wilson
Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hore! Hore!
Kenal petikan lagu di atas? Petikan lagu di atas berisi keriangan saat liburan sudah di depan mata, tercium baunya, terasa hawanya. Liburan, barangkali sesuatu yang ditunggu banyak orang. Sulit dihitung dengan jari mahasiswa yang berpikir bahwa liburan dapat kembali menyalakan bara di dalam dada mereka agar kembali semangat menjalani kehidupan kuliah. Ini tidak salah. Bepergian ke pantai, pegunungan, bermain air, menghirup udara sejuk ala pegunungan, bernyanyi di antara api unggun, membakar ayam, dan hal menyenangkan lainnya yang menjadi semacam agenda untuk mengisi waktu liburan, barangkali dapat menyalakan kembali bara itu. Ada juga yang mengisinya dengan berkunjung ke rumah nenek, ikut les gitar, belajar mengemudi, bahkan bekerja. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu liburan.  Namun, apa semua hal itu dapat menjamin bara kembali menyala? Siapa tahu malah meletup seperti petasan cabe, lalu padam.
Bara semangat yang kita miliki tidak jarang berada pada titik paling rendah. Titik ini membuat pemiliknya ogah-ogahan melakukan sesuatu yang sepele seperti menaruh gelas di rak atau mencuci piring, apalagi kuliah. Perasaan yang dialami ini tidak mengasyikkan sama sekali. Dunia seolah berputar dalam slow motion yang menjemukan. Kuliah menjadi hal mneyeramkan. Saat berada pada kondisi ogah-ogahan ini pelajaran yang bisa didapatkan di kelas malah kabur entah kemana. Masa ogah-ogahan biasanya muncul di tengah semester, atau bahkan sejak liburan usai dan semester baru hendak dimulai. Nah, jika sejak awal semester baru sudah ogah-ogahan, apa ma uterus-terusan liburan?
Untuk memantik bara itu kembali menyala dan mendapatkan pelajaran yang memang seharusnya didapatkan, liburan memang sebuah alternatif, tapi tidak selamanya liburan dapat memantik kembali bara di dada agar menyala lagi, maka barangkali cara lain yang perlu dilakukan adalah mengingat kembali niat saat hendak kuliah, tujuan yang ingin dicapai dan orang-orang yang berdiri di belakang kita. Ketiga perkara di atas tidak jauh dari diri kita. Yang pertama dan kedua, semuanya terdapat di dalam diri kita. Sedangkan yang ketiga, jaraknya bisa saja jauh, tapi secara emosional amat dekat seperti keluarga, kekasih, teman, sahabat, guru, dosen, bahkan ibu kost.
Niat, ini hal paling mendasar dari semua yang kita kerjakan setiap hari. Tanpa ini, perkara yang kita selesaikan barangkali terasa hampa, kosong. Niat, barangkali beberapa patah kata yang kita ucapkan, resapi, dan kita teguhkan dalam hati sebelum mengerjakan sesuatu, seperti yang dilakukan sesaat sebelum beribadah. Mengingat niat kita, barangkali akan membuat wajah kita terasa ditampar untuk kembali berusaha dan berusaha, tentu mengingatnya bukan sekadar mengingat.
Tujuan barangkali bisa sama dengan niat, tetapi yang saya maksud tujuan ini semacam ingin menjadi siapa kita di hari depan. Seseorang di antara kita barangkali ingin menjadi seorang guru, ia kuliah di jurusan pendidikan, dan mengalami ogah-ogahan di tengah perkuliahannya. Ia harus mengingat bahwa dirinya ingin menjadi guru, terlebih menjadi Pegawai Negeri Sipil, untuk itu ia perlu serius belajar dan lulus. Ia harus mengingat ingin menjadi siapa dirinya dengan penuh keseriusan.
Orang-orang yang di belakang kita, adalah mereka yang berharga dan menghargai keberadaan kita. Mereka ada untuk kita, dan kita untuk mereka. Saat bara kita meredep, mengingt mereka barangkali dapat membuat bara itu tetap menyala, meski kecil, terlebih berkobar besar. Sesekali, kita juga mesti menyempatkan membayangkan orang-orang di belakang kita menampakkan beragam raut, seperti tersenyum, murung, menangis, dan marah. Raut mana dari mereka yang membuat kita menunduk dan membisu, maka jangan sampai mereka menampakkannya sebab oleh sikap ogah-ogahan kita dalam kuliah.
Ketiga hal yang saya paparkan di dalam tulisan ini, barangkali dapat membantu kita untuk tetap mempertahankan bara di dada dalam segala hal yang kita jalani, terutama dalam perkuliahan. Bara semangat yang menyala saya pikir amat penting. Tanpa itu, pelbagai perkara yang kita lakukan akan terasaseperti angina yang ingin ditangkap dengan tangan kosong. Semoga, apa yang saya tulis ini dapat membantu kita semua.


Bandung, 26 Januari 2014
Baca selengkapnya

Anomali Pendidikan di Indonesia

gambar via Unsplash
Muncul satu lagi kasus memalukan di dunia pendidikan negeri ini. Pelecehan pada anak berusia lima tahun yang terjadi di Jakarta International School (JIS). Kasus ini mencoreng, bukan hanya nama JIS, tetapi juga nama Kemendikbud, dan secara umum wajah pendidikan di negeri ini.
Pendidikan, asal katanya adalah didik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata didik diartikan sebagai upaya memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Selaras dengan yang diungkapkan R.A Kartini, bahwa seorang ningrat adalah dia yang pikirannya cerdas dan budi pekertinya baik. Seharusnya memang seperti itu, tapi pelbagai fenomena pendidikan yang terjadi di negeri ini justru berlangsung sebaliknya, dan atau tidak seimbang. Kebanyakan hanya fokus pada pengembangan kecerdasan pikiran saja.
Bukan hanya pada pendidik, tapi juga para orang tua calon peserta didik. Saya heran, di zaman yang serba instan ini, banyak orang mencari pendidikan hanya untuk mengangkat status sosial keluarganya. Saat anaknya sekolah di sekolah mahal dan berkelas, orang tua akan merasa bangga. Kelas sosialnya akan naik. Keluarganya jadi makin terpandang. Pemilihan pendidikan ini bukan didasarkan pada kebutuhan anak, akan tetapi pada sesuatu yang justru tidak normal.
Bukan hanya itu, sekolah-sekolah di negeri ini, terutama di kota besar, saya rasa lebih mementingkan status sosial mereka. Dengan menyediakan gedung pencakar langit, seragam berbahan mewah dan fasilitas pendukung kelas satu, diharapkan banyak orang tua peserta didik yang tertarik. Semakin bagus fasilitas yang dimiliki, akan semakin tinggi pula kelas sosial yang dimiliki sekolah tersebut.
Selain itu, institusi-institusi pendidikan formal yang disebut sekolah lebih memerhatikan kecerdasan pikiran ketimbang kecerdasan moral. Mempekerjakan pendidik dengan gelar a, b, dan c, juga peragkat pendidikan lain yang berpangkat a, b, dan c tanpa memerhatikan aspek moral yang dimiliki. Hasilnya, pelecehan pada peserta didik terjadi dimana-mana. Guru-guru mencabuli anak didiknya, penjaga sekolah meniduri siswi dan lain sebagainya.
Fenomena ini terjadi karena pendidikan dimaknai secara dangkal. Sebatas kata benda yang terbentuk dari kata didik. Orang tua memaknainya sebagai salah satu media untuk mencapai kelas sosial yang tinggi, dan sekolah memaknainya sebagai komoditi perdagangan alias dijadikan industri untuk meraup keuntungan yang besar. Dengan membangun gedung-gedung sekolah yang mencakar langit dan menyediakan fasilitas kelas satu. Memang dalam membentuk kecerdasan pikiran diperlukan infrastruktur pendukung kelas satu, akan tetapi aspek moral jangan sampai dilupakan. Saya kira hal itu pula lah yang kira terjadi di Jakarta International School.

Dari pendidikan, diharapkan peserta didik nantinya memiliki  budi pekerti yang baik dan kecerdasan pikiran yang baik pula. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan bimbingan serta latihan dengan intensitas yang tinggi, dimana diperlukan pendidik dengan kualitas pikiran dan moral yang baik. Orang tua pun membantu dalam tercapainya tujuan ini, karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak.

(artikel ini ditulis saat ramai kasus Jakarta International School antara tahun 2013 dan 2014)
Baca selengkapnya

3 Faktor dalam Berdo'a

gambar via Unsplash by Emma van Sant
Siapa yang tidak pernah berkomunikasi dengan Tuhannya? Tidak ada. Bahkan seorang yang mengakui atheis pun saya yakini ia pernah melakukan komunikasi antara dirinya dengan Sang Pencipta.
Cara berkomunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Nyeletuk, bergumam, mendengus, kesal, ramah, tersenyum, ritual ibadah dan beragam cara yang selalu dilakukan oleh manusia, disadari ataupun tidak, terjadwal atau tidak.
Dalam islam, kita mengenal ibadah lima waktu yang disebut Shalat. Shalat lima waktu menjadi salah satu sandaran manusia untuk berhubungan dengan Allah. Shalat lima waktu merupakan ibadah wajib yang mesti dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagai upaya pernghormatan, pemuliaan dan wujud rasa syukur atas segala karunia-Nya. Selain shalat lima waktu, umat islam bisa juga menambahkan shalat-shalat sunnah dalam rangka menjalin hubungan dengan Tuhannya. Biasanya selesai shalat seseorang akan menengadahkan tangannya sedikit ke atas dan mengungkapkan apa yang ia harapkan, rindukan, diinginkan, bahkan tidak jarang dengan nada memaksa.
Berdo’a, itulah nama yang kita kenal untuk menggambarkan proses memohon yang lebih intim antara mahluk dengan penciptanya. Selepas shalat, umat islam memanjatkan do’a kepada Allah.
Berdo’a menurut saya bisa disebut sebagai proses komunikasi. Di dalam do’a seseorang mengutarakan keinginan untuk dirinya, orang tuanya, hari esok, rezeki dan lain sebagainya. Kebanyakan orang berdo’a hanya sehabis shalat saja, tetapi sejatinya berdo’a itu adalah pekerjaan tiga organ tubuh yang utama, yaitu : hati, lisan, dan badan.
Seperti diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi, K.H Syukriadi Sambas dalam selembar kertas ujian akhir semester bahwa berdo’a adalah pekerjaan hati, lisan dan badan. Ketiga organ tubuh utama manusia itu melakukan hal-hal yang memungkinkan untuk membuat do’a itu dikabulkan ataupun ditolak bahkan dapat menimbulkan do’a yang baru.
Dalam pekerjaan badan misalnya, badan beraktifitas sehari-hari –perilaku- memperlihatkan apakah senandung-senandung do’a yang terucap itu memang benar-benar dibutuhkan dan akan memberi manfaat bagi si pemunajat do’a itu sendiri.
Kemudian hati, organ tubuh manusia tempat mengetahui kebaikan ini juga menjadi salah satu faktor penentu dan penguat do’a yang dipanjatkan. Bila hati meyakini apa yang dipanjatkan, insya allah do’a yang diungkapkan dalam munajat siang-malam akan terkabul. Allah tidak pernah menyalahkan manusia yang ragu pada do’anya, tetapi sedikit keraguan dapat membatalkan semuanya.
Lalu yang paling sulit untuk ditahan agar tidak nyeleneh adalah lisan. Pepatah yang mengatakan lisan adalah pedang tanpa mata memang benar adanya. Kaum muslimin sering melupakan hal ini. Usai shalat ia memanjatkan hal-hal yang ia rindukan, tetapi dalam perkataan sehari-harin ia tidak mampu menjaga perkataannya dan mengumpat karunia Tuhan, tidak jarang pula mengucapkan umpatan. Hal ini dapat menjadi bomerang tersendiri bagi si pemunajat do’a, sebab umpatan-umpatan tak terkendali itu sebenarnya menjadi do’a tanpa ia sadari.
Berdo’a adalah salah satu ritual sakral dan proses komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya. Ketiga faktor di atas adalah media berdo’a seorang hamba pada tuhannya, Jadi alangkah lebih baik jika ketiga organ tubuh utama manusia yang telah penulis sebutkan di atas dijaga dengan baik agar tidak terlalu sering keluar dari etika manusia terhadap Tuhannya.

Sedikit banyaknya celetukan-celetukan manusia dalam kehidupan sehari-harinya menjadi do’a yang tak terduga.
Baca selengkapnya

Imaji : Sebuah Permulaan

Gambar via unsplash oleh Raul Petri
Di rumah, pukul 04.00 WIB
Aku kehilangan seseorang yang kucintai. Istriku meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ia meregang nyawanya tepat di hadapanku. Aku menyaksikan momen itu secara perlahan. Seperti slow motion di film-film. Menyakitkan. Momen itu tak dapat kulupakan sama sekali.
Namaku Windu. Itu nama yang kuingat. Bukan cuma kuingat, Windu itu nama yang tercantum di KTP-ku, di SIM, di Passport, tunggu... aku punya passport untuk apa? Aku tak pernah ke luar negeri, setidaknya begitu seingatku, tapi yang jelas aku punya passport. Sesimpel itu. Sekarang aku menduda, sepertinya untuk waktu yang lama.
Setelah kematian istriku aku memilih menjadi tukang daging. Itu untuk meninggalkan semua kenangan tentang mendiang istriku, juga untuk mengawali sesuatu yang baru. Hari ini aku hendak ke pasar. Menyaksikan keramaian, mencium bau amis, dan mendapatkan rupiah.

***

Pasar Induk Kemayoran menjadi markas besarku. Beragam orang menyandarkan kehidupannya di tempat ini. Preman, sopir angkot, tukang sayur, tukang daging, tukang ikan, pedagang kain, juragan beras, boss emas, pedagang mainan, hanya sebagian jenis manusia yang meraup rupiah di sini. Selain mereka, masih banyak lagi. Tokoku ada di blok G nomor 246. Toko Daging Sewindu. Di lingkungan blok G ini, jalanannya becek. Sampah sayuran dan plastik berserakan dimana-mana. Bau amis adalah bau khas dari blok ini karena blok ini berisi kelompok pedagang daging dan ikan. Daging ayam, daging sapi, kambing, kuda, unta, ayam dijajakan berjejer sejauh mata memandang. Tangan-tangan para pedagang dilindungi sarung tangan karet. Para pekerja-pemilik toko sehari-harinya selalu memegang pisau potong yang besar, timbangan, kantung plastik, dan uang. Mereka tidak akrab dengan dunia digital karena dunia digital di sini berarti dunia yang lembek. Dunia yang tidak pernah mengenal bau amis.
“Bagaimana hari ini, Windu?” Haji Amir melenggang masuk sambil melihat-lihat daging jajakanku. Ia pemilik Toko Wisnu Adi di ujung blok F. Ia juragan beras. “Nampaknya daganganmu sebentar lagi habis.” imbuhnya.
Aku mengajak pak haji duduk sambil minum kopi di pojok kiri toko. Itu adalah area suci dari tokoku. Tempatku menyimpan uang dan pakaian ganti. Sejenis meja kasir, tapi aku tak pernah mengajak para pembeli membayar di sini. mereka selalu membayar di depanku, di depan meja potong.
“Kopi hitam, pak haji?”
Haji Amir mengangguk. Ia masih memandangi tumpukan daging yang dapat ditaksir yang seberat lima kilo.
“Baru setahun di sini, kau sudah bisa bersaing dengan toko daging yang tua-tua itu.” guraunya.
“Bukan bersaing, pak haji, tapi rezeki memang tak pernah buta.” Aku tertawa kecil. Haji Amir pun ikut tertawa. Keriput di sudut matanya mengecil. Kupikir, ia terlihat muda saat tertawa.
Kami berbincang soal kondisi pasar yang becek, kabar burung soal perombakan pasar, harga BBM yang naik-turun, dan hal lain yang tak berguna seperti keluhan istrinya soal beras Thailand, karung beras bergambar kelinci playboy, karung beras bergambar kartu gapleh dan mobil Septian si pemilik butik Aurora di muka pasar yang dicoreti sekelompok orang tak dikenal. Ini semua untuk membunuh waktu dan membuat kami tertawa. Beberapa bahan pembicaraan memang tak patut, tapi mau apalagi, pasar adalah tempat yang tak layak menjadi layak untuk diperbincangkan.
Setelah dua jam lebih kami mengobrol, Haji Amir mulai mengecilkan volume suaranya. Ia terlihat lebih berhati-hati memilih kata, memastikan tidak orang yang menguping, dan akhirnya membisikkan perkataannya yang belum kudengar jelas tadi.
“Datanglah ke gedung Teater Amarah di Jln Gatot Subroto nanti malam. Ada sesuatu yang harus kamu lihat di sana.” Bisiknya.
“Jam berapa?” Tanyaku.
“Jam sembilan malam. Datang sendiri. Ingat! datang sendiri.” Setelah selesai berbisik, Haji Amir pamit pulang. Ia berjalan keluar dari blok G dan menuju ke parkiran. Aku tak melihatnya lagi setelah ia berbelok.
“Apa yang seharusnya aku lihat di sebuah gedung teater?” Tanyaku pada diri sendiri. Aku mengingat-ingat apa yang seharusnya kulihat akhir-akhir ini. Aku berpikir, mengingat, menuliskannya di secarik kertas : nama-nama, benda, janji yang seharusnya kulihat dan kuhadiri. Kuperiksa daftar itu beberapa kali, ternyata tak ada. Apa yang seharusnya kulihat di sana?
Ah ya! Haji Amir adalah tetanggaku di sini dan di rumah. Ia sangat ramah dan mudah diajak bicara. Ia membantuku dalam banyak hal, salah satunya menjadi orang yang menyewakan toko ini padaku dan mencarikan aku suplier daging sapi kualitas satu untuk tokoku ini.

***

Jalan Gatot Subroto pukul 20.30 WIB
Lampu bagian depan atau di atas pintu masuk Teater Amarah mati. Di depannya gelap.  Aku hanya melihat seorang lelaki paruh baya berjualan gorengan. Dia diterangi lilin yang dilindungi botol bekas Kratingdaeng. Kompornya menyala, memanaskan minyak dan menggoreng tepung menjadi bala-bala, goreng tempe atau aci menjadi Cireng. Teater Amarah terlihat seperti bangunan tua yang tak terurus.
Pukul 20.47 WIB
kulihat beberapa pemuda masuk ke dalamnya. Pakaian mereka rapi. Ada yang memakai jas, ada yang pakai kemeja kotak-kotak, rambut klimis, bersepatu pantopel, memakai kaos kaki, dan yang sama adalah mereka membawa sebuah tas jinjing yang terbuat dari kulit.
"Kenapa diam di sini, Windu?" Tanya seseorang di pintu mobil sebelah kiri. Ia berjongkok.
Ia memakai jam bermerk dan modelnya juga langka.
"Kenapa gak masuk? Ayo... sebentar lagi dimulai loh.." ajaknya. Ia berdiri, seperti memastikan pintu teater belum ditutup, lalu berjongkok lagi dan mengajakku, lagi.
Aku tak mengenalnya.
"Namaku Aji. Ajidarma. Ayo.. pak haji sudah menunggu di dalam..." ajaknya lagi.
Ia mengenal pak haji, orang yang juga kukenal. Baiklah, aku akan masuk bersama lelaki bernama Ajidarma ini.
Benar saja, Haji Amir memang mengenalnya. Haji Amir pula lah yang mengajak Aji untuk datang ke teater ini. Haji Amir, aku dan Aji duduk-duduk di kantin teater. Menikmati secangkir kopi dan berbincang. Haji Amir banyak menceritakan kejadian lucu semasa ia muda dulu. Tawa dan perbincangan kami terhenti saat seorang perempuan berpakaian rapi memanggil Aji dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan.
"Sebentar lagi giliranmu, Windu." Ujar Haji Amir setelah melihat Aji masuk bersama perempuan tadi. Ia merapikan jasnya, memakainya, kemudiann berdiri dan pamit pulang. Sebelum pergi, Haji Amir berpesan agar aku menyelesaikan semua prosesnya malam ini.

bersambung
Baca selengkapnya

Minggu, 02 April 2017

Selamat Pagi, Kota Bunga


Di dalam keramaian, seorang lelaki berjalan cepat. Ia menyelinap, melewati kerumunan di depannya. Satu dua orang, ditabraknya. Sesekali ia melihat jam tangannya, lalu langkahnya semakin cepat. Lama kelamaan, ia berhenti berjalan.
Ia, berwajah halus. Gurat-guratnya, menunjukkan ketenangan. Tapi, ketenangan tetap menyembunyikan sakit, begitu pula wajah ini. Rambutnya disisir rapi. Klimis. Modelnya, persis tentara pertengahan abad ke-20 di film-film Hollywood. Di dalam mulutnya, ia mengunyah semacam permen karet, yang sekarang sudah tak lagi manis. Begitulah. Dan ia membuang permen karet itu sebelum masuk ke sebuah restoran bergaya eropa.
Ia melambaikan tangannya pada seorang gadis. Gadis itu, barangkali adalah kekasihnya. Seketika, wajah si lelaki merekah.
“Bagaimana kabarmu?” Si lelaki memberikan pelukan pada gadis itu. Ia mencium pipinya selagi sempat, dengan cepat.
“Aku baik-baik saja. Kebiasaanmu tidak berubah.” Ujar si gadis. Ia tertawa kecil.
“Hahaha…” Si lelaki ikut tertawa. Tawanya dalam, dan nampaknya ada semacam sakit di dalam tawanya, yang akhirnya terdengar garing dan palsu. “Apa sudah pesan?” Imbuhnya. Ia membuka daftar menu sambil mengungkapkan alasan ia terlambat.
“Kau benar-benar tidak berubah, Dharma. Alasanmu, persis seperti yang selalu kau utarakan dalam pertemuan-pertamuan di masa lalu itu, kau ingat?” si gadis memutar waktu di kepala Dharma. Ia memaksa Dharma agar melihat, merasa dan menjadikan “ada” dirinya di dalam masa yang dipanggil sebagai “yang lalu” itu.
“Ah, iya aku tahu. Tidak semua hal harus berubah.” Dharma menyunggingkan senyumnya. “Kau pun sama. Memandangmu tetap menghadirkan sensasi asing, tapi mirip kesejukan pagi.” Dharma menulis pesanannya cepat-cepat, setelahnya ia memanggil pelayan dan memberikan catatannya. Ia kembali pada kesejukan pagi, yang dahulu menenggelamkannya.
“Kesejukan pagi, adalah kata yang membuatku tunduk dan patuh padamu, dahulu.” Gadis itu menautkan jemarinya. Lalu, ia bertopang dagu pada jari-jari yang bertaut itu. Ia memandang penuh keseriusan, pada Dharma.
“Sebenarnya, apa yang ingin kau utarakan kali ini?” Imbuh si gadis. Nadanya tajam.
“Tak ada.” Dharma menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu mengalihkan pandangannya. Di luar, mata yang menatap hari itu, telah lenyap. Ia ditelan serombongan kelam, yang hendak menembakkan deretan peluru ke bumi. Orang-orang, di cermin mata Dharma, berbondong-bondong meninggalkan keramaian terbuka, mereka beralih ke keramaian tertutup, di bawah naungan beton dan baja.
“Kau masih bodoh rupanya…” Kata si gadis, halus. Ia tetap menusuk Dharma dengan tatapannya.
“Bodoh bukan hal yang buruk. Tikus menjadi bodoh sebab ia terjepit jebakan yang dibuat manusia, atau memakan keju yang ditaburi racun, namun ia adalah kreasi yang pintar, penuh akan naluri mempertahankan kehidupan. Aku memang bodoh, di matamu. Aku bodoh, dan selamanya, aku selalu begitu.” Dharma menyilangkan tangannya di dada. Ia tetap pada keramaian yang sekarang hanya seruang kekosongan. Ia seperti mencari sesuatu di sana. Barangkali, sepotong “lalu” yang enggan kembali.
Dan buana kota Bunga itu semakin kelam dan siap menurunkan anugerahnya.
“Tidak salah, untuk menjadi bodoh, Mira.” Ia melanjutkan ucapannya. Wajahnya, berubah sayu saat deretan peluru itu telah sedang menghujam bumi.
Mira diam, begitu pula Dharma.
“Aku ingin memberitahumu sesuatu, Mira.” Dharma kembali bersuara setelah membisu cukup lama. Pesanannya telah bertengger manis, mengepul di depannya. Tapi, ia masih mencari yang “lalu” di antara keramaian hujan di balik jendela. “aku tak pernah tulus menenun kasih denganmu.” Sejenak kalimatnya terputus. “Baru sekarang, aku ingin tulus melakukannya, denganmu.” Kala itu juga ia menoleh, membalas tatapan Mira. Nada bicaranya penuh optimisme.
Ia menyentuh tangan Mira, mengalirkan optimisme itu pada si gadis. Punggungnya yang tadi bersandar manja di kursi, saat ini telah tegak. Dharma tengah terbakar optimisme.
Mira menarik tangannya. Ia membuang optimisme Dharma, meludahinya, menginjak-injaknya. Meski begitu, ia merasa dirinya telah menjadi kesejukan pagi itu lagi. Ia bisa terbuai. Ia bisa hanyut. Tapi Mira sudah terbuai dan hanyut sampai ke hilir satu kali. Sekarang, ia enggan mengalaminya, lagi. ia harus berenang melawan arus.
“Aku tahu, dahulu semuanya hanya sebuah kepalsuan. Kau yang romantis, kau yang setia, yang menjaga pandanganmu dari gadis lain, kau yang menjaga dan merawatku. Aku tahu, tiada ketulusan, setitik pun di sana!” Mira tertawa kecil. Tawa itu terlalu lemah, sekadar untuk menyembunyikan perih di hatinya. Ia telah kehabisan pikiran, tentang lelaki ini. Dua tahun mereka bercerai, sekarang ia datang dengan ketulusan. Bila Mira menerimanya, ketulusan itu hanya akan hambar.
“aku bersyukur untuk itu, Mira.”
“Aku menolak hidup bersamamu, dengan ketulusanmu itu. Bagiku, semuanya sudah cukup. Aku telah berada di ambang kebosanan. Bosan pada kebaikan, tanpa celaan dan cercaan.”
“Kau tahu, aku tak sanggup bila harus mencela, apalagi mencercamu, Mira. Kau, adalah kesejukan pagi Kota Bunga. Dan, setiap hari aku ingin menyapamu dengan ‘selamat pagi, Kota Bunga’…” Dharma berhenti sejenak. Ia menyingkirkan makanan yang mengepul di hadapannya. Ia beranjak, mendekat pada Mira.
Keramaian restoran bergaya eropa itu, menjadi tirai yang hanya terbuka-tertutup.
“Aku hanya akan merawat dan menjagamu dengan kebaikan, dan sekarang, juga ketulusan. Aku ingin menjadi hujan bagi kota bunga itu.” Dharma melanjutkannya, lirih. Ia mengacuhkan semua mata yang tertuju padanya. Sedangkan Mira, sudi tak sudi, ia diam saja.
Mira semakin merasa dirinya menjadi Kota Bunga dan kesejukan pagi. Ia semakin akan terbuai, dan akan hanyut andai ia tak menampar pipinya keras-keras. Ia berpikir, bahwa cinta dengan ketulusan, terutama dari Dharma hanya bisa membuatnya terbujur bosan sampai mati. Ia ingin kehidupan rumah tangga dengan pertengkaran, cercaan, dan barangkali tamparan, karena setelah semua itu, ia yakin tangan akan kembali bertaut, dan peluk, juga kegaduhan di kamar.
Namun, Dharma selalu seperti malaikat. Ia menolak berlaku dekat keji barang sejenak.
Mira akan menolak ajakan itu. Ia mengepalkan tangan keras-keras. Ia berdiri, melepaskan tangannya, lalu mendaratkan sebentuk tamparan pada Dharma. Sambil membungkuk, bibirnya tepat di telinga Dharma, ia berbisik, “Sebaiknya kau sadar. Sebaiknya kau tunjukkan ketulusan itu padaku. Dan aku akan pergi.”
Dharma tentu saja kaget merasakan pipinya mengeras. Ia memandang Mira sejenak, lalu berdiri. “Aku akan membuktikannya.” Ia berkata penuh kemantapan.
Dharma berbalik, ia mencari pisau makan di mejanya. Saat ia temukan pisau itu, ia duduk. Ia mengancingkan jasnya, lalu menusuk dadanya. Dengan begitu, dadanya berlubang, dan darahnya menjadi mengair terjun.
Dharma mencabut pisau merk Knife itu dari dadanya. Ia berlari keluar, mengejar Mira. Ia tersenyum saat tangan si gadis telah berada di dekapannya.
Mira shock mendapati Dharma bersimbah darah. Ia terduduk, di depan lelakinya. Ia tersenyum kecut, lalu menangis. Ia ketakutan. “Bertahanlah!” begitu ucapnya, persis film-film laga dimana si lakon hendak mati.
“Sekarang, aku telah membuktikannya, padamu. Maka, kumohon temuilah aku saat kau pulang.” Dharma berkata lirih. Ia hilang setelah kalimat itu rampung. Sebelum pergi, ia telah mendapatkan kembali yang “lalu” itu.

Mira, ia menjadi sebab yang lain dalam kematian Dharma.
Baca selengkapnya