Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2017

Jalan Dakwah Seorang Jurnalis


Menyoal Jurnalisme Islam

Saya pernah membaca karya Andreas Harsono –Agama Saya Adalah Jurnalisme. Di dalam buku itu, Andreas Harsono menulis sebuah esai tentang Jurnalisme Islam. Isi esai dengan judul Jurnalisme Islam itu ternyata penyangkalan Andreas terhadap Jurnalisme Islam. Saya tidak menganggap dia menghina Jurnalisme Islam, justru sebaliknya. Saya memerhatikan dan menerima apa yang ia tulis dalam salah satu esainya itu. Menurut saya, apa yang Andreas tulis dalam esainya itu adalah sebuah kritik yang musti dipertimbangkan kembali oleh setiap orang yang menganggap Jurnalisme Islam sebagai cabang ilmu Jurnalistik.

Andreas menganggap Jurnalisme Islam sebagai sebuah propaganda. Menurutnya, bila ada Jurnalisme Islam, tentu ada Jurnalisme Kristen, Jurnalisme Budha, Jurnalisme Hindu, Jurnalisme Konghucu dan Jurnalisme agama lainnya. Andreas menuliskan dalam esainya bahwa tidak ada hal yang baru dalam Jurnalisme Islam. Unsur-unsur Jurnalisme Islam tetap sama seperti Jurnalisme kebanyakan, jadi menurut Andreas, Jurnalisme Islam tidak pantas disebut sebagai cabang baru ilmu jurnalistik.

Saya menerima apa yang Andreas tuliskan dalam bukunya itu. Kenapa tidak? Saya merasakannya. Di sini tidak ada Jurnalisme Islam, yang ada Jurnalisme Dakwah. Waktu saya semester tiga, disajikan dua mata kuliah tentang ilmu jurnalistik : Pertama, Pengantar Ilmu Jurnalistik, kedua Jurnalisme Dakwah. Isi kedua mata kuliah itu sama, yang membedakan keduanya hanya label dakwah dan Islam.

Tujuan Jurnalisme Dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah menyebarkan kebenaran. Kebenaran adalah hal yang relatif. Kebenaran bergantung pada ‘dimana’ dan ‘kapan’ kita berdiri. Kebenaran yang berlaku di tanah sunda, tentu berbeda dengan kebenaran yang berlaku di tanah Batak atau tanah Minang, tetapi semua daerah memiliki satu kebenaran yang sama. Semua daerah pasti menganggap bahwa membunuh, mencuri dan korupsi adalah hal yang buruk.

Selain menyebarkan kebenaran, tujuan jurnalisme dakwah dan jurnalisme pada umumnya adalah membentuk masyarakat yang baik. Ada sebuah jargon yang mengatakan semakin baik kualitas jurnalistik di suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas masyarakatnya. Siapapun yang menggeluti dunia jurnalistik tentu akan sepakat dengan hal ini.

Menyikapi jurnalisme islam dan jurnalisme pada umumnya, saya teringat pada profesi dunia ini. Profesi dunia jurnalistik salah satunya adalah wartawan. Wartawan adalah profesi dunia jurnalistik yang mengharuskan pengampunya tidak mengenal ruang dan waktu. Ia tidak memiliki jam kerja, tidak mengenal lelah serta mengharuskan pengampu profesi ini tidak mengeluh. Selain itu, seorang wartawan juga harus mengabarkan sesuatu secara benar. Jika pada awal kemunculannya seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa apa adanya, sekarang seorang wartawan mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan sebuah sudut pandang. Itulah wartawan.

Apakah ada benang merah antara wartawan dengan dunia dakwah? Tentu ada. Seorang wartawan tidak beda halnya dengan seorang da’i. Ia bekerja menyajikan kabar dengan panduan kebenaran. Bill Kovach dan Tom Rossentiel dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalistik yang disadur oleh Andreas Harsono mengatakan bahwa seorang wartawan musti mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran yang dianutnya. Kebenaran ini yang menuntunnya menjadi seorang da’i. Pendapat dua pakar jurnalistik Amerika ini tentu menegaskan bahwa wartawan dengan da’I memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyebarkan kebenaran.

Tidak hanya pendapat kedua pakar itu, saya juga menemukan sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa seorang wartawan adalah seorang da’i. Pendapat ini saya sadur dari buku Jurnalisme Universal karya Suf Kasman. Dalam buku ini, ia menjelaskan ayat pertama surat Al-qalam. Menurutnya, arti kata Nun dalam ayat pertama surat itu adalah tinta dan kata kalimat selanjutnya dalam ayat itu ia tafsirkan sebagai tugas seorang jurnalis atau wartawan. Suf Kasman menganggap bahwa ayat ini adalah ayat tentang dunia jurnalistik. Suf Kasman berpendapat sama seperti halnya Bill Kovach dan Tom Rossentiel, bahwa seorang wartawan harus mengabarkan suatu peristiwa berdasarkan kebenaran universal yang berlaku di masyarakat.

Apakah cukup dengan hanya mengabarkan dengan berpegang teguh pada kebenaran? Saya rasa tidak. Saya mengamini Sembilan Elemen Jurnalistik yang dimiliki Kovach. Salah satu dari kesembilan elemen itu adalah mendengarkan hati nurani. Seorang wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri dalam pengabaran yang ia lakukan, karena hati nurani akan tahu hal yang baik dan buruk.

Saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik multi-agama di Gereja Kristen Indonesia medio November 2012 lalu. Panitia pelatihan itu mendatangkan orang Kompas yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia jurnalistik. Ia adalah Peppih Nugraha. Kang Peppih, begitu ia disapa di pelatihan, pernah bertugas di Poso sewaktu terjadi konflik antara Islam-Kristen di sana. Sebagai seorang manusia biasa, ia mengaku takut, tapi pekerjaannya sebagai wartawan memaksanya untuk bertahan. Ia melihat huru hara, darah yang tertumpah dan tangisan di sana sini. Kala itu, Peppih melakukan pengabaran berdasarkan rasa kemanusiaan dan apa yang ia lihat di sana. Ia menulis berita tentang kesedihan anak-anak Poso, korban kejadian, nasib mereka selama konflik, dan sikap serta kegagalan pemerintah menenangkan konflik itu. Salah satu beritanya yang menampar pemerintah waktu itu adalah kegagalan putri presiden Megawati Soekarnoputri mendarat di tanah Poso. Tulisannya berdampak signifikan terhadap pemerintah dan konflik. Pasca kegagalan pendaratan itu, pemerintah langsung menginstruksikan ABRI untuk bertolak ke Poso guna mengamankan konflik.

Dari pengalaman kang Peppih tersebut, saya artikan bahwa mendengarkan hati nuraninya sendiri salah satunya adalah membiarkan diri kita bekerja atas dasar rasa kemanusiaan. Mayarakat kaya akan rasa kemanusiaan. Banyak orang dirugikan karena keputusan keliru pemerintah, banyak orang menangis karena perilaku pemerintah yang senonoh dan banyak orang tertindas karena kebijakan pemerintah. Orang tertindas, orang yang dirugikan, dan orang yang menangis ada di masyarakat. Di sini, mereka seharusnya dibela oleh seorang wartawan lewat tulisan-tulisannya yang dibaca banyak orang. Ketika melakukan hal ini, wartawan bekerja atas dasar rasa kemanusiaan yang besar.

Wartawan seperti halnya da’I, mereka adalah tonggak perubahan. Wartawan dan da’I sama-sama mengubah kebiasaan buruk menjadi baik, hitam menjadi putih, dan bias menjadi jelas. Masyarakat yang gemar membuang sampah sembarangan akan berubah karena wartawan.

Wartawan berdakwah melalui tulisan. Ia ibarat korek yang memantik api melalui tulisannya yang dimuat di surat kabar dan dibaca oleh khalayak yang heterogen. Cakupan dakwah seorang wartawan yang heterogen dan tidak terbatas ruang dan waktu menjadikannya lebih berpegaruh ketimbang da’I yang berdakwah dari panggung ke panggung. Semakin berkualitas tulisan dan kabar yang disajikan seorang wartawan, semakin besar pula pengaruhnya.

Laku dakwah seorang wartawan dan da’I sebenarnya sama. Keduanya sama-sama bekerja atas dasar kebenaran, rasa kemanusiaan, dan mengubah sesuatu. Hal yang membedakan keduanya hanya nama dan media. Perpektif masyarakat kita biasa menyebut orang yang menyeru dari panggung ke panggung sebagai da’I, sedangkan wartawan yang menyeru melalui tulisannya tetap disebut wartawan. Kemudian media dakwah keduanya yang berbeda pun membuat masyarakat kita membedakan keduanya, tetapi hakikatnya baik wartawan maupun da’I adalah sama. Hanya jalan yang membedakan laku dakwah keduanya.
Baca selengkapnya

Jurnalis : Pemantik Cahaya


Nun, Walqalami wama Yasturuun

Nun, Demi Qalam dan apa yang mereka tuliskan… (Q.S Al-Qalam)

Ayat ini mungkin tak asing bagi sebagian orang, khususnya mereka yang bergelut di dunia tinta dan kertas. Kuli Tinta, begitulah ungkapan yang cukup pantas untuk disematkan kepada mereka yang bergelut di dunia jurnalistik. Dunia jurnalistik adalah dunia yang erat kaitannya dengan tulis dan baca. Mereka ibarat langit dan bumi yang tak bisa dipisahkan. Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang teramat mudah. Sejak sekolah dasar, setiap kepala sudah diajarkan untuk menulis, membaca dan mengabarkan, bahkan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar, beberapa orang tua mulai mengajari anak mereka menjadi seorang ‘jurnalis’. Dunia jurnalistik sangat dekat dengan kita, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun.

Dua ayat yang saya sajikan di atas memuat tentang menulis atau menjadi jurnalis –setidaknya itulah kesimpulan pertama saya. Dalam buku Jurnalisme Universal, Suf Kasman, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Qalam adalah mereka yang menulis/jurnalis, sedangkan nun adalah tinta. Kegiatan jurnalistik erat kaitannya dengan menulis, menulis hampir selalu membutuhkan tinta, sebab tinta adalah senjata gerombolan pemantik cahaya ini. Menjadi jurnalis merupakan pekerjaan yang mudah, siapapun dari kita adalah jurnalis, dimanapun, dan bagaimana pun keadaannya.

Pekerjaan seorang jurnalis adalah mencatat, menulis dan mengabarkan. Sungguh, pekerjaan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang asyik tapi tak mengenal waktu, menguras pikiran dan tenaga, sesekali menguras dompet. Pekerjaan ini memang mudah, bila belum masuk pada profesionalisme, lain halnya bila sudah professional. Tetapi, di sini saya tidak akan membahas tentang kiat-kiat menjadi seorang jurnalis professional yang patuh peraturan dan disiplin.

Mencatat, menulis dan mengabarkan mesti dan selalu harus dihubungkan dengan membaca. Tulisan seorang jurnalis mesti dibaca, karena tulisan yang belum pernah dibaca takkan pernah diketahui keberadaannya serta  informasi yang terkandung di dalamnya. Mustahil Aristoteles akan dikenal saat ini bila tulisannya tidak pernah dibaca oleh siapapun. Menulis mesti dan selalu berhubungan dengan membaca, keduanya ber-simbiosis mutualisme ria. Pada proses inilah, tulisan seorang jurnalis akan mengalami fase paling menentukan. Pada fase pembacaan ini, seorang pembaca akan mengalami internalisasi nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam dirinya sebelum mengambil sikap terhadap sebuah tulisan. Tulisan yang berisi kebaikan tidak selamanya berdampak baik, tetapi tulisan yang berisi keburukan tetap berjalan di jalurnya.

Dampak sebuah tulisan memang berada jauh di luar jangkauan seorang jurnalis, sehebat apapun. Karena mereka tidak mengenal pembacanya satu persatu. Begini, tulisan seorang jurnalis yang telah disebarkan dan dibaca khalayak, entah mengandung kebaikan, keburukan atau keduanya sekaligus, akan menghadirkan kebaikan dan keburukan. Tulisan yang berisi pemikiran akan mencerahkan bagi yang menyetujuinya, tulisan yang berisi keburukan atau sesuatu yang menyesatkan akan menimbulkan keburukan bagi yang mengamininya. Tulisan selalu mesti dibaca, agar tak sia-sia dan menjadi pahala berkepanjangan bila itu baik. Baik dan buruk adalah dua hal abstrak. Baik dan buruk merupakan dampak/efek dari tulisan seseorang. Meski begitu, Keduanya telah menjadi resiko dalam pekerjaan apapun bahkan jurnalis. Jika seseorang menuliskan kebaikan, kemudian dibaca, diamini dan diekspresikan oleh seseorang maka akan menimbulkan sebuah kebaikan. Tulisannya akan senantiasa menjadi sebuah tabungan kebaikan. Sebaliknya, bila tulisan berisi keburukan, diamini, diimplementasikan dan menimbulkan keburukan. Tulisannya akan senantiasa menjadi tabungan dosa. Baik dan buruk dampak yang ditimbulkan merupakan resiko lain yang harus dihadapi dalam pekerjaan asyik ini, tinggal bagaimana sikap setiap calon jurnalis dan jurnalis betulan dalam menyajikan sebuah informasi kepada khalayak.

Konsekuensi di atas mudah sulit untuk dihadapi, akan tetapi tidak mustahil untuk dilakukan. Setiap jurnalis pasti mampu menyajikan beragam kebaikan dan pencerahan dalam tulisannya. Ucapan seseorang yang berisi keburukan akan menjadi baik apabila dikemas secara cantik oleh seorang jurnalis, sebab tugas seorang jurnalis tidak hanya membiarkan informasi secara telanjang diterima masyarakat, tetapi sekali lagi, dikemas secara cantik, dengan bahasa yang tidak provokatif.

Jika jurnalis menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat, ia adalah pemantik cahaya. Anda setuju?
Baca selengkapnya

Selasa, 18 April 2017

Bau Mulut dan Efektifitas Komunikasi


Nafas, apakah hal kecil ini dapat mempengaruhi efektifitas komunikasi yang dilakukan? satu pertanyaan besar dari satu hal kecil yang sering kita abaikan saat berkomunikasi.

Nafas, sejatinya adalah anugerah dari yang Maha Kuasa. tanpa nafas seseorang dapat dipastikan kehilangan eksistensinya. Bukan hanya sejenak, tetapi selama-lamanya. Nilai dari kegunaan nafas dalam kehidupan sehari-hari sungguh tak ternilai. Setiap orang memiliki nafas, namun hanya sedikit orang yang mensyukuri nafas yang mereka miliki.

Catatan ini hanya sebagai wacana. Penulis hanya ingin menuangkan ide yang memberontak dalam pikirannya dan berbagi gagasan dengan rekan-rekan pembaca melalui catatan fesbuk.

Nafas/bau mulut memang hal kecil, kegiatan yang sering bahkan sangat sering dilakukan. entah dalam komunikasi antar-personal, intra-personal, kelompok kecil, bahkan komunikasi massa sekalipun (meski dalam parktiknya, komunikator dalam komunikasi massa tidak dapat tercium bau nafasnya oleh komunikan). Nafas, adalah elemen yang berpengaruh dalam komunikasi.

Efektifitas komunikasi sedikit banyaknya akan dipengaruhi oleh nafas. Harum atau tidaknya nafas akan mempengaruhi  sistim nilai komunikan saat menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator, terkhusus dalam komunikasi antar-pribadi. Mungkin nafas dapat dimasukkan ke dalam noise dalam proses komunikasi antar pribadi. 

tatap muka dalam komunikasi antar pribadi akan mendekatkan hidung komunikan pada komunikator. Biasanya proses ini dilakukan dalam kegiatan konseling, penyuluhan, diskusi, bobogohan, bahkan menagih hutang sekalipun. Semua yang disebutkan baru saja oleh penulis, di dalamnya terdapat tatap muka, entah dekat atau jauh. Proses tatap muka inilah yang akhirnya membuat membuat bau nafas/mulut tercium. Harum menetap, bau bisa pergi.

Pernah melihat iklan mulutmu harimaumu di televisi?, setidaknya iklan itu mengatakan,"pasta gigi yang digunakan akan mempengaruhi bau nafas yang berhembus dari mulut anda, maka gunakanlah pasta gigi kami". Kutipan tersebut memang lebih bernada iklan, tetapi pesan yang disampaikan dalam iklan pasta gigi itu setidaknya terdapat sedikit kebenaran relatif tentang pasta gigi membuat nafas anda bau atau harum. Pasta gigi dan obat kumur apa yang anda gunakan hari ini?

Selain elemen patos, logos dan etos yang dipaparkan oleh Aristoteles beribu-ribu tahun lalu, efektifitas komunikasi dipengaruhi oleh nafas? jawaban sementara dari penulis adalah, ya. Bau nafas yang keluar saat berbicara-apalagi berhadapan-dengan lawan bicara akan membuka atau menutup sistim nilai dari komunikan. Peserta, dapat menolak isi dari pesan yang diberikan oleh komunikator jika ternyata ia mendapati si komunikator itu bermulut/bernafas bau, dan sebaliknya jika nafasnya harum.

Maka, sedikit solusi yang dapat penulis berikan adalah cek terlebih dahulu bau mulut/nafas anda saat hendak berkomunikasi, bahkan dengan kekasih pembaca sekalipun. Mengecek bau mulut anda setidaknya akan menambah sedikit kesempatan efektifitas komunikasi anda. satu lagi, terlalu percaya diri tanpa mengecek apakah mulut anda bau atau tidak, penulis nilai kurang bijak. bagaimana pun, harum mulut anda akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan semoga menerima pesan yang anda sampaikan. Mari cek bau mulut anda sebelum berbicara!
Baca selengkapnya

Memandang Perilaku Seorang Manusia


Manusia adalah mahluk sosial, setidaknya itulah salah satu teori yang sering dikemukakan orang-orang dikelasku. Memang benar, manusia adalah mahluk sosial yang harus bahkan membutuhkan teman untuk menjalani hidupnya walaupun manusia mempunyai sifat mandiri yang tertanam dalam dirinya.

Dalam kehidupan sosialnya, manusia tidak bisa menghindari interaksi yang terjadi dengan sesamanya, meskipun sedikit. Interaksi yang terjadi sering menimbulkan beberapa permasalahan yang komplek, dan tak jarang menusia bergontok-gontokan satu sama lain karena hal itu.

Manusia yang secara lahiriah memiliki sifat egois, selalu ingin menang sendiri dan tak peduli pada apa yang terjadi terhadap sesamanya. Sifat egois ini terkadang menjadi kaca penyekat bagi setiap manusia untuk menilai jenisnya dan memandang darimana mereka berasal tanpa memandang apa yang ia lakukan. Egoisme inilah yang menjadi pemicu dari beberapa permasalahan sosial yang sering terjadi sampai saat ini.

Sebenarnya, tidak perlu memandang darimana orang itu berasal saat menilainya, tetapi penilaian akan terbentuk dengan sendirinya saat interaksi antara kita dengan orang itu terjadi. Sisi baik seseorang akan muncul, sisi buruk seseorang akan muncul begitu pula penilaian kita.

Saya kira tidak bijak bila kita menjustifikasi seseorang itu buruk hanya dengan mengetahui darimana ia berasal dan agama apa yang ia anut tanpa melihat sisi baiknya dalam masyarakat dimana ia tinggal. Ini pikiran yang kerdil, sungguh pikiran yang sangat kerdil. Diceritakan dalam satu kisah bahwa Rasulullah SAW pernah melepaskan seorang lelaki yang tidak beriman sedang ia adalah tawanan perang kaum muslimin saat itu, beliau melakukannya karena lelaki itu sering melakukan perbuatan yang baik pada sesamanya dan berakhlak mulia. Rasulullah menyukai orang yang berbuat baik, tanpa memandang ia berasal darimana dan beragama apa.

Kisah tersebut mencerminkan kalau ternyata pintu kebaikan itu tidak terbuka hanya bagi orang yang beragama tertentu saja, melainkan bagi setiap orang, tanpa melihat latar belakangnya. Jika cara pandang kita sama seperti yang dicontohkan rasul, tentu takkan ada lagi sekat yang memisahkan kita, dan tatkala sekat itu telah menghilang, bukankah dunia ini menjadi indah???
Baca selengkapnya

Senin, 03 April 2017

Anomali Pendidikan di Indonesia

gambar via Unsplash
Muncul satu lagi kasus memalukan di dunia pendidikan negeri ini. Pelecehan pada anak berusia lima tahun yang terjadi di Jakarta International School (JIS). Kasus ini mencoreng, bukan hanya nama JIS, tetapi juga nama Kemendikbud, dan secara umum wajah pendidikan di negeri ini.
Pendidikan, asal katanya adalah didik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata didik diartikan sebagai upaya memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Selaras dengan yang diungkapkan R.A Kartini, bahwa seorang ningrat adalah dia yang pikirannya cerdas dan budi pekertinya baik. Seharusnya memang seperti itu, tapi pelbagai fenomena pendidikan yang terjadi di negeri ini justru berlangsung sebaliknya, dan atau tidak seimbang. Kebanyakan hanya fokus pada pengembangan kecerdasan pikiran saja.
Bukan hanya pada pendidik, tapi juga para orang tua calon peserta didik. Saya heran, di zaman yang serba instan ini, banyak orang mencari pendidikan hanya untuk mengangkat status sosial keluarganya. Saat anaknya sekolah di sekolah mahal dan berkelas, orang tua akan merasa bangga. Kelas sosialnya akan naik. Keluarganya jadi makin terpandang. Pemilihan pendidikan ini bukan didasarkan pada kebutuhan anak, akan tetapi pada sesuatu yang justru tidak normal.
Bukan hanya itu, sekolah-sekolah di negeri ini, terutama di kota besar, saya rasa lebih mementingkan status sosial mereka. Dengan menyediakan gedung pencakar langit, seragam berbahan mewah dan fasilitas pendukung kelas satu, diharapkan banyak orang tua peserta didik yang tertarik. Semakin bagus fasilitas yang dimiliki, akan semakin tinggi pula kelas sosial yang dimiliki sekolah tersebut.
Selain itu, institusi-institusi pendidikan formal yang disebut sekolah lebih memerhatikan kecerdasan pikiran ketimbang kecerdasan moral. Mempekerjakan pendidik dengan gelar a, b, dan c, juga peragkat pendidikan lain yang berpangkat a, b, dan c tanpa memerhatikan aspek moral yang dimiliki. Hasilnya, pelecehan pada peserta didik terjadi dimana-mana. Guru-guru mencabuli anak didiknya, penjaga sekolah meniduri siswi dan lain sebagainya.
Fenomena ini terjadi karena pendidikan dimaknai secara dangkal. Sebatas kata benda yang terbentuk dari kata didik. Orang tua memaknainya sebagai salah satu media untuk mencapai kelas sosial yang tinggi, dan sekolah memaknainya sebagai komoditi perdagangan alias dijadikan industri untuk meraup keuntungan yang besar. Dengan membangun gedung-gedung sekolah yang mencakar langit dan menyediakan fasilitas kelas satu. Memang dalam membentuk kecerdasan pikiran diperlukan infrastruktur pendukung kelas satu, akan tetapi aspek moral jangan sampai dilupakan. Saya kira hal itu pula lah yang kira terjadi di Jakarta International School.

Dari pendidikan, diharapkan peserta didik nantinya memiliki  budi pekerti yang baik dan kecerdasan pikiran yang baik pula. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan bimbingan serta latihan dengan intensitas yang tinggi, dimana diperlukan pendidik dengan kualitas pikiran dan moral yang baik. Orang tua pun membantu dalam tercapainya tujuan ini, karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak.

(artikel ini ditulis saat ramai kasus Jakarta International School antara tahun 2013 dan 2014)
Baca selengkapnya

3 Faktor dalam Berdo'a

gambar via Unsplash by Emma van Sant
Siapa yang tidak pernah berkomunikasi dengan Tuhannya? Tidak ada. Bahkan seorang yang mengakui atheis pun saya yakini ia pernah melakukan komunikasi antara dirinya dengan Sang Pencipta.
Cara berkomunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Nyeletuk, bergumam, mendengus, kesal, ramah, tersenyum, ritual ibadah dan beragam cara yang selalu dilakukan oleh manusia, disadari ataupun tidak, terjadwal atau tidak.
Dalam islam, kita mengenal ibadah lima waktu yang disebut Shalat. Shalat lima waktu menjadi salah satu sandaran manusia untuk berhubungan dengan Allah. Shalat lima waktu merupakan ibadah wajib yang mesti dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagai upaya pernghormatan, pemuliaan dan wujud rasa syukur atas segala karunia-Nya. Selain shalat lima waktu, umat islam bisa juga menambahkan shalat-shalat sunnah dalam rangka menjalin hubungan dengan Tuhannya. Biasanya selesai shalat seseorang akan menengadahkan tangannya sedikit ke atas dan mengungkapkan apa yang ia harapkan, rindukan, diinginkan, bahkan tidak jarang dengan nada memaksa.
Berdo’a, itulah nama yang kita kenal untuk menggambarkan proses memohon yang lebih intim antara mahluk dengan penciptanya. Selepas shalat, umat islam memanjatkan do’a kepada Allah.
Berdo’a menurut saya bisa disebut sebagai proses komunikasi. Di dalam do’a seseorang mengutarakan keinginan untuk dirinya, orang tuanya, hari esok, rezeki dan lain sebagainya. Kebanyakan orang berdo’a hanya sehabis shalat saja, tetapi sejatinya berdo’a itu adalah pekerjaan tiga organ tubuh yang utama, yaitu : hati, lisan, dan badan.
Seperti diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi, K.H Syukriadi Sambas dalam selembar kertas ujian akhir semester bahwa berdo’a adalah pekerjaan hati, lisan dan badan. Ketiga organ tubuh utama manusia itu melakukan hal-hal yang memungkinkan untuk membuat do’a itu dikabulkan ataupun ditolak bahkan dapat menimbulkan do’a yang baru.
Dalam pekerjaan badan misalnya, badan beraktifitas sehari-hari –perilaku- memperlihatkan apakah senandung-senandung do’a yang terucap itu memang benar-benar dibutuhkan dan akan memberi manfaat bagi si pemunajat do’a itu sendiri.
Kemudian hati, organ tubuh manusia tempat mengetahui kebaikan ini juga menjadi salah satu faktor penentu dan penguat do’a yang dipanjatkan. Bila hati meyakini apa yang dipanjatkan, insya allah do’a yang diungkapkan dalam munajat siang-malam akan terkabul. Allah tidak pernah menyalahkan manusia yang ragu pada do’anya, tetapi sedikit keraguan dapat membatalkan semuanya.
Lalu yang paling sulit untuk ditahan agar tidak nyeleneh adalah lisan. Pepatah yang mengatakan lisan adalah pedang tanpa mata memang benar adanya. Kaum muslimin sering melupakan hal ini. Usai shalat ia memanjatkan hal-hal yang ia rindukan, tetapi dalam perkataan sehari-harin ia tidak mampu menjaga perkataannya dan mengumpat karunia Tuhan, tidak jarang pula mengucapkan umpatan. Hal ini dapat menjadi bomerang tersendiri bagi si pemunajat do’a, sebab umpatan-umpatan tak terkendali itu sebenarnya menjadi do’a tanpa ia sadari.
Berdo’a adalah salah satu ritual sakral dan proses komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya. Ketiga faktor di atas adalah media berdo’a seorang hamba pada tuhannya, Jadi alangkah lebih baik jika ketiga organ tubuh utama manusia yang telah penulis sebutkan di atas dijaga dengan baik agar tidak terlalu sering keluar dari etika manusia terhadap Tuhannya.

Sedikit banyaknya celetukan-celetukan manusia dalam kehidupan sehari-harinya menjadi do’a yang tak terduga.
Baca selengkapnya